The Social Network

Hehehe believe me or not, saya baru bisa nonton film The Social Network minggu kemaren! Nyewa di Odiva. The main factor is film bagus ini nggak main di bioskop lokal! Payah. Apa saya yang nggak gaul yah? Hihihi mungkin sudah setahun saya sudah nggak pernah ke bioskop lagi, kecuali bioskop di Balikpapan maybe, coz di Samarinda kebanyakan film2nya adalah hantu2 lokal yang nggak jelas, wkwkwk. 

ImageOke, back to Mark Zuckerberg. Film ini kan memang ngebahas tentang dia, si pencipta Facebook yang fenomenal sekaligus penuh kontroversi, ternyata. Hehehe, saya pikir kontroversinya Facebook itu hanya karena ajang jaringan sosial ini mengobrak-abrik dunia privasi, bahwa semua orang berhak menjadi artis, semua orang berhak melaporkan setiap detik setiap aktifitas setiap momen, sampai semua orang kerasukan dan akhirnya nggak tahu lagi apa artinya limit. 

Nah, yang dimaksud kontroversi di film ini adalah ternyata Mark dituntut sahabatnya sendiri yang membiayai pendanaannya pertama kali, Eduardo Saverin, karena persoalan pembagian saham Facebook. Selain itu Mark juga dituntut oleh sekelompok mahasiswa kaya yang menuduhnya mencuri ide Facebook dari mereka.

Film dibawakan dengan lusinan kalimat rumit dan cepat, keluar dari para aktornya, terutama si pemeran Mark. Mungkin supaya kelihatan jenius. Sedari adegan pertama pun saya sudah dibuat bingung, yaitu adegan saat Mark tengah berkencan dengan pacarnya, Erica Albright. Sebagai orang jenius tentu saja ia sering mengatakan apa adanya apa yang dipikirkannya, jadi beberapa orang sering menganggapnya sombong, termasuk pacarnya ini. Si Mark juga sih, hehehe. Dia berbicara seperti roket, topiknya ganti2 cepat banget, terus meremehkan kemampuan inteletual si cewek, meremehkan ini dan itu, tentu saja secara tak sadar, sehingga si cewek memutuskannya. Mark bingung dan jengkel luar biasa. Jadi ia pulang dan langsung mem-posting di blog pribadinya dengan memaki2 si cewek.

Secara bersamaan ia juga membuat aplikasi pemilihan cewek kampus paling sexy dengan meng-hijack data kepegawaian kampus, mmm… kalau nggak salah inget namanya facemash.com deh. Ditemani sahabatnya si Saverin, ia mendownload ribuan foto semua cewek di kampusnya (ia dan ceweknya itu satu kampus, di Harvard, lalu memasangnya di aplikasi dan mengirimkannya secara berantai via email kampus. Aplikasi ini saking menariknya diakses ribuan mahasiswa dalam semalam dan akhirnya membuat sistem jaringan kampus down. Wkwkwk!

Nah, aplikasi ini membuatnya terkenal dalam semalam dan menarik perhatian sekelompok mahasiswa kaya, Winklevoss bersaudara, yang punya ide ingin membuat aplikasi jejaring sosial khusus di kampus. Mereka minta bantuan Mark untuk membuat programnya. Mark said ok. Tapi Mark ujung2nya nggak pernah sempat menemui mereka, sementara ia membuat sendiri programnya berjudul The Facebook. Ia pun minta tolong pada Saverin untuk membiayai programnya sejumlah seribu dolar. Kenapa ia menemui Saverin dan bukannya kelompok mahasiswa kaya itu? Karena Saverin adalah ketua kelompok investasi mahasiswa di kampus, sementara lebih aman berbisnis dengan teman yang sudah dikenalnya daripada orang lain. Saverin setuju dengan syarat sahamnya adalah 30-70. Mark said ok again.

Programnya makin meluas tak hanya di kampusnya, tapi juga di kampus2 Amrik lainnya. Mereka berdua memang berencana mempromosikannya ke semua email yang ber-akun edu. Saverin pun kembali menambahkan sumbangannya sebesar delapan ribu dolar. Konflik dimulai saat Mark berkenalan dengan Sean Parker, pendiri Napster, situs download mp3 kalau nggak salah, yang akhirnya situs itu dijual coz dapat tuntutan dari artis2 penyanyi. Saverin nggak begitu suka dengan kepribadian Parker yang cenderung ugal2an. Tapi Mark malah menganggapnya luar biasa, apalagi si Parker malah menyumbang dana yang lebih besar, bahkan memperkenalkannya ke sponsor dana raksasa lainnya. Oya, si Parker ini yang mengusulkan kalau ‘The’-nya dihilangkan saja, cukup ‘Facebook’.

Ujung2nya bisa ditebak, para sponsor dana itu rebutan saham Facebook. Saverin pun akhirnya ditendang habis2an setelah tahu bahwa saham terakhirnya hanya 0,03 persen, jauh dari perjanjian awal antara sahabat, 30-70. Sementara saham Mark tetap 70, Sean 10 dan sisanya adalah si sponsor raksasa. Wiiih… kejamnya dunia bisnis!

Sepanjang film hebatnya tidak banyak ada penjelasan dari Mark Zuckerberg-nya sendiri kenapa dia bertindak begini dan begitu, dia hanya berkelit dan berkelit saat ditanya ini itu di persidangan awal. Mark pun tadinya tetap nggak mau kalah sama si Saverin dan Winklevoss, hingga dinasehati oleh seorang petugas pengadilan perempuan, bahwa jika tuntutan ini akan sampai di pengadilan berjuri, ia akan kalah karena juri akan percaya kalau semuanya adalah rekayasa Mark sendiri, kenapa Winklevoss tidak dihubungi atau kenapa Saverin tahu2 ditendang. Apalagi kisah awal Facebook yang bermula dari pelampiasan emosi tingkat tinggi Mark terhadap sang pacar, dengan memposting makian2 kasar di blog pribadinya, bahkan membuat facemash.com secara bersamaan. Akhirnya sidang memenangkan Winklevoss bersaudara dengan memberi mereka berapa ya, mmm… sepuluh ribu dolar kayaknya, untuk ide mereka. Sementara Saverin tidak diketahui dibayar berapa oleh Facebook, tapi dia tetap dicantumkan sebagai pendiri Facebook. Hahaha, makin agree saja nih saya, kalau di balik kesuksesan seseorang ada saja yang namanya egoisme dan keserakahan *hehehe, begini nih omongan orang miskin yang bisanya cuman sirik, wkwkwk!*

Sayangnya film ini katanya sih bukan fakta sebenarnya, cuman adaptasi dari novelnya Ben Mezrich, The Accidental Billionaires. Disutradarai oleh David Fincher, didukung Jesse Eisenberg sebagai pemeran Mark *mirip banget, yak!*, film ini sukses jadi film Box Office di tahun 2010. Mark Zuckerberg sih hanya menganggap film ini akan jadi bahan lawakan team Facebook. Dia juga banyak berkelitnya pas diwawancara sama si Oprah di acaranya. Kalau saya sih percaya kalau itu cerita sebenarnya, hehehe, soalnya tahu kan orang yang banyak berkelit itu tabiatnya gimana? Hehehe…

Oya, ada juga yang nyangkut di kepala saya tentang tagline film: “You don’t get to 500 million friends without making a few enemies”. Kalau merujuk tagline itu, mungkin seharusnya si Mark membuat fitur ‘dislike’ di facebook, hehehe! Lumayan tuh, buat nyentil orang-orang aneh yang suka buat status nggak genah, wkwkwk!

Eh, ada satu lagi deh, hihihi *keliatan nih rakus, maunya nambah mulu*. Adegan terakhir film ini kan adegan yang menyedihkan, menggambarkan si Mark yang tengah me-refresh terus2an wall facebook-nya Erica Albright, si mantan pacar, demi mencari tahu detik per detik apa yang tengah dilakukan si Erica dengan Facebook-nya. Hahaha! Pantesan saja aplikasi abal2 semacam aplikasi melihat siapa pengunjung wall kita itu selamanya akan menjadi aplikasi abal2. Nggak mungkin kan seorang Mark Zuckerberg membiarkan dirinya bego tercatat di aplikasinya Erica sebagai pengunjungnya yang paling intensif?! Hehehe! Eh, tapi yang bisa buka wall orang lain meski si orang itu nggak masuk di friendlist-nya itu cuman Mark saja kali yak? Kita-kita kok nggak bisa sih, Mark? *Hubby: Emang kamu mau ngintipin wall siapa sih, hunny? Saya: uhuk…uhuk…uhuk (mendadak batuk)* =))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s