Rindu Tere Liye

Well, I admit it, saya baru penasaran siapa sosok Tere Liye sesungguhnya setelah baca novel entah keberapanya yang berjudul Rindu. Novel pertama yang saya baca ya Negeri Para Bedebah, which is very good, tapi nggak tahu kenapa saya belum interest untuk cari tau siapa sosok Tere Liye sang penulis. Dia kan nggak memperkenalkan dirinya di bagian belakang novel, entah itu secuil foto or email. Belakangan guggling nggak taunya yang keluar malah drama populer India berjudul sama, Tere Liye, yang artinya For You. Kayaknya sih bintang utamanya Sharukh Khan gitu. Nah, disinilah penasaran itu tumbuh. Ini penulisnya cewek or cowok sih? Meski saya senantiasa menganggap semua yang berasal dari India itu lebay, tapi untuk nama samaran yang satu ini, penulis saya anggap brilian. Hahaha, tumben. Coz it sounds unique and easy to remember.

Coba guggling lagi lebih jauh, nemu deh. Ternyata cowok penulisnya. An accountant. Still working. And have families. From Sumatera Selatan. Writing is just a hobby. But in those critical time he has, he’s already written maybe dozen novels. Wow. Salute. Sementara saya, yang dambaannya aja pengen bikin novel tapi hellowww, nggak jadi-jadi itu novel jadi-jadian, hahaha.

Nama aslinya ternyata Darwis. Itu juga dia nggak mau kasih nama belakangnya. Jadilah Darwis Tere Liye. Dari yang saya baca di google results, dia juga nggak kasih nomor hapenya ke orang-orang. Kalau mau hubungi ya by email. Lupa emailnya apaan. Ngapain diinget-inget, saya bukan jenis fans yang suka tanya ini-itu ke idolanya. Katanya ada blognya juga, yang meski cuman punya satu postingan, udah ribuan yang berkunjung. Lupa juga blognya apaan. Ngapain diinget-inget, toh jarang posting juga, hehehe. Untungnya dia punya akun facebook dengan nama sama, Darwis Tere Liye, yang ternyata lumayan sering update status. Emang sih statusnya nggak pernah personal, hanya promosi novel-novelnya, atau komentar-komentar tentang apa yang terjadi di sekeliling, which is a little bit cynical and pointy, which I very like of course. Hehehe. Rumornya ia bahkan diberi julukan sang lidah panah. Hahaha. Nice call. Meski kadang agak tajam berkomentar, jelas bahwa fans-fans Darwis Tere Liye sudah bahagia.

Intinya sikap misterius si Darwis ini sedikit mengingatkan saya akan sosok Eddie Vedder, vokalis Pearl Jam, band lawas tahun 90’an. Betapa mendunianya beliau di mata fans sejatinya, namun sang Eddie Vedder tetap menjaga kehidupan pribadinya rapat-rapat. No phone. No email. No blog. No twitter. Even no facebook. Just enjoy my works. Our band works. Period. Betapa privacy is priceless to meΒ yang dijunjung tinggi-tinggi. Memang sih, si Darwis ini nggak segitu-gitunya amat, tapi saya yakin dia akhirnya punya akun facebook or kasih email addressnya itu atas desakan fans atau penerbit. Bahwa di Indonesia nggak lazim berperilaku sekejam itu kepada fans. Ada sopan santunnya. Bahwa kalau mau laku, ya harus mau jualan. Apalagi seterkenal Darwis Tere Liye, yang bahkan sudah tiga novelnya difilmkan : Hafalan Shalat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, dan Bidadari-Bidadari Surga. Saya sih nggak nonton, well it’s kinda easy to predict and have common themes. Saya juga nggak baca novel-novel itu. Saya lebih suka tema yang sangat lelaki. Konspirasi. Perang. Pembunuhan. Politik. Sejarah. Jadi ya dari sekian novel Tere Liye, saya baru memilih Negeri Para BedebahΒ dan Negeri di Ujung Tanduk. Sudah pasti kalau dua novel ini difilmkan, saya akan tonton. Nah, atas provokasi diskon sobat yang seorang penulis yang juga punya toko buku online duniaeni.com, akhirnya saya beli juga yang bertema sendu romantis. Rindu dan Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Tapi novel yang baru nyampe di rumah ya Rindu. Ternyata ini novel terbarunya. Baru terbit sekitar akhir tahun 2014, tapi Januari 2015 ini sudah mencapai cetakan kesembilan. Pake wow dan pake bangged ini sih.

Ternyata lagi, novel Rindu ini sama sekali bukan bertema romantis. Mungkin ada, sedikit. Tapi tema besarnya adalah rindu kepada Allah semata, tidak yang lain, dengan mengambil latar belakang tahun 1938 pada sebuah kapal laut haji yang memberangkatkan sekitar seribu calon haji di penjuru Nusantara : Makassar, Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang dan terakhir Banda Aceh. Ini saja sudah membuat mata saya membelalak lebar-lebar. Betapa brilian penulis ini. Jelas ini fiksi sejarah. Rindu saya untuk novel-novel seperti ini. Pertama yang saya ingat novel sejenis yang membuat saya jungkir balik adalah Rahasia Meede, karya si jenius E.S Ito. Saya bahkan sampai sekarang masih berburu novel pertamanya E.S Ito yang berjudul Negara Kelima, tapi belum dapat-dapat juga. Keluh. Nah, Rindu ini pun tak kalah jeniusnya.

Berkisah tentang lima pertanyaan besar yang bermuara kepada-Nya, oleh lima tokoh berkarakter kuat, mengiringi perjalanan luar biasa itu. Gurutta Ahmad Karaeng, seorang ulama besar di tanah Makassar. Daeng Andipati, seorang pedagang sukses yang memberangkatkan seluruh keluarga kecilnya naik haji. Ambo Uleng, seorang pelaut sejati yang melamar kerja di kapal haji hanya untuk pergi jauh dari kekasih hatinya. Bonda Upe, seorang guru mengaji dadakan yang ternyata adalah mantan pelacur. Mbah Kakung, seorang kakek berusia 82 tahun yang berangkat haji bersama istrinya, simbah putri.

Tak banyak yang bisa dikeluhkan dari novel ini. Actually perfect. Dengan latar belakang perjalanan di sebuah kapal, selama berhari-hari, dari Makassar hingga kota Jeddah, tentu suasana yang bisa diduga terjadi pasti itu-itu saja. Nyatanya tidak sama sekali. Negara bisa berjalan nyaman dan tentram tentu bergantung pada cara bagaimana sang pemimpin mengaturnya. Nah, pemimpin di negara sekecil kapal kecil ini bukanlah sang nahkoda kapal, tapi Gurutta Ahmad Karaeng, sang ulama besar. Di hari pertama beliau sudah mengatur kegiatan-kegiatan selama di kapal. Jadwal majelis ilmu setiap habis sholat Subuh, jadwal sekolah setiap pagi sampai siang buat anak-anak (supaya tak ketinggalan pelajaran, karena perjalanan haji pada saat itu mencapai sembilan bulan lamanya), jadwal mengaji setiap habis sholat Ashar untuk anak-anak, dan jadwal manasik haji di mushala kapal setiap pagi untuk yang mau belajar. Yang paling menarik adalah materi belajar sekolah anak-anak. Selain pelajaran Bahasa Belanda dan berhitung, (see, orang jaman dulu juga tahu betapa pentingnya bahasa dan matematika, makanya nggak salah kan kalau saya mementingkan English dan Math untuk kids, hehehe) mereka kadang juga belajar tentang apa yang ada di kapal. Bagaimana cara mesin uap kapal bekerja. Bagaimana prosedur penyelamatan saat darurat. Bagaimana cara dapur menyiapkan makanan untuk banyak orang. So interesting.

Konflik yang terjadi pun lumayan banyak, dari sebuah rencana pembunuhan, terancamnya kapal terkatung-katung di laut gara-gara piston rusak, hilangnya anak Daeng Andipati saat berlabuh di Surabaya, meninggalnya seorang penumpang istimewa, sampai terjadinya konflik puncak, yaitu pembajakan kapal oleh perompak Somalia di tengah samudera.

Kalaupun ada yang bisa dikeluhkan dari novel ini mungkin hanya hal-hal kecil, remeh-temeh nggak penting, tapi tetap ngeganjel. Hehehe. Mirip sebutir kecil batu yang nyelip di sepatu. Pertama, muara novel ini adalah lima pertanyaan besar milik kelima tokoh yang tadi telah disinggung. Tapi ternyata ada beberapa tokoh pemegang pertanyaan besar tersebut yang bukan tokoh utama, jadi penggambaran karakter kurang kuat disana, yaitu Bonda Upe dan Mbah Kakung. Bonda Upe digambarkan sebagai perempuan keturunan Chinese muslim cantik yang takut tertelan masa lalunya yang seorang pelacur. Sementara Mbah Kakung seorang tua agak kurang pendengaran yang diantara ribuan jutaan orang beruntung memiliki cinta sejati bersama Mbah Putri. Karakternya sebenarnya menarik, tapi keseharian mereka jarang dikisahkan, hanya pelengkap saja.

Tapi yah, itu cuma hal kecil mritil. Nggak berpengaruh banyak ke indahnya cerita. Saya juga tertarik akan banyaknya hal-hal kecil yang saya baru tahu lewat novel ini. Misalnya perompak Somalia yang ternyata sudah terkenal sebagai perompak ganas di perairan laut Afrika antara Srilanka dan Jeddah sejak ratusan tahun sebelumnya. Lainnya adalah julukan Serambi Mekkah untuk kota Banda Aceh, karena memang semua kapal haji yang berasal dari kawasan Asia Pasifik pasti singgah di pelabuhan Banda Aceh, sebagai persinggahan terakhir sebelum Kolombo di Srilanka dan Jeddah di Saudi Arabia.

Satu lagi poin unik Darwis, ia ternyata membahasakan besok-besok nggak tahu kapan itu sebagai esok lusa. Pertama itu saya menemukannya pas Gurutta mendoakan seorang tukang cukur agar bisa berhaji esok lusa. Saya pikir esok lusa itu kan ya dua hari kemudian. I believe kun fayakun, but two days ahead? Hooh, ternyata Darwis kerap membahasakannya di bagian-bagian lain, termasuk novel-novel lainnya. Maybe kecuali Negeri Para Bedebah, coz cuman novel Darwis ini satu-satunya yang saya baca sebelumnya. Memang sih agak elegan kedengarannya, begitukah?

Dan saya paling suka endingnya. Kisah ditutup dengan tak terperi bahagianya. Exactly like Gurutta Ahmad Karaeng have said to Ambo Uleng, “Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita.” Ya. Kenapa tidak? Percaya diri saja bahwa ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita, common people, reguler person, rakyat tedjo. πŸ˜€

Iklan

4 thoughts on “Rindu Tere Liye

  1. Fanny f nila berkata:

    apaaa????!!!!! tere liye itu cowo???? ya ampun, hahahaha dan selama ini aku bayangin dia itu cewek, krn namanya mirip ama nama penyanyi TERE ;p hihihihihi… aku juga suka mba ama novel2nya.. paling suka ama yg kau, aku dan sepucuk angpau merah πŸ˜€

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s