Personal Report “Life of Pi”

Preview, review, or even resensi sebuah film adalah sesuatu yang bisa dijadikan pegangan calon penonton untuk menilai apakah worth it atau nggak si film untuk ditonton. Terkadang gue juga suka sih bacanya, tapi yah cuman sekedar aja, coz sejujurnya gue nggak terlalu suka tulisan yang nanggung, hehehe. Mereka cuman bikin kita penasaran padahal nggak semua film itu bagus. Mereka juga nggak personal, sementara gue lebih suka apa adanya. Jadi kalau gue disuruh mengulas sebuah film, well, sorry guys, maybe you get bored atau mungkin bahkan kalian nggak jadi nonton filmnya, hehehe. Coz gue biasanya penuh detail, and off course, personal.

richard parker

Kali ini giliran Life of Pi. Gue udah nonton ini film sejak minggu lalu. Harusnya sih setelah nonton langsung nulis, supaya personalnya kuat dan fresh, tapi gue mesti ke lapangan besoknya selama empat hari, dan pulangnya gue tepar, sakit. Jadilah hari ini gue baru bisa nulis dengan rasa basi di mulut, ingus sraat-sroot, dan batuk yang cetaarrr membahana :). Intinya, kalau aja gue nggak inget janji bikin resensinya special for Ririn Menara Miring, gue nggak akan masuk kantor hari ini. Rin, postingan ini khusus untuk mengembangkan rasa bersalah loe 🙂

First soal pelafalan. Ternyata Pi itu dibaca “Pai”, bukan “Phi”. Sementara sepanjang yang gue inget dari jaman SMP sampai kuliah, lafalnya ya Phi. Gua agak2 terperanjat aja pas si mbak2 tiketnya mengkoreksi ejaan gue. “Laif of Pai, mbak,” katanya dengan lugas. Padahal di novelnya sendiri, oya gue lupa bilang kalau film ini mengadaptasi salah satu novel favorit gue dengan judul sama,  seinget gue si Pi ini jelas2 mengadopsi simbol Phi untuk mengaburkan nama aslinya Piscine yang mirip kata pissing atau pipis. Jadi ia memilih simbol Phi yang lebih intelek daripada pissing untuk merubah imej di kepala puluhan anak2 SD bengal itu tentunya karena punya lafal yang sama ya kan? Yaitu Phi. Jadi heranlah gue kenapa namanya jadi dilafalkan Pai. Bagaimana di filmnya, apa bener2 dilafalkan Pai? Well, tidak bisa tidak, ini cuman salah satu penasaran yang gue tunggu2 saat memasuki pintu teater yang gelap kemerahan.

Life-of-Pi-2Kedua, gue pengen cerita tentang si Pi dulu. Piscine Molitor Patel. Sebenarnya ia adalah karakter dalam dunia nyata, seorang India yang tinggal di Canada. Ia vegetarian, dan ia beragama kadang hindu, kadang kristen, kadang muslim. Ia percaya bahwa Tuhan bisa didekati dalam berbagai cara atau agama. Ia berasal dari Pondicherry, India, dengan keluarga pemilik kebun binatang. Karena iklim politik yang buruk, ayahnya memutuskan untuk pindah ke Canada dengan modal menjual binatang2nya di sana. Dalam perjalanan kapal laut menuju Canada, sesaat setelah meninggalkan Filipina, di satu titik terdalam di lautan Pasifik *gue lupa namanya*, kapal terkena badai dan tenggelam. Hanya Pi-lah yang selamat.

Satu hari seseorang datang ke rumahnya. Yann Martel, seorang penulis Canadian yang menyendiri di India untuk menulis novel berlatar belakang perang Portugis. Ia gagal, tentu saja, dan frustasi mengantarkannya ke sebuah kedai kopi dimana ia bertemu Mamaji, seorang India eksentrik dengan dada teramat bidang dan kaki sekurus tiang *ia perenang profesional* yang kebetulan adalah paman Pi. Inilah yang dipikirkan Mamaji kemudian : seorang Canadian pergi ke India untuk menulis cerita hebat, sementara di Canada sendiri ada seorang India yang memiliki cerita hebat. Itulah takdir. Mamajilah yang menyuruh Yann datang kepada Pi karena pengalaman Pi yang luar biasa  bisa menjadi cerita yang membuat siapapun percaya kepada Tuhan.

Ya, siapa sih yang akan menyangka, Pi, waktu itu 16 tahun, bisa menjadi satu-satunya orang yang selamat dari musibah mengerikan itu. Meski sebenarnya bukan itu magnetnya kisah ini, melainkan bahwa ia tak sendiri di life boat yang menyelamatkannya. Di dalamnya juga ada seekor zebra pincang, hyena, induk orang utan, dan well, seekor harimau Bengali.

Yup, harimau Bengali. Tentu saja itu akan menjadi cerita yang luar biasa. Tak heran jika setelahnya Yann Martell langsung minta ijin kepada Pi untuk menuliskannya dan lahirlah novel Life of Pi pada tahun 2001. Gue sendiri baru ngebacanya sekitar tahun 2008 saat menemukannya terasing di pojokan Gramedia. Setidaknya bukan cuman gue yang begitu takjub akan novel ini. Beberapa sutradara hebat macam M. Night Shyamalan, Jean-Pierre Juenet, sudah lama berencana memfilmkan novel ini, tapi tertunda terus dan Life of Pi akhirnya menjadi novel indah yang tak bisa difilmkan.

Jadi gue lumayan kaget pas tahu bahwa Life of Pi benar2 difilmkan dan sekarang lagi tayang di bioskop. Siapa sutradaranya? Ternyata Ang Lee. Oowh… si Crouching Tiger Hidden Dragon. So inilah penasaran gue yang pertama. Bagaimana Ang Lee memfilmkan Life of Pi yang mmm…. bagaimana ngomongnya ya, well, di novelnya begitu banyak kejadian penuh fantasi yang kalau memang bisa diwujudkan ke film, itu akan menjadi film yang W-O-W. Belum lagi soal si harimau Bengali itu. Definitely DOUBLE W-O-W pastinya.

Double Wow ini pertama gue kasih untuk soundtracknya. Film dibuka dengan intro lullaby, semacam lagu nina bobo seorang ibu India kepada anaknya. Sangat melenakan. Saking sukanya gue sama lullaby yang ini, gue googling, ternyata composernya malah asli Canadian, Mychael Danna. Dia bikin sekitar 10-12 soundtrack khusus untuk Life of Pi. Pengennya sih beli CD asli, coz in whatever reasons, gue selamanya nggak ngefans sama yang namanya CD bajakan. Nggak worth it bangetlah. Tapi CD asli susah dicari di pedalaman gini, so internet adalah satu2nya jawaban, hehehe. Memang sih gue belum nemu MP3 gratisannya, tapi setidaknya bisa dengerin secara online. Lumayan jadi equal companion saat nulis postingan ini 🙂

Dengan intro lullaby ini, Life of Pi diawali dengan masa kecil Pi di Pondicherry. Tentang bagaimana Pi tumbuh menjadi anak cerdas dengan kemauan kuat. Seperti tadi gue udah ceritain soal namanya. Ia mampu merubah imej namanya yang selalu jadi bahan olok2 teman2 SD-nya *pissing* menjadi nama yang intelek : Phi.  Caranyalah yang luar biasa. Pada awal masuk sekolah kembali, di seluruh kelas ia memperkenalkan dirinya sebagai Pi dengan panjang lebar menjelaskan tentang simbol matematika Phi, si angka istimewa 3,14. Tak dinyana ia berhasil. That’s amazing for kids, you know? Korban bullying di sekolah biasanya kan akan bersikap kalau nggak stres ya masa bodoh pada anak2 bengal itu. Sementara Pi malah berencana untuk merubahnya. Amazing kid indeed.

Pi kecil juga punya keingintahuan yang besar, tentang hidup, agama, bahkan keingintahuan apakah si hewan pendatang baru a.k.a harimau Bengali di kebun binatang ayahnya bisa dijadikan teman. Harimau itu bahkan punya nama, Richard Parker, yang sebenarnya salah ketik. Harusnya ia bernama Thirsty, karena ia tengah minum di sungai saat ditemukan dan ditangkap pemburu, dimana si pemburu bernama Richard Parker. Saat menjualnya ke kebun binatang ayah Pi, si tukang ketik kebalik memberi nama, jadilah si pemburu bernama Thirsty dan si harimau bernama Richard Parker :).

Seperti tadi udah gue ceritain, suatu hari ayah Pi memutuskan pindah ke Canada. Mereka bersama serombongan hewan2-nya pergi menggunakan kapal laut Jepang bernama Tsimtsum, yang kemudian dihantam badai dan tenggelam di satu titik terdalam di peta Samudra Pasifik. Saat itu Pi yang tengah berada di geladak kapal karena ingin menikmati indahnya petir *he’s definitely crazy* menjadi satu2nya orang yang akhirnya selamat. Saat life boatnya terpelanting jatuh ke laut, terjun pula seekor zebra ke dalamnya. Kaki si zebra terkena pinggiran perahu dan patah. Seekor hyena lalu muncul dari balik terpal. Dan tak dinyana sosok yang ditolong Pi kemudian adalah Richard Parker. Sebelum Pi berhasil mengusirnya, Richard berhasil naik ke perahu dan langsung bersembunyi ke dalam terpal. Melihat itu, Pi langsung terjun ke laut. Tentunya ia lebih memilih mati tenggelam daripada mati dikoyak harimau.

Di laut Pi langsung dihempas gelombang setinggi puluhan kilometer. Pi jungkir balik, life boat  jungkir balik, semua jungkir balik, dan entah bagaimana, detik-detik itu malah luar biasa indah. Detik-detik dimana Pi mengapung di bawah laut yang seharusnya gelap tapi terang benderang oleh cahaya kapal Tsimtsum yang mulai tenggelam. Bagaimana Pi menatap sosok raksasa Tsimtsum yang bercahaya di tengah kelamnya titik Samudra Pasifik terdalam, perlahan terjun menuju dasar. Bagaimana Ang Lee memvisualisasikan ini adalah ….. well, itu adalah peristiwa yang sangat tragis, tapi Ang Lee menggambarkannya dengan luar biasa indah. What a beautiful tragic.

Entah bagaimana Pi berhasil menemukan life boatnya kembali. Ia naik dan mengira dengan jungkir baliknya perahu, Richard Parker sudah terlempar keluar. Tinggal si zebra dan hyena. Saat esoknya laut sudah tenang ia bahkan bertemu Orange Juice, si induk orangutan, yang tengah mengapung di atas sekumpulan pisang. Hyena adalah hewan predator. Tentunya ia gila kalau tidak memangsa si zebra dan orangutan. Pi sendiri menyelamatkan diri di ujung perahu. Hyena tak bisa mencapainya karena ia juga mabuk laut.

Di tengah kegilaan si hyena mencabik kedua hewan malang dan terus2an berteriak sengau menulikan, mendadak melompatlah dari dalam terpal the magnificent Richard Parker. Ia langsung menerkam hyena, merobeknya seakan-akan ia menghukum provokator yang berisik dan mengganggu. Pi terlonjak jauh ke belakang perahu. Tak bisa tidak, ia terpaksa menggantungkan hidupnya di tiang perahu. Harimau Bengali sejatinya adalah hewan yang pintar berenang. Tapi nyatanya ia memilih untuk tidak menerjang Pi menandakan ia juga mabuk laut.

Setidaknya Richard masih punya bangkai sisa zebra, orangutan dan hyena segar untuk dimakan. Sementara Pi dengan kecerdasannya berhasil menciptakan rakit kecil dari semua dayung yang ada, membuat tampungan air hujan dan sulingan air laut, serta mengangkut seluruh bekal life first aid yang ada di perahu. Diantaranya Pi bahkan menemukan survival manual book. Dia membaca dan membaca, tapi tak satu pun di dalamnya berisi petunjuk bagaimana survive di tengah laut bersama seekor hewan buas. Ha-ha-ha.

Bekal Pi akan habis secermat apapun ia menghemat. Begitu pun Richard, harimau yang sepanjang hidupnya dihabiskan di kebun binatang, dengan pasokan makanan yang senantiasa terpenuhi. Pi memutuskan agar Richard harus dibuat tetap dalam kondisi ketergantungan seperti itu, hanya supaya ia tidak berenang ke laut dan menerkamnya. Pertama ia harus membuat Richard mabuk laut lebih dari sebelumnya. Hanya supaya Richard berpikir ulang jika ingin terjun ke laut. Ia pun mengarahkan perahu agar berlawanan dengan arus ombak supaya Richard tambah mabuk, sambil terus meniupkan peluitnya untuk menunjukkan siapa penguasanya. Untuk sementara trik berhasil. Selanjutnya ia harus mencari makan buat Richard. Pi pun belajar menangkap ikan, kadang berhasil, kadang tidak.

Dan Pi, diantara perjuangannya untuk hidup dan selamat, bukannya tak pernah putus asa. Tapi setiap kali rasa patah itu datang, betapa Tuhan senantiasa menunjukkan bahwa Beliau peduli, Beliau ada dan mengawasinya secara tidak langsung. Suatu kali Tuhan memberinya pemandangan terindah yang pernah ada, dimana samudra hitam di malam hari tiba-tiba berubah menjadi lautan cahaya biru nan terang tapi tak menyilaukan. Cahaya itu berasal dari ratusan ubur2 yang berenang di sekelilingnya, ditutup kemunculan si paus biru yang di sekujur tubuhnya dipenuhi plankton2 bercahaya. Si paus biru melompat tinggi jauh di atas Pi. Merusak rakit kecil miliknya dan membuang semua bekal sisa. Sekali lagi, beautiful tragic.

Satu titik kritis berhasil dilewati Pi, mengantarkannya ke satu titik kritis lain. Bagaimana ia bisa hidup tanpa rakit kecilnya? Pi sangat sadar, diantara semua bahaya di samudra maha luas ini, bahaya terbesar hanyalah Richard Parker. Ia harus melakukan sesuatu. Kenekatan Pi-lah yang mengantarnya ke ide bahwa ia harus menjinakkan Richard. Richard harus dibuat sadar bahwa Pi-lah sang alpha. Toh selama ini Richard sangat bergantung padanya soal makan, bukan mustahil kalau Richard sudah paham bahwa Pi adalah tuannya. Tapi Richard adalah seekor harimau. Asal Bengali. Jenis harimau paling agresif di muka bumi. Meski ia tumbuh di kebun binatang, ia tetaplah hewan yang hidup berdasarkan insting. So Pi punya kesempatan 50-50 untuk menang dan menduduki life boat.

Sebenarnya gue agak lupa di bagian ini. Mestinya nonton lagi, atau baca lagi. Tapi gue udah bertekad mesti selesai hari ini, so anyway, sepertinya Pi melakukannya dengan cara memberinya makan dengan daging ikan kecil2, sambil memukul2kan tongkatnya ke perahu dan terus berteriak-teriak, ke arah Richard. Seperti mengajari hewan sirkus. Awalnya Richard terprovokasi dan tak terima, tapi tak disangka-sangka Richard nurut di kesempatan kedua. Di manapun Pi melempar daging ikan, Richard akan menghampiri makanannya. Wow, how clever and lucky Pi is! Dia sukses menunjukkan siapa sang alpha sebenarnya dan ia berhasil menempati dimanapun posisi life boat yang ia suka, sementara Richard akan dengan segannya menyingkir. W-O-W. What a struggle.

Richard bahkan tak menyerangnya saat mereka berdua hanya terbaring tak berdaya kehausan, kelaparan. Satu titik kritis lainnya. Menuju titik kritis yang lain. Dan perjalanan dari satu titik ke titik selanjutnya, Tuhan selalu menjaga Pi. Kadang memberinya kejutan makanan berlimpah di hari-hari tertentu. Ratusan ikan terbang yang mendadak terbang melewati ia dan Richard. Atau pulau hijau yang mengapung di tengah laut, dimana ratusan mungkin ribuan cerpelai hidup di atasnya dan pohon2 dengan akar yang jika dimakan ternyata enak sekali. Di film memang tidak diceritakan berapa lama Pi terkatung-katung di Samudra Pasifik. Sementara gue lupa apakah di novelnya diceritakan atau tidak. Intinya, baik novel maupun filmnya, Life of Pi, meski sebagian besar durasinya menceritakan perjuangan Pi di tengah laut, keseluruhannya sama sekali tidak membosankan. Bahkan amazingly beautiful, meski tragic disana-sini.

Ya, Pi dan Richard akhirnya memang selamat. Mereka terdampar di pesisir Mexico. Bisa dibilang mereka berhasil melintasi Samudra Pasifik, in a life boat. Ending perjalanan mereka, akhirnya, meski tetap bernada beautiful tragic. Richard langsung melompat begitu sampai di daratan, ia berlari menuju hutan dan berhenti sebentar untuk menatap hutan di depannya. Sementara Pi, ia tengah terkapar tak berdaya di pasir, dan tengah menatap Richard di kejauhan, berharap agar Richard di detik-detik mencekam itu mau menengok, setidaknya memberi tatapan selamat tinggal, untuk Pi. Tapi tidak. Richard tidak menengok. Setelah tertegun lama menatap hutan, Richard berjalan dan menghilang diantara rimbun dedaunan. Ya, Richard sejatinya adalah seekor harimau. Bengali, paling agresif dari jenisnya. Sudah tentu ia tak akan menengok. Sudah tentu ia tak bisa dijadikan sahabat dan mengucapkan selamat tinggal, layaknya seorang sahabat. Meski seberapa lama engkau mengapung di tengah laut bersamanya. Persis seperti apa kata ayah Pi, seekor harimau hanyalah hewan yang hidup dengan insting. Tatapan mata kita di matanya hanya akan memantul kembali.

Anyway, Richard Parker adalah seekor harimau yang gagah sekaligus cantik. Meski karakter Pi sangat menonjol, gue malah lebih memilih Richard Parker sebagai tokoh terfavorit di film ini, even from the whole characters of the year :). Bahkan Pi pun mengamininya. Buktinya ia memilih menjadi Richard saat investigator Tsimtsum asal Jepang datang  mewawancarainya dan tak percaya semua ceritanya. Anak 16 tahun bisa selamat sendirian bersama seekor harimau Bengali? Tak mungkin. Mereka bahkan nggak percaya kalau pisang bisa mengapung di tengah laut saat Pi bercerita bagaimana ia bertemu Orange Juice, si orangutan.Ya gitu deh, orang Jepang kan logika banget. Meski setan2-nya pada nggak punya logika, hehehe. Jadi mereka malah menyuruh Pi untuk membuat cerita yang masuk akal. Cerita yang lebih diterima akal sehat. Cerita yang bakal dipercaya bos si investigator. Akhirnya Pi mengarang dan menempatkan dirinya sebagai Richard Parker. Ibunya sebagai si orangutan. Pelaut malang sebagai si zebra, dan tukang masak jahat sebagai si hyena, yang ngomong2 Gerard Depardieu yang berperan sebagai tukang masak *seterkenal itu dan hanya berperan sekilas? what an ironic, tapi memang ia tak cocok untuk peran2 lain, ia hanya cocok untuk si tukang masak jahat yang tak mau menyediakan makanan vegetarian untuk keluarga Pi*.

Oya, pemeran Pi adalah Suraj Sharma, seorang pendatang baru di dunia film. Bright star. Sementara pemeran Pi di saat dewasanya adalah Irvan Khan. Kalau pun ada yang kurang dari film ini dibandingkan novelnya, mungkin soal Anandi dan si orang Prancis. Anandi adalah perempuan yang disukai Pi, sementara gue nggak inget ada Anandi di novel, kayaknya nggak ada deh. Sementara si orang Prancis adalah pelaut yang ditemui Pi saat masih terapung-apung di laut. Di novel ada, sementara di film sama sekali nggak ada. Nggak masalah sih sebenarnya. Kedua tokoh itu ada atau tidak, tak berpengaruh ke film secara keseluruhan. It’s still amazingly beautiful tragic. Jadi bagaimana kesimpulan personal report yang O-M-G panjang banget ini? Hehehe it’s a must recommended movie, off course! Buruan nonton sebelum masa tayangnya keabisan yaaa…! 🙂

P.S: Oya soal pelafalan tadi. Di filmnya ternyata pake lafal “Pai”. Hmm… I’m still wondering how it could be …..

Iklan

4 thoughts on “Personal Report “Life of Pi”

  1. Ririn Aryani berkata:

    Ka Melly,

    Resensi-nya keren, banyak side of view dari sisi dirimu, tapi gw sukaaaaaaa banget jadi jelas kaga bloon nanti kalo nonton.
    “̮ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ ๑ˆ⌣ˆ๑ “̮ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇
    Makasih yach ‘ka mel *hughs

    Suka

  2. deburhan berkata:

    Aku baru baca setengah review ini. Kayaknya kalau aku baca terus dan nonton sendiri jadi ga surprise. Klo synicalmel bilang double WOW, mungkin saya akan bilang triple WOW. 🙂
    Review yang bagus, jadi pengen nonton.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s