Little Chit-chat

Kalo semua emak-emak di dunia ini ditanya kapan periode terbaik anak-anak mereka yang membuat mereka begitu bahagia, maybe periode balita adalah jawaban favorit. Ketidakberdayaan mereka yang menggemaskan, senyum mereka, atau cara tertawa mereka yang lepas dan itu-itu saja terhadap hal-hal sederhana.

Yeah, ngegemesin sih, ada mainan baru, ada bahan ketawaan baru, tapi actually, mereka itu bikin repot, kotor, bahkan bisa bikin bosen dan ganggu, karena ketergantungan mereka yang begitu tinggi terhadap kita. Hahaha. Inilah pengakuan abad ini, dari gue, seorang mommy dari two beautiful daughters. Hahaha. Ini sih ceritanya jadi mommy kepaksa, yah.

Enggak juga kok, gue enjoy aja sih periode mereka balita, gue juga nggak ngalamin baby blues or whatever. Yeah, bisa dibilang gue cukup bangga sebagai mommy, hehehe. BUT, sekali lagi, kalau pertanyaannya adalah kapan periode terbaik mereka yang membuat gue paling bahagia, buat gue adalah periode lima tahun ke atas. Yup!

Di periode itu, begitu banyak momen yang membuat gue terharu, sangat bahagia, karena menghadapi mereka yang mulai tumbuh sebagai manusia dengan kepribadiannya sendiri, terutama karena mereka mulai bertanya banyak hal. Ya, inilah periode terbaik bagi gue. Makin banyak pertanyaan yang keluar dari otak kecil mereka, gue makin semangat dan tertantang untuk menjawabnya, disesuaikan dengan logika mereka yang terbatas.

Tapi itu adalah yang gue kira couple years ago. Yeah, people change, but not changing at all. Sekarang Ozza sudah besar. Tahun ini Oktober nanti dia akan delapan tahun, dan betapa gue menyadari ternyata gue salah. Periode terbaik mereka ternyata ya sekarang ini, setelah logika mereka terbentuk, setelah mereka mengerti banyak hal-hal dasar, dan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih besar. Bukan bertanya sih sebenarnya, tapi mendiskusikannya. DISKUSI. Little chit-chat. Wow, step ini bener-bener mencengangkan gue sebagai mommy. Sesuatu yang baru dan gue bahagia banget.

Liburan lalu kami ke Surabaya dan sempat mampir ke Museum 10 November. Di situ gue tentu saja ngerasa rugi kalau Ozza dan adiknya cuma ngeliat-liat, seperti halnya banyak pengunjung museum pada umumnya. Gue bercerita dan bercerita, bahkan sepertinya lumayan ada beberapa anak kecil seusia SD yang ngikutin gue dan anak-anak, untuk dengerin ceritanya. Hehehe. Seusai kunjungan, Ozza dengan lugasnya bertanya ke gue.

Ngapain sih Belanda balik lagi ngejajah Indonesia? Apa mereka nggak capek ngejajah udah 350 tahun sebelumnya? Mana minta bantuan sama tentara Amerika lagi! Terus kok bisa Indonesia bisa menang cuman pake bambu runcing doang? Harusnya mereka kan ngerebut senjata-senjata aja dulu di markas-markas yang udah dikalahin. Ngapain pake bambu runcing??

Hehehe. Gimana nggak terharu sama diskusi model gitu? Gue suka anak gue kritis. Itu tandanya dia hidup, nggak cuman jadi parasit di bumi dan ngejalanin hidup apa adanya, yeah kayak emaknya ini. Hahaha.

Lain kali, Ozza mendiskusikan betapa dia bosan hidup. Gue kaget. Kenapa, gue tanya dengan nada tidak hati-hati, lebih ke curious. Jawabannya universal banget. Gue aja shocked dengernya.

Sebenernya sih nggak bosen kalau hidupnya nggak di bumi. Tapi nggak mungkin kan hidup di planet lain. Bumi itu udah semrawut. Polusi dimana-mana. Hutan ditebangin. Pabrik-pabrik kotor. Tambang yang ngerusak lingkungan. Aku pengen deh, hidup kayak jaman dulu. Waktu dinosaurus masih ada. Kenapa sih bu, dinosaurus dimatiin sama Allah? Kenapa nggak hidup sama-sama kita? Kan biar hidup ini nggak ngebosenin kalo ada mereka.

Glek. Mmm-mmm. Kenapa dinosaurus dimatiin sama Allah? Well, karena Allah tahu Ozza, kalau kita manusia nggak bakal bisa hidup sama-sama dengan dinosaurus. Apalagi ada si Tyrex, atau apa tuh yang lebih gawat lagi? Yang moncongnya kayak buaya, terus kulitnya nge-pink gitu? *generasi Jurassic Park*

Maksudku, ya Allah matiin aja dinosaurus yang galak-galak, tapi tetap hidupin yang baik-baik dan ngegemesin.

Ngegemesin? Jiah, emang kamu pikir dinosaurus beneran kayak Barney and the gank? Hahaha. Hmm, gini Za, hidup itu udah dibikin sama Allah harus seimbang untuk segala hal. Ada laper ada kenyang. Ada haus ada nggak haus. Ada cantik ada jelek. Ada miskin ada kaya. Ada pinter ada bego. Ada orang baik, ada orang jahat. Sama untuk dinosaurus. Kalau ada dinosaurus yang baik, ya harus ada dinosaurus yang jahat. Kalau salah satu nggak ada, nanti dunia ini nggak seimbang. Kalo nggak seimbang bisa cacat, lumpuh. Dunia bisa hancur. Gitu lho Za. Jadi ya mendingan dinosaurus dimatiin semua menurut Allah, supaya manusia bisa hidup di bumi ini.

Ozza diam. Gue harap dia bisa paham dengan konsep yin-yang ini. Gue sesederhana itu kok ngejelasinnya. Alhamdulillah, ternyata dia paham-paham aja. Buktinya dia respon lagi.

Kalau gitu cara supaya kita nggak bosen hidup di bumi ya dengan menjaga bumi ini baik-baik. Aku nggak ngerti kenapa sih bu, manusia itu terus-terusan ngerusak lingkungan bumi? Dengan membangun pabrik-pabrik, asap dimana-mana, binatang pada dibunuhin.

Kali ini matanya berkaca-kaca. Mungkin dia inget cerita gue tentang nasib ikan paus. Dengan tubuh raksasanya, cara mereka bernapas dan melahirkan bayi,  membesarkan anaknya dengan cara persis seperti manusia, seharusnya mereka berhak dianggap setara dengan manusia, berhak hidup bebas seperti manusia, yang dilarang membunuh manusia lain. Mereka fisiknya saja yang binatang, tapi perasaannya mirip manusia. Kehidupan mereka mirip manusia. Hanya tinggalnya saja yang beda. Mereka di lautan bebas. Seharusnya mereka kita anggap sebagai tetangga samping rumah. Dimana kita seharusnya hidup saling menghargai, bukan membunuh mereka dan memakannya.

Kenapa manusia terus-terusan merusak lingkungan? Hmm, ya jelas karena manusia itu banyak begonya, Za. Kan udah ibu bilang tadi. Kalau ada manusia pinter, pasti ada manusia bego. Nah, jumlahnya ini yang hanya Allah yang tahu. Berapa banyak yang pinter, berapa yang bego. Yah, kalau bumi jadi hancur gini ya kita tahu kan, mana yang lebih banyak?

Ozza diam lagi. Tampaknya dia terus-terusan berpikir, gimana caranya membuat bumi jadi lebih baik di sepanjang perjalanan menuju sekolah, di tengah deru dan dinginnya angin pagi menerjang motor beat kami. Ozza, di umurnya yang becoming eight years old, mungkin masih terbatas untuk berpikir solusi. Jadi dia hanya diam dan merenung. Sementara gue?

Gue yang udah sangat dewasa gini, malah memilih nggak peduli. Memilih sibuk nyalahin pemerintah yang nggak becus. Memilih sibuk nyalahin orang-orang rakus. Memilih bangga dengan sikap anti-kemapanan. Memilih untuk terus bersikap sinis. Tanpa bertindak apa-apa.

Emang gue bisa apa ya?

*ambil posisi thinker, terus pesen es teh sama kwetiau goreng* 😉

Iklan

2 thoughts on “Little Chit-chat

  1. iPul Gassingi berkata:

    ih Ozza keren ih..
    masih kecil tapi kritis dan mikirnya sampai segitu. gak cuma mikir “kapan ya Coboy Junior konser di Samarinda?”

    gak kayak emaknya yg pasti sering mikir, “kapan ya Pearl Jam manggung gi Jakarta?”

    #eh
    #dikeplak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s