Nemu Harta Karun

Yang pasti, yang nemu bukan saya hehehe. Ibu saya pernah bercerita, saat suatu kali beliau bertemu dengan pembeli rumah pertama kami di Cirebon, kami sudah pindah ke Bekasi, si pembeli mengaku telah menemukan harta karun dua karung besar di loteng rumah. Ibu sangat terkejut karena merasa tidak punya harta karun apa-apa, apalagi pake disimpen di loteng segala. Si pembeli tertawa dan bilang bahwa itu isinya buku semua, anaknya benar2 kegirangan mendapat hadiah segitu banyak. Ia bahkan bertanya bolehkah menyimpan harta karun itu. Ibu saya yang baik hati tentu membolehkan.

Satu-satunya yang sedikit kesal dengan cerita ibu adalah saya. Betul kata si pembeli, bahwa itu adalah harta karun. Majalah Bobo periode dua tahun. Saya waktu itu masih kelas 2 SD dan nggak tahu kenapa majalah2 itu menghilang setelah pindahan. Satu-satunya tersangka adalah bapak, karena bapak tipe yang nggak mau repot, pasti beliau yang menyembunyikannya di loteng sebelum saya sadar dan memaksa membawa semua  bundelan itu.

Mungkin kami memang sedikit beruntung dibanding anak-anak kecil lain waktu itu, tapi saya pikir nggak juga. Karena Bapak hanya bersedia berlangganan Majalah Bobo dan kami sama sekali tidak tahu apa itu Lima Sekawan, Trio Detektif, Hans Christian Andersen, Enid Blyton, Agatha Christie, dsb. Kami juga nggak pernah diajak jalan-jalan ke toko buku. Perpustakaan sekolah pun isinya hanya buku-buku jadul macam Layar Terkembang, Siti Nurbaya yang saya nggak suka, atau Majalah si Kuncung yang merupakan majalah langganan perpustakaan. Acara tivi masih terbatas, sementara kami lumayan tidak boleh keluyuran kemana-mana meski bersama teman sekolah. Informasi benar-benar terbatas. Sangat tidak menggairahkan.
Hingga saya pertama kali masuk SMP. Bapak memberi hadiah jalan-jalan ke Gramedia dan boleh memilih satu buku apa saja. Wuih, pengalaman itu begitu membekas. Betapa adrenalin saya terpacu untuk mencari satu buku terbaik di antara lautan buku yang saya tak tahu, semuanya kelihatan sangat menggoda. Betapa dunia ini luas terbentang dan yang saya tahu hanyalah Majalah Bobo. Setelah pergulatan cukup lama, yang saya pilih akhirnya adalah sebuah buku tebal berwarna hijau pupus, dengan cover bayangan seorang pria bertopi dan cerutu di mulutnya. The Return of Sherlock Holmes. Definitely my beloved first book. Suatu hari saya akan membahasnya secara khusus di sini.

Pengalaman itu nyaris seperti trauma. Bahwa saya bertekad untuk tidak mengulangi kealpaan Bapak. Membawa anaknya ke toko buku baru pada usia sedewasa itu. Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada Ozza. Saya bahkan memilihkan buku pertamanya sebelum ia sempat bisa. Hehehe. Saat itu ia berusia enam bulan. Sudah bisa duduk dan menikmati dongeng. Serial Mengenal Binatang karya Sterling adalah buku pertamanya. Ia sangat menyukainya. Hasilnya kata pertamanya adalah ku-da. Bukan ibu, mama atau ayah. Hihihi.

Buku-buku berikutnya tetap saya yang memilihkan hingga tiba saatnya Ozza TK Besar. Setiap ke toko buku, ia membuka-buka buku, menimbang-nimbang mana yang ia pilih dengan sangat percaya diri. Kesukaannya adalah buku-buku yang aneh, yang ada mainannya. Entah itu pop-up book, buku bersenter, atau buku ajaib lainnya yang saya bahkan heran kok ada penulis sekreatif itu. Sementara Naula meski belum sekolah, ia ingin kelihatan sudah besar seperti kakaknya. Jadi ia juga sering memilih sendiri bukunya. Kesukaannya adalah buku-buku yang cantik atau buku yang bercover binatang selembut boneka-bonekanya. Hihihi. Pokoknya saya berikrar: kedua krucil ini akan saya bentuk menjadi monster pemburu harta karun yang rakus, deh! :p

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s