Erau Kota Raja The Movie

erau-kota-raja Nontonnya sih udah beberapa hari yang lalu, kepikirannya terus-terusan mengendap aja di kepala, tapi baru sekarang sempet nuanginnya. Well, biasanya kalo gue kayak gini, itu pasti sesuatu yang kalo nggak ekstrem bagus, ya ekstrem jelek dan tentunya pake bangged. Hehehe.

Nah, pelem nyang atu ini, gimana ya? Antara penulis skenario atau sutradara yang payah, jujur gue gagal paham. Gue kan cuman penikmat pelem, bukan pakar jugak. Kita bahas dulu yak jalan ceritanya. Ada wartawan cantik asal Jakarta yang bertugas ngeliput event Erau di Tenggarong. Yang peranin si Nadine. Karena hotel penuh, akhirnya dia boleh nginep di rumahnya pak Camat, si om Ray Sahetapy. Terus besoknya pak Camat nugasin Denny Sumargo sebagai guide-nya Nadine selama di Tenggarong. Nah jatuh cintalah mereka. Tapi ibunya Denny, yang peranin Jajang C Noer, nggak setuju, dan mencari cara supaya perjalanan cinta mereka kandas. Nemulah cara itu, bahwa berita budaya yang dibuat Nadine bukan untuk kemajuan Kutai Kartanegara, tapi dijual demi keuntungan pribadi. Gosip kesebar dan ceritanya resahlah masyarakat dan mengharuskan pak Camat untuk segera memulangkan si wartawan cantik. Denny yang terlambat tahu kalo Nadine diusir lari-lari deh ke pelabuhan, dan harus berani menelan pil pahit ketegaran saat melihat Nadine sudah naik kapal dan dadah-dadah sama Denny. Udah deh, gitu doang. Hahaha! Sebenernya jalan ceritanya nggak gitu jelek. Tapi pengejewantahan ke tokoh, adegan-adegan, dialog-dialog, ampun deh tepok jidatnya.

Pertama tokoh-tokohnya. Nadine, sebenernya gaya dia udah pas banget. Aktingnya yah standarlah. Tapi tetep ada detail-detail kecil aneh yang mengganggu. Nggak diceritain latar belakang Nadine ini wartawan apa. Majalah apa. Keluarganya gimana. Punya pacar apa nggak. Blass tau-tau dia datang dan fokus kerja-kerja-kerja-nggak-tahunya-jatuh-cinta-sama-pemuda-lokal. Hehehe. Terus anehnya dia itu masih nyatet data-data yang dia himpun. Helloww? Nggak bawa rekaman? Penampilannya aja yang nge-hits tapi gaya kerjanya ternyata jadulers. Hehehe. Terus dia ngapain sih motretin banyak objek tapi nggak ditampilin di film hasil potretnya. Padahal cara itu kan bisa dimanfaatin sebagai pengenalan keindahan Kutai Kartanegara dan isinya. Tepok jidat pertama.

Kedua si Denny Sumargo. Dia ini ceritanya udah lulus jadi dokter, tapi nggak mau buka praktek dengan alasan, satu, menjadi dokter bukan pilihan hidupnya, tapi pilihan ibunya, kedua, dia ingin berbakti kembali ke daerah asalnya dengan cara membantu memelihara budaya leluhur. Hahaha. Gue baru tau ada dokter oon kayak gini. Dokter gitu loh? Dokter itu kan profesi seumur hidup. Nggak bisa nyasar sembarangan gitu kayak gue yang lulusan komputer akhirnya nyungsep di kehutanan. Ya jelas aja ibunya marah-marah terus. Kecewa. Kalo mau cari jati diri ya jangan setelah lulus sekolah donk pak dokter, mahal biayanya boiii! Nah, fakta yang sejelas matahari inilah yang malah dijadikan konflik yang tak henti-henti dari awal sampe akhir film antara Denny dan Jajang C Noer, ibunya. Please deh. Capcay beud. Tepok jidat kedua. Oya, satu lagi yang nggak jelas. Gue bingung ini pemuda berdua, Denny Sumargo sama Herrichan, sering banget nongkrong di pinggir sungai. Nggak dijelasin di film kenapa, cuma dialog pendek yang sering diucapin bahwa si Denny atau Herrichan harus fokus di pelabuhan. Ngapain? Ibunya punya usaha kapal penyeberangan? Atau apaan? Nggak jelas banget! Tepok jidat ketiga.

Ketiga, pak Camat Ray Sahetapy. Akting si om sebenernya bagus tapi maybe ketahan sama kepayahan dialog jadi ya gitu-gitu aja. Kasihan juga. Ada momen-momen tertentu saat dia bercerita tentang sejarah Kutai Kartanegara, eh malah dikaburkan suaranya. Ditindis sama adegan lain, atau nggak kameranya seakan mundur dan mundur, jadi adegan si wartawan cantik yang fokus mencari data dari pak Camat terkesan sangat serius, tapi kita nggak boleh tahu apa selanjutnya yang diomongin. Payahh! Padahal gue udah tunggu kisah-kisah menakjubkan dari tanah Kutai. Ada sih pak Camat cerita tentang Batu apaaa gitu. Busyet, gue aja yang udah sepuluh tahun tinggal di Samarinda nggak tahu kabar tentang Batu-batu mistis, nah ini kesannya semua orang Kalimantan tahu tentang itu batu. Hadeeeh, mana ngomongnya nggak dilanjutin lagi, dikaburin gitu aja. Padahal kisah-kisah itu mungkin indah dan bisa memperkenalkan budaya Kutai lebih jauh. Ada sih cerita tentang Putri Raja Melenu, tapi ya cuman itu doang. Aiiish. Tepok jidat keempat.

Keempat, sang ibu. Jajang C Noer. Ini ibu aktingnya hebat. Meski dialog nggak berkembang, konfliknya itu-itu aja, tapi dia bisa mendominasi adegan. Nggak ada yang kurang dari tokoh ini. She’s great. Seorang ibu yang mengidam-idamkan anaknya menjadi dokter, udah lulus, tinggal buka praktek, eeh malah yang diurusin budaya leluhur yang nggak ada duitnya. Hahaha. Gue sih sejalan aja sama pemikiran simbok satu ini. Warisan budaya bisa aja tetap kita rawat, tapi profesi dokter bukanlah profesi yang sembarangan. Mungkin malah daerah lebih butuh dokter yang bagus daripada guide budaya yang bagus. It is a fact! Kali ini nggak ada tepok jidat ya, hehehe. Oya gue suka ini film berhasil mengenalkan rumah-rumah asli Kutai yang sederhana tapi terasa sangat nyaman, adem, karena semua terbuat dari kayu. Rumahnya ibu ini ya gitu. Ademmm…

Kelima, soal adegan. Pertama adegan Nadine-Denny pertama jalan-jalan itu sama sekali nggak ada, nggak di-shoot, tapi tahu-tahu pulang dari jalan-jalan keduanya punya benih kecil cinta. Whuaat? Itu kan aneh banget. Mestinya pandangan pertama, atau momen-momen saat keduanya menyadari “aahhh…gue suka orang ini..” atau “ih..dia kok lucu jugak ya…” harusnya diabadikan. Ini kok tau-tau melendung. Halaahhh. Tepok jidat kelima.

Adegan lainnya yang bikin tepok jidat kebanyakan sih, gue males nyatetnya dimari hehehe, tapi yang paling bikin syok itu tau-tau kamera menyorot sebuah bangunan terpencil tengah hutan, dengan dua cowok ngobrol di terasnya, satunya si Donnie Ada Band. Keknya dia nyoba telepon Nadine nggak tembus-tembus. Maybe dia ini orang terdekatnya kali ya, nggak dikasitau juga di pelem. Abis itu kamera langsung pindah ke adegan Nadine yang lagi jalan-jalan sama Denny, kayaknya di hutan Bengkirai atau sekitaran hutan kota Balikpapan, liat beruang madu segala macem, dan tau-tau datang tergopoh-gopoh itu dua cowok,Β  Donnie Ada Band en temennya, terus marah-marah nggak jelas sama Denny terus pergi gitu aja. Hahaha. That’s a high weird class. Bisa gitu di hutan, jalanannya becek gitu, kagak ada mobil kagak ada angkot, tahu-tahu ini orang dua datang lari tergopoh-gopoh. Hahaha. Suer, saat itu pengen banget gue kompakan sama Denny, liat-liatan, terus ngomong, “Ini cuman gue aja ya yang nggak ngerti siapa dia atau memang kalian tahu persis apa yang terjadi disini barusan?!” Hahaha. Tepok jidat untuk yang kesekian kalinyaaahh….

Oya satu lagi. Untuk gosip yang katanya Nadine ngejual budaya Kutai Kartanegara cuman untuk keuntungan pribadi. Suer gue gagal paham disini. Bukannya emang kerjaannya wartawan begitu dan tujuannya ya dibikin positif aja sih, supaya budaya daerah bisa digali dan terkenal. Dan itu adegannya cukup dengan selembar print-printan artikelnya Nadine yang diambil di internet disodorin ke pak Camat. That’s it. Aneh banget. Emang kenapa sih. Mereka nggak kenal apa itu namanya internet kali ya, dimana arus informasi begitu merajalela? Seharusnya itu pelem membuat jelas hal ini, nggak mengaburkan dan hanya mencap tegas bahwa artikel Nadine bertujuan negatif buat budaya Kutai Kartanegara. So, ini pelem menurut gue terlalu naif mengartikan kearifan masyarakat Kutai sebenarnya. Mereka nggak se-paranoid itu kali sama orang asing, dan nggak segampang itu kali ngusir orang. So ini pelem jadi paradoks. Maksudnya mau mengenalkan budaya Kutai ke dunia luar, eh malah mencap masyarakat Kutai dengan stigma jelek. Duh, fokus dong.

Satu lagi yang mungkin seharusnya disisipkan di dalam film, kalau memang tujuan film adalah untuk mengenalkan Kutai Kartanegara, adalah pembahasan ambruknya jembatan Kutai Kartanegara pada November 2011. Yah, secuil aja tak mengapa. Bikin ke dalam dialog antara Nadine dan Denny, sebagai dialog yang menguras hati. Karena aneh rasanya mengingat jembatan itu adalah ikon Kukar, sebagai jembatan gantung terpanjang di Indonesia, dan mengingat betapa girisnya hati semua orang pada saat kejadian.

Eee… tambah satu lagi ya. Hehehe. Ini pelem kan judulnya Erau Kota Raja. Tapi hanya sedikit sekali penjelasan apa itu Erau, dimana itu Kota Raja, mengapa diberi nama Kota Raja, apa makna budaya Erau. Pengambilan gambar pelaksanaan Erau itu sendiri memang banyak aja, tapi nggak ada yang istimewa. Seharusnya yang namanya film ya sekelas film dong pengambilannya. Bukan sekelas berita di tipi. Ini sama aja nonton berita di tipi. Sekilas-sekilas gitu aja. Payah.

Jadi kalau mau tahu lengkapnya Erau itu apaan, ya udah gugling aja. Intinya erau itu dalam bahasa Kutai artinya ramai, riuh, rakyat bersuka cita, dimana dilaksanakan pertama kali saat Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun, dengan upacara tijak tanah dan mandi di tepian (sungai maksudnya). Saat ia dewasa ia dinobatkan menjadi Raja Kutai Kartanegara pertama pada tahun 1300. Sejak saat itu upacara Erau dilaksanakan pada saat penobatan raja-raja selanjutnya, atau jika ada penganugerahan gelar untuk tokoh masyarakat yang dianggap berjasa bagi kemajuan Kutai Kartanegara. Kalo sekarang sih kayaknya dilaksanakan setiap akhir September, sekaligus memperingati hari jadi kota Tenggarong, ibukota Kutai Kartanegara. Dan satu prosedur upacara yang membedakan Erau dengan upacara adat budaya lainnya adalah belimbur, yaitu siram-siraman air antara penonton. Pokoknya kalo nggak basah nggak afdol. Sayangnya belimbur ini nggak diambil sebagai adegan di dalam film, hanya sebagai penutup dimana semua pemain ikut dalam tradisi belimbur ini.

Asli ini pelem jebakan betmen buat penikmat ploduk-ploduk dalam negeli. Seharusnya hari gini dimana film Indonesia adalah film yang sudah waktunya jaya di mata rakyatnya, nggak pake dibeginiin. It’s like a stab at your back, masbro! Mungkin mereka bakal bilang, yah mau gimana biayanya dikiiit, cuman dua milyarr. Hadeeeh. Banyaknya gitu film indipenden yang bagus dengan low budget. Please deh kalian para produser, sutradara en penulis skenario. Produsernya salah satunya bu Rita sang Bupati Kukar, hehehe. Terus sutradaranya Bambang Drias, never heard. Dan penulis skenarionya Endik Koeswoyo, never heard as well. Oya, itu bu Rita dan anak kembarnya main jugak lho di pelem, hahaha, dan yes, bukan sebagai Bupati tentu saja, tapi sebagai pengusaha, hahaha. Aneh banget, padahal seharusnya kalo dia jadi dirinya sendiri kan lebih elegan. Tapi yah, gitu deh. Aktingnya juga kalo kata orang sini bilang : duuuuhaaaiiii….. hahaha.

Gue pikir ini pelem bakalan kayak Gending Sriwijaya. Meski yang maen Jupe – dan ternyata dia bermain bagus – itu pelem termasuk wajib tonton dulu. Terus pelem yang termasuk baru kayak Pendekar Tongkat Emas yang memang emas pelemnya. Kan kita sebagai rakyat juga seneng dan banggaaa…. pake banget kalo Indonesia bisa bikin film kayak gitu. Kalau bisa meng-internasional kayak The Raid 1 & 2 lebih super lagi. Ceritanya pelem Erau Kota Raja ini juga meng-internasional sih. Bakalan diputer di Brunei dan Malaysia. Hadeeehhh, bakalan di-bully lagi deh kita sama tetangga sebelah. Tepok jidat penutup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s