Rindu Tere Liye

Well, I admit it, saya baru penasaran siapa sosok Tere Liye sesungguhnya setelah baca novel entah keberapanya yang berjudul Rindu. Novel pertama yang saya baca ya Negeri Para Bedebah, which is very good, tapi nggak tahu kenapa saya belum interest untuk cari tau siapa sosok Tere Liye sang penulis. Dia kan nggak memperkenalkan dirinya di bagian belakang novel, entah itu secuil foto or email. Belakangan guggling nggak taunya yang keluar malah drama populer India berjudul sama, Tere Liye, yang artinya For You. Kayaknya sih bintang utamanya Sharukh Khan gitu. Nah, disinilah penasaran itu tumbuh. Ini penulisnya cewek or cowok sih? Meski saya senantiasa menganggap semua yang berasal dari India itu lebay, tapi untuk nama samaran yang satu ini, penulis saya anggap brilian. Hahaha, tumben. Coz it sounds unique and easy to remember.

Baca lebih lanjut

Iklan

Yes, I am a Sherlockian

Last Friday it was decided for a lazy weekend. So I picked a heavy box of six Sherlock CDs from that BBC serial films. I used to say to my sister, Yudol, that Sherlock Hollywood version by Robert Downey Jr is one of the best movie of Sherlock I’ve ever seen. She laughed at me once and said that I have to see this one. Robert Downey was just copy paste his bloody wacky character from Iron Man to this genius detective, ruined the character so much. From a serious and cold one to a hilarious one. I think it was for a different perspective, and was accepted enough for a movie slash Sherlock lover like me. But I also curious to this one. I don’t have a television cable, so when I found them on a local rental movie, I was a little bit surprised, I looked at them twice, and saved the last decision that kids maybe will missed their chance to swim this weekend.

Baca lebih lanjut

Pita Hujan

“Kamu itu bidadari tanpa sayap, Sayang, maka dari itu aku datang diciptakan Tuhan untuk menjadi sepasang sayap buatmu…”

Sejujurnya gue agak-agak jungkir balik bikin resensi ini, coz lusa kemarin gue baru pulang tugas tiga hari dari hutan dengan road trip seharian, disusul ngasih materi ajar besoknya, dilanjut praktek ke hutan bumi Paser besok dan baru clear seminggu kemudian. So jeda waktu gue pikir cuman hari Minggu ini kalau memang gue serius pengen ikutan. Aaakkh, gue nggak tega kalo nggak ikutan! Makhluk penulis yang satu ini, Eni Martini, is one of my best friend, so apalagi sih yang bisa gue kasih selain resensi abal-abal ini? Terutama karena berbagai janji resensi untuk keseluruhan novel terdahulunya tereliminasi dengan sendirinya terkalahkan berbagai tumpukan kerjaan, two daughters, tagihan, etc, terutama oleh sifat perfeksionis akut gue kalo menyangkut soal tulisan. Seremeh apapun tulisan itu. It must be fresh, it must be a story that has meaning, blablabla. Meski ujung-ujungnya ya begini-begini aja gaya tulisannya, abal-abal, hehehe.

Oke, shut up Mel, let’s go to the point : Rainbow.

Baca lebih lanjut

Personal Report “Life of Pi”

Preview, review, or even resensi sebuah film adalah sesuatu yang bisa dijadikan pegangan calon penonton untuk menilai apakah worth it atau nggak si film untuk ditonton. Terkadang gue juga suka sih bacanya, tapi yah cuman sekedar aja, coz sejujurnya gue nggak terlalu suka tulisan yang nanggung, hehehe. Mereka cuman bikin kita penasaran padahal nggak semua film itu bagus. Mereka juga nggak personal, sementara gue lebih suka apa adanya. Jadi kalau gue disuruh mengulas sebuah film, well, sorry guys, maybe you get bored atau mungkin bahkan kalian nggak jadi nonton filmnya, hehehe. Coz gue biasanya penuh detail, and off course, personal.

richard parker

Kali ini giliran Life of Pi. Gue udah nonton ini film sejak minggu lalu. Harusnya sih setelah nonton langsung nulis, supaya personalnya kuat dan fresh, tapi gue mesti ke lapangan besoknya selama empat hari, dan pulangnya gue tepar, sakit. Jadilah hari ini gue baru bisa nulis dengan rasa basi di mulut, ingus sraat-sroot, dan batuk yang cetaarrr membahana :). Intinya, kalau aja gue nggak inget janji bikin resensinya special for Ririn Menara Miring, gue nggak akan masuk kantor hari ini. Rin, postingan ini khusus untuk mengembangkan rasa bersalah loe 🙂

First soal pelafalan. Ternyata Pi itu dibaca “Pai”, bukan “Phi”. Sementara sepanjang yang gue inget dari jaman SMP sampai kuliah, lafalnya ya Phi. Gua agak2 terperanjat aja pas si mbak2 tiketnya mengkoreksi ejaan gue. “Laif of Pai, mbak,” katanya dengan lugas. Padahal di novelnya sendiri, oya gue lupa bilang kalau film ini mengadaptasi salah satu novel favorit gue dengan judul sama,  seinget gue si Pi ini jelas2 mengadopsi simbol Phi untuk mengaburkan nama aslinya Piscine yang mirip kata pissing atau pipis. Jadi ia memilih simbol Phi yang lebih intelek daripada pissing untuk merubah imej di kepala puluhan anak2 SD bengal itu tentunya karena punya lafal yang sama ya kan? Yaitu Phi. Jadi heranlah gue kenapa namanya jadi dilafalkan Pai. Bagaimana di filmnya, apa bener2 dilafalkan Pai? Well, tidak bisa tidak, ini cuman salah satu penasaran yang gue tunggu2 saat memasuki pintu teater yang gelap kemerahan.

Life-of-Pi-2Kedua, gue pengen cerita tentang si Pi dulu. Piscine Molitor Patel. Sebenarnya ia adalah karakter dalam dunia nyata, seorang India yang tinggal di Canada. Ia vegetarian, dan ia beragama kadang hindu, kadang kristen, kadang muslim. Ia percaya bahwa Tuhan bisa didekati dalam berbagai cara atau agama. Ia berasal dari Pondicherry, India, dengan keluarga pemilik kebun binatang. Karena iklim politik yang buruk, ayahnya memutuskan untuk pindah ke Canada dengan modal menjual binatang2nya di sana. Dalam perjalanan kapal laut menuju Canada, sesaat setelah meninggalkan Filipina, di satu titik terdalam di lautan Pasifik *gue lupa namanya*, kapal terkena badai dan tenggelam. Hanya Pi-lah yang selamat.

Satu hari seseorang datang ke rumahnya. Yann Martel, seorang penulis Canadian yang menyendiri di India untuk menulis novel berlatar belakang perang Portugis. Ia gagal, tentu saja, dan frustasi mengantarkannya ke sebuah kedai kopi dimana ia bertemu Mamaji, seorang India eksentrik dengan dada teramat bidang dan kaki sekurus tiang *ia perenang profesional* yang kebetulan adalah paman Pi. Inilah yang dipikirkan Mamaji kemudian : seorang Canadian pergi ke India untuk menulis cerita hebat, sementara di Canada sendiri ada seorang India yang memiliki cerita hebat. Itulah takdir. Mamajilah yang menyuruh Yann datang kepada Pi karena pengalaman Pi yang luar biasa  bisa menjadi cerita yang membuat siapapun percaya kepada Tuhan.

Ya, siapa sih yang akan menyangka, Pi, waktu itu 16 tahun, bisa menjadi satu-satunya orang yang selamat dari musibah mengerikan itu. Meski sebenarnya bukan itu magnetnya kisah ini, melainkan bahwa ia tak sendiri di life boat yang menyelamatkannya. Di dalamnya juga ada seekor zebra pincang, hyena, induk orang utan, dan well, seekor harimau Bengali.

Yup, harimau Bengali. Tentu saja itu akan menjadi cerita yang luar biasa. Tak heran jika setelahnya Yann Martell langsung minta ijin kepada Pi untuk menuliskannya dan lahirlah novel Life of Pi pada tahun 2001. Gue sendiri baru ngebacanya sekitar tahun 2008 saat menemukannya terasing di pojokan Gramedia. Setidaknya bukan cuman gue yang begitu takjub akan novel ini. Beberapa sutradara hebat macam M. Night Shyamalan, Jean-Pierre Juenet, sudah lama berencana memfilmkan novel ini, tapi tertunda terus dan Life of Pi akhirnya menjadi novel indah yang tak bisa difilmkan.

Jadi gue lumayan kaget pas tahu bahwa Life of Pi benar2 difilmkan dan sekarang lagi tayang di bioskop. Siapa sutradaranya? Ternyata Ang Lee. Oowh… si Crouching Tiger Hidden Dragon. So inilah penasaran gue yang pertama. Bagaimana Ang Lee memfilmkan Life of Pi yang mmm…. bagaimana ngomongnya ya, well, di novelnya begitu banyak kejadian penuh fantasi yang kalau memang bisa diwujudkan ke film, itu akan menjadi film yang W-O-W. Belum lagi soal si harimau Bengali itu. Definitely DOUBLE W-O-W pastinya.

Double Wow ini pertama gue kasih untuk soundtracknya. Film dibuka dengan intro lullaby, semacam lagu nina bobo seorang ibu India kepada anaknya. Sangat melenakan. Saking sukanya gue sama lullaby yang ini, gue googling, ternyata composernya malah asli Canadian, Mychael Danna. Dia bikin sekitar 10-12 soundtrack khusus untuk Life of Pi. Pengennya sih beli CD asli, coz in whatever reasons, gue selamanya nggak ngefans sama yang namanya CD bajakan. Nggak worth it bangetlah. Tapi CD asli susah dicari di pedalaman gini, so internet adalah satu2nya jawaban, hehehe. Memang sih gue belum nemu MP3 gratisannya, tapi setidaknya bisa dengerin secara online. Lumayan jadi equal companion saat nulis postingan ini 🙂

Dengan intro lullaby ini, Life of Pi diawali dengan masa kecil Pi di Pondicherry. Tentang bagaimana Pi tumbuh menjadi anak cerdas dengan kemauan kuat. Seperti tadi gue udah ceritain soal namanya. Ia mampu merubah imej namanya yang selalu jadi bahan olok2 teman2 SD-nya *pissing* menjadi nama yang intelek : Phi.  Caranyalah yang luar biasa. Pada awal masuk sekolah kembali, di seluruh kelas ia memperkenalkan dirinya sebagai Pi dengan panjang lebar menjelaskan tentang simbol matematika Phi, si angka istimewa 3,14. Tak dinyana ia berhasil. That’s amazing for kids, you know? Korban bullying di sekolah biasanya kan akan bersikap kalau nggak stres ya masa bodoh pada anak2 bengal itu. Sementara Pi malah berencana untuk merubahnya. Amazing kid indeed.

Pi kecil juga punya keingintahuan yang besar, tentang hidup, agama, bahkan keingintahuan apakah si hewan pendatang baru a.k.a harimau Bengali di kebun binatang ayahnya bisa dijadikan teman. Harimau itu bahkan punya nama, Richard Parker, yang sebenarnya salah ketik. Harusnya ia bernama Thirsty, karena ia tengah minum di sungai saat ditemukan dan ditangkap pemburu, dimana si pemburu bernama Richard Parker. Saat menjualnya ke kebun binatang ayah Pi, si tukang ketik kebalik memberi nama, jadilah si pemburu bernama Thirsty dan si harimau bernama Richard Parker :).

Seperti tadi udah gue ceritain, suatu hari ayah Pi memutuskan pindah ke Canada. Mereka bersama serombongan hewan2-nya pergi menggunakan kapal laut Jepang bernama Tsimtsum, yang kemudian dihantam badai dan tenggelam di satu titik terdalam di peta Samudra Pasifik. Saat itu Pi yang tengah berada di geladak kapal karena ingin menikmati indahnya petir *he’s definitely crazy* menjadi satu2nya orang yang akhirnya selamat. Saat life boatnya terpelanting jatuh ke laut, terjun pula seekor zebra ke dalamnya. Kaki si zebra terkena pinggiran perahu dan patah. Seekor hyena lalu muncul dari balik terpal. Dan tak dinyana sosok yang ditolong Pi kemudian adalah Richard Parker. Sebelum Pi berhasil mengusirnya, Richard berhasil naik ke perahu dan langsung bersembunyi ke dalam terpal. Melihat itu, Pi langsung terjun ke laut. Tentunya ia lebih memilih mati tenggelam daripada mati dikoyak harimau.

Di laut Pi langsung dihempas gelombang setinggi puluhan kilometer. Pi jungkir balik, life boat  jungkir balik, semua jungkir balik, dan entah bagaimana, detik-detik itu malah luar biasa indah. Detik-detik dimana Pi mengapung di bawah laut yang seharusnya gelap tapi terang benderang oleh cahaya kapal Tsimtsum yang mulai tenggelam. Bagaimana Pi menatap sosok raksasa Tsimtsum yang bercahaya di tengah kelamnya titik Samudra Pasifik terdalam, perlahan terjun menuju dasar. Bagaimana Ang Lee memvisualisasikan ini adalah ….. well, itu adalah peristiwa yang sangat tragis, tapi Ang Lee menggambarkannya dengan luar biasa indah. What a beautiful tragic.

Entah bagaimana Pi berhasil menemukan life boatnya kembali. Ia naik dan mengira dengan jungkir baliknya perahu, Richard Parker sudah terlempar keluar. Tinggal si zebra dan hyena. Saat esoknya laut sudah tenang ia bahkan bertemu Orange Juice, si induk orangutan, yang tengah mengapung di atas sekumpulan pisang. Hyena adalah hewan predator. Tentunya ia gila kalau tidak memangsa si zebra dan orangutan. Pi sendiri menyelamatkan diri di ujung perahu. Hyena tak bisa mencapainya karena ia juga mabuk laut.

Di tengah kegilaan si hyena mencabik kedua hewan malang dan terus2an berteriak sengau menulikan, mendadak melompatlah dari dalam terpal the magnificent Richard Parker. Ia langsung menerkam hyena, merobeknya seakan-akan ia menghukum provokator yang berisik dan mengganggu. Pi terlonjak jauh ke belakang perahu. Tak bisa tidak, ia terpaksa menggantungkan hidupnya di tiang perahu. Harimau Bengali sejatinya adalah hewan yang pintar berenang. Tapi nyatanya ia memilih untuk tidak menerjang Pi menandakan ia juga mabuk laut.

Setidaknya Richard masih punya bangkai sisa zebra, orangutan dan hyena segar untuk dimakan. Sementara Pi dengan kecerdasannya berhasil menciptakan rakit kecil dari semua dayung yang ada, membuat tampungan air hujan dan sulingan air laut, serta mengangkut seluruh bekal life first aid yang ada di perahu. Diantaranya Pi bahkan menemukan survival manual book. Dia membaca dan membaca, tapi tak satu pun di dalamnya berisi petunjuk bagaimana survive di tengah laut bersama seekor hewan buas. Ha-ha-ha.

Bekal Pi akan habis secermat apapun ia menghemat. Begitu pun Richard, harimau yang sepanjang hidupnya dihabiskan di kebun binatang, dengan pasokan makanan yang senantiasa terpenuhi. Pi memutuskan agar Richard harus dibuat tetap dalam kondisi ketergantungan seperti itu, hanya supaya ia tidak berenang ke laut dan menerkamnya. Pertama ia harus membuat Richard mabuk laut lebih dari sebelumnya. Hanya supaya Richard berpikir ulang jika ingin terjun ke laut. Ia pun mengarahkan perahu agar berlawanan dengan arus ombak supaya Richard tambah mabuk, sambil terus meniupkan peluitnya untuk menunjukkan siapa penguasanya. Untuk sementara trik berhasil. Selanjutnya ia harus mencari makan buat Richard. Pi pun belajar menangkap ikan, kadang berhasil, kadang tidak.

Dan Pi, diantara perjuangannya untuk hidup dan selamat, bukannya tak pernah putus asa. Tapi setiap kali rasa patah itu datang, betapa Tuhan senantiasa menunjukkan bahwa Beliau peduli, Beliau ada dan mengawasinya secara tidak langsung. Suatu kali Tuhan memberinya pemandangan terindah yang pernah ada, dimana samudra hitam di malam hari tiba-tiba berubah menjadi lautan cahaya biru nan terang tapi tak menyilaukan. Cahaya itu berasal dari ratusan ubur2 yang berenang di sekelilingnya, ditutup kemunculan si paus biru yang di sekujur tubuhnya dipenuhi plankton2 bercahaya. Si paus biru melompat tinggi jauh di atas Pi. Merusak rakit kecil miliknya dan membuang semua bekal sisa. Sekali lagi, beautiful tragic.

Satu titik kritis berhasil dilewati Pi, mengantarkannya ke satu titik kritis lain. Bagaimana ia bisa hidup tanpa rakit kecilnya? Pi sangat sadar, diantara semua bahaya di samudra maha luas ini, bahaya terbesar hanyalah Richard Parker. Ia harus melakukan sesuatu. Kenekatan Pi-lah yang mengantarnya ke ide bahwa ia harus menjinakkan Richard. Richard harus dibuat sadar bahwa Pi-lah sang alpha. Toh selama ini Richard sangat bergantung padanya soal makan, bukan mustahil kalau Richard sudah paham bahwa Pi adalah tuannya. Tapi Richard adalah seekor harimau. Asal Bengali. Jenis harimau paling agresif di muka bumi. Meski ia tumbuh di kebun binatang, ia tetaplah hewan yang hidup berdasarkan insting. So Pi punya kesempatan 50-50 untuk menang dan menduduki life boat.

Sebenarnya gue agak lupa di bagian ini. Mestinya nonton lagi, atau baca lagi. Tapi gue udah bertekad mesti selesai hari ini, so anyway, sepertinya Pi melakukannya dengan cara memberinya makan dengan daging ikan kecil2, sambil memukul2kan tongkatnya ke perahu dan terus berteriak-teriak, ke arah Richard. Seperti mengajari hewan sirkus. Awalnya Richard terprovokasi dan tak terima, tapi tak disangka-sangka Richard nurut di kesempatan kedua. Di manapun Pi melempar daging ikan, Richard akan menghampiri makanannya. Wow, how clever and lucky Pi is! Dia sukses menunjukkan siapa sang alpha sebenarnya dan ia berhasil menempati dimanapun posisi life boat yang ia suka, sementara Richard akan dengan segannya menyingkir. W-O-W. What a struggle.

Richard bahkan tak menyerangnya saat mereka berdua hanya terbaring tak berdaya kehausan, kelaparan. Satu titik kritis lainnya. Menuju titik kritis yang lain. Dan perjalanan dari satu titik ke titik selanjutnya, Tuhan selalu menjaga Pi. Kadang memberinya kejutan makanan berlimpah di hari-hari tertentu. Ratusan ikan terbang yang mendadak terbang melewati ia dan Richard. Atau pulau hijau yang mengapung di tengah laut, dimana ratusan mungkin ribuan cerpelai hidup di atasnya dan pohon2 dengan akar yang jika dimakan ternyata enak sekali. Di film memang tidak diceritakan berapa lama Pi terkatung-katung di Samudra Pasifik. Sementara gue lupa apakah di novelnya diceritakan atau tidak. Intinya, baik novel maupun filmnya, Life of Pi, meski sebagian besar durasinya menceritakan perjuangan Pi di tengah laut, keseluruhannya sama sekali tidak membosankan. Bahkan amazingly beautiful, meski tragic disana-sini.

Ya, Pi dan Richard akhirnya memang selamat. Mereka terdampar di pesisir Mexico. Bisa dibilang mereka berhasil melintasi Samudra Pasifik, in a life boat. Ending perjalanan mereka, akhirnya, meski tetap bernada beautiful tragic. Richard langsung melompat begitu sampai di daratan, ia berlari menuju hutan dan berhenti sebentar untuk menatap hutan di depannya. Sementara Pi, ia tengah terkapar tak berdaya di pasir, dan tengah menatap Richard di kejauhan, berharap agar Richard di detik-detik mencekam itu mau menengok, setidaknya memberi tatapan selamat tinggal, untuk Pi. Tapi tidak. Richard tidak menengok. Setelah tertegun lama menatap hutan, Richard berjalan dan menghilang diantara rimbun dedaunan. Ya, Richard sejatinya adalah seekor harimau. Bengali, paling agresif dari jenisnya. Sudah tentu ia tak akan menengok. Sudah tentu ia tak bisa dijadikan sahabat dan mengucapkan selamat tinggal, layaknya seorang sahabat. Meski seberapa lama engkau mengapung di tengah laut bersamanya. Persis seperti apa kata ayah Pi, seekor harimau hanyalah hewan yang hidup dengan insting. Tatapan mata kita di matanya hanya akan memantul kembali.

Anyway, Richard Parker adalah seekor harimau yang gagah sekaligus cantik. Meski karakter Pi sangat menonjol, gue malah lebih memilih Richard Parker sebagai tokoh terfavorit di film ini, even from the whole characters of the year :). Bahkan Pi pun mengamininya. Buktinya ia memilih menjadi Richard saat investigator Tsimtsum asal Jepang datang  mewawancarainya dan tak percaya semua ceritanya. Anak 16 tahun bisa selamat sendirian bersama seekor harimau Bengali? Tak mungkin. Mereka bahkan nggak percaya kalau pisang bisa mengapung di tengah laut saat Pi bercerita bagaimana ia bertemu Orange Juice, si orangutan.Ya gitu deh, orang Jepang kan logika banget. Meski setan2-nya pada nggak punya logika, hehehe. Jadi mereka malah menyuruh Pi untuk membuat cerita yang masuk akal. Cerita yang lebih diterima akal sehat. Cerita yang bakal dipercaya bos si investigator. Akhirnya Pi mengarang dan menempatkan dirinya sebagai Richard Parker. Ibunya sebagai si orangutan. Pelaut malang sebagai si zebra, dan tukang masak jahat sebagai si hyena, yang ngomong2 Gerard Depardieu yang berperan sebagai tukang masak *seterkenal itu dan hanya berperan sekilas? what an ironic, tapi memang ia tak cocok untuk peran2 lain, ia hanya cocok untuk si tukang masak jahat yang tak mau menyediakan makanan vegetarian untuk keluarga Pi*.

Oya, pemeran Pi adalah Suraj Sharma, seorang pendatang baru di dunia film. Bright star. Sementara pemeran Pi di saat dewasanya adalah Irvan Khan. Kalau pun ada yang kurang dari film ini dibandingkan novelnya, mungkin soal Anandi dan si orang Prancis. Anandi adalah perempuan yang disukai Pi, sementara gue nggak inget ada Anandi di novel, kayaknya nggak ada deh. Sementara si orang Prancis adalah pelaut yang ditemui Pi saat masih terapung-apung di laut. Di novel ada, sementara di film sama sekali nggak ada. Nggak masalah sih sebenarnya. Kedua tokoh itu ada atau tidak, tak berpengaruh ke film secara keseluruhan. It’s still amazingly beautiful tragic. Jadi bagaimana kesimpulan personal report yang O-M-G panjang banget ini? Hehehe it’s a must recommended movie, off course! Buruan nonton sebelum masa tayangnya keabisan yaaa…! 🙂

P.S: Oya soal pelafalan tadi. Di filmnya ternyata pake lafal “Pai”. Hmm… I’m still wondering how it could be …..

Little Mermaid

Ada yang masih inget cerita anak-anak Little Mermaid? Hehehe jujur, gue nggak pernah tau cerita ini coz nggak tertarik cerita model beginian, sampe beberapa hari yang lalu Naula memilih buku ini di Gramedia, sementara Ozza tetep dengan style-nya yang berbeda, memilih buku cerita Dinosaurus yang ada sticker menyala dalam gelapnya, hahaha! Gue ceritain sedikit ya tentang Little Mermaid ini, nanti baru gue bahas alasannya kenapa gue mesti sharing ini sama kalian *as usual, I believe every story needs reason :p*

Ceritanya alkisah di bawah laut hiduplah raja laut dan keenam putrinya yang berupa putri duyung. Fokus cerita ini ya si putri duyung yang bungsu. Tradisinya jika mereka sudah menginjak umur lima belas tahun, mereka diijinkan melihat dunia di atas laut. Nah, setelah si bungsu berulangtahun yang ke-15, saat ia melihat dunia di atas laut, ia bertemu kapal yang tengah ramai merayakan ulang tahun seorang pangeran. Ia pun mendekati kapal dan terpesona menatap pangeran yang sedang berdiri di atas geladak. Sebentar kemudian badai datang dan memporak-porandakan semuanya. Kapal tenggelam, si putri duyung segera mencari pangeran di gelapnya lautan dan menyelamatkannya. Semalaman ia mengapung dengan bantuan ombak sambil memeluk pangeran, hingga paginya badai berhenti dan dibawanya pangeran ke tepi pantai.

Putri duyung segera bersembunyi saat ada seorang wanita berjalan mendekat dari kejauhan. Pangeran terbangun dan mengira si wanita itulah penyelamatnya. Sang putri menjadi sangat sedih. Ia tidak bisa menghampiri pangeran dengan tubuh putri duyungnya, dan hanya bisa berteriak dalam hati. Sejak saat itu ia terus memikirkan pangeran. Setiap hari ia mendatangi tepi pantai tempat ia menyelamatkan pangeran, tapi ia tak pernah bertemu pangeran lagi. Sang putri pun sakit. Karena khawatir, kakak-kakaknya membawanya ke istana tempat pangeran tinggal.

Hingga suatu hari sang putri duyung ingin menjadi manusia dan hidup di atas laut. Ia pun menemui penyihir yang rumahnya ada di bagian laut paling dalam dan gelap. Penyihir memberinya obat agar bisa menjadi manusia, tapi ia harus menyerahkan suaranya yang indah. Dan jika ia tak berhasil menikahi pangeran, ia akan berubah menjadi buih. Sang putri menyanggupinya asalkan ia bisa bertemu pangeran.

Putri duyung pun menuju istana pangeran dan meminum obat itu di tangga istana. Ia lalu pingsan karena rasa terbakar di sekujur tubuhnya. Saat ia terbangun, ternyata pangeranlah yang menemukannya. Pangeran bertanya siapakah nama dan darimana ia berasal. Tapi putri duyung tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena telah memberikan suaranya ke penyihir. Ia hanya bisa memandang pangeran dengan tatapan sedih.

Akhirnya pangeran merawat putri duyung seperti adiknya sendiri. Putri duyung sangat bahagia. Lalu suatu hari, pangeran pergi berkunjung ke negeri tetangga ditemani sang putri. Pangeran terkejut ketika melihat putri negeri tetangga. Ternyata ia adalah wanita yang menyelamatkannya di pantai. Tanpa ragu pangeran segera melamarnya dan menggelar pesta pernikahan yang sangat indah di kapal besar.

Putri duyung sangat sedih. Ia tidak bisa memberitahu pangeran karena ia tak punya suara. Malamnya ia berdiri di atas geladak dan menangis karena fajar nanti ia akan menjadi buih. Pada saat itu kakak-kakaknya muncul dari dalam laut. Rambut mereka yang indah ternyata telah dipotong pendek. Mereka mendapatkan pisau dari penyihir dan membayarnya dengan rambut mereka. Mereka menyuruh sang putri menusuk dada pangeran sebelum matahari terbit supaya ia tetap hidup.

Putri duyung mencengkeram pisau itu dan menyelinap ke dalam kamar pangeran. Saat ia mengangkat tinggi pisaunya, tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran. Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa menusuk pangeran yang ia cintai. Putri pun melempar pisau itu ke laut, memejamkan matanya dan melemparkan dirinya ke laut yang dalam. Tubuhnya lalu berubah menjadi buih-buih yang gemerlapan.

Saat para peri datang untuk membawanya ke surga, putri duyung terbang seakan-akan memiliki sayap. Ternyata ia berubah menjadi peri angin karena ia melakukan banyak kebajikan. Di atas kapal, pangeran dan pengantinnya mencari-cari putri duyung dengan cemas. Putri duyung membelai pangeran dan mencium dahi sang pengantin wanita tanpa ada yang menyadarinya. Lalu terbang ke awan putih bersama peri angin yang lain. “Berbahagialah, Pangeranku…….”

Huhuhu, sedih banget ya ternyata. Gue udah tau sih kalo si Hans Christian Andersen ini pasti kalo bikin cerita ya sedih, tapi nggak nyangka aja setragis ini. Gue udah nyesel aja beli bukunya dan agak-agak was-was nyeritain kisah ironis yang indah ini untuk anak-anak sekecil Ozza Naula. Sebelumnya gue jarang mengkonsumsi mereka cerita-cerita sad ending. Kira-kira gimana respon mereka ya?

Hehehe, dasar emak-emak paranoid. Norak. Padahal sebenarnya kisah itu mungkin bagus untuk anak-anak supaya mereka ngerti realita hidup. Akhirnya untuk mengimbangi kesedihannya, gue lebih bersemangat nyeritain bahwa patung putri duyung bener-bener ada di pelabuhan Kopenhagen Denmark sana, yang dibikin untuk menghormati si penulisnya, si mbah buyut Hans. Juga cerita bagaimana hebatnya mbah Hans jadi penulis terkenal meski orangtuanya cuma jadi pembuat sepatu yang miskin.

Ujung-ujungnya, Naula merespon dengan selalu membawa bukunya kemana-mana, juga saat jalan-jalan, memproklamirkan bahwa itu buku favoritnya seumur hidup *jiah, baru juga umur tiga tahun, haha!* Sementara Ozza, nah inilah alasan gue sharing dengan kalian. Respon Ozza itulah yang bikin gue terhenyak sesaat. Yah, semacam henyakan emak-emak lainnya yang diperoleh saat anak-anaknya kadang membuat ulah tak terduga, tak disangka, tapi membuat bangga.

Ozza tipikal anak yang nggak gitu suka cerita romantis atau sedih. Dia sangat suka cerita lucu dan petualangan. Tokoh-tokoh favoritnya adalah Shrek, George of The Jungle, Shaggy Scooby Doo, Peterpan, Nathalie *anak perempuan bandel yang mimpi jadi backpacker dan punya hobi sadis melempar adiknya kesana-kemari, gue nyeseeellll banget beli buku impor Amerika ini*, Bernard Bear, Paddle Pop, Upin Ipin, Ben10, Diego temennya Dora *bukan Dora-nya lho*, bahkan si lemah Hickup di film How to Train Your Dragon. Sangat jauh berbeda dengan pilihan Naula yang sangat normal dengan Barney, Barbie atau Rapunzel-nya. Hahaha!

Tapi Ozza juga tumbuh menjadi anak yang sangat sensitif. Dia lebih mudah sedih, nangis dan pemurung untuk hal-hal remeh dibanding Naula. Ozza bisa memikirkan satu kisah sedih selama berhari-hari dan membahasnya terus, intinya kenapa sih mesti ada cerita sesedih itu? Kenapa nggak ada yang melakukan sesuatu supaya cerita itu nggak sedih lagi. Ini pernah terjadi saat ia baru tahu cerita Peterpan sebenarnya. Sebelumnya ia hanya mengenal kisah Peterpan dan Jane, anaknya Wendy, versi Peterpan yang kedua, yang lebih happy ending. Ozza nggak habis pikir kenapa Peterpan nggak mau tinggal sama Wendy seperti anak-anak Lostboys lainnya, tapi lebih memilih kesepian bersama Tinkerbell di Neverland sana. Respon inilah yang gue khawatir bakal terjadi setelah gue nyeritain Little Mermaid untuk mereka.

Jadi bagaimana Ozza merespon ini kemudian? Tak disangka dia hanya mengangguk-angguk sambil terus meminum susunya. Juga tak ada pertanyaan-pertanyaan memusingkan dan menyedihkan keesokan harinya. I was really wondering why. Tapi gue sabar menunggu sampe segala sesuatunya jelas. Dan itu ternyata terjawab pagi ini, dua hari kemudian.

Setiap pagi tiap memandikan mereka satu persatu, gue biasa bertanya apa mimpi mereka semalam. Khususnya Ozza karena ia begitu sensitif, supaya gue bisa tahu apa yang terjadi di alam bawah sadarnya. Nah, pagi ini ternyata Ozza nggak menunggu saatnya mandi untuk bercerita apa mimpinya semalam. Sesaat setelah bangun, ia langsung nyari gue dan berteriak gembira :

“Bu! Aku tadi malam mimpi si putri duyung, lho! Aku ada di istana dan aku bilang sama pangeran, kalo sebenarnya yang nyelamatin pangeran itu si putri duyung. Wah pangeran akhirnya menikah sama putri duyung! Putri duyung sangat bahagia! Pokoknya bu, meski di buku dia sangat sedih, dia bisa bahagia di mimpi aku! Putri duyung boleh tinggal di mimpi aku aja, nggak usah di buku!”

Gue terhenyak. Mau nangis, malu. Gue cuma bisa bilang terkagum-kagum, “Kakak Ozza hebat sekali, mau mikirin nasibnya putri duyung. Makasih ya Kakak Ozza, pasti putri duyung kalo tau, dia pilih tinggal di mimpinya Ozza aja daripada di buku”. Gue peluk dia bangga sekali, ternyata dia sudah belajar tidak hanya di tahap mau memikirkan nasib orang lain, tapi juga sudah bisa menemukan solusinya meski sangatlah sederhana. Sama bangganya gue saat ia bercerita beberapa minggu sebelumnya bahwa ia sudah bisa berteman baik dengan Sinta, teman TK-nya yang sangat pemalu dan tidak mau bermain dengan semua orang. Sinta adalah anak baru, dan Ozza memperhatikan bahwa ia sebenarnya sangat kesepian, jadi setiap kali dia ingat, Ozza berusaha mengajaknya bermain meski Sinta tetap diam. Sampe suatu hari, gurunya mengharuskan setiap anak memilih salah satu temannya sebagai pasangan bermain selama satu hari. Tak disangka ternyata Sinta memilih Ozza. Ozza bangga sekali.

Gue tau Ozza di usianya yang lima tahun belum lancar membaca, cuman bisa baca judul-judul, menulis huruf pun masih gede-gede keluar dari garis, bahasa inggrisnya masih sebatas animals, mengajinya baru buku umi dua, atau menghapal surat-surat pendek Al-Qur’an tak secepat teman-temannya yang lain karena dileskan ibunya mengaji-lah, calistung-lah, sempoa-lah, jarimatika-lah. For God’s sake, dia baru lima tahun! Kenyataannya gue malah lebih bangga sampe terisak-isak, kalo ternyata empati Ozza lebih cepat berkembang daripada kemampuannya yang lain. Persis seperti yang kami harapkan dari namanya, Irvana Ozza Al-Zakiya, anak cerdas yang suka menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Semoga hingga dewasa nanti hatimu tetap seputih salju, Nak, tak terpengaruh racun-racun jahat yang membuatmu jadi apatis atau sombong. We love you, Ozza!

Nemu Harta Karun

Yang pasti, yang nemu bukan saya hehehe. Ibu saya pernah bercerita, saat suatu kali beliau bertemu dengan pembeli rumah pertama kami di Cirebon, kami sudah pindah ke Bekasi, si pembeli mengaku telah menemukan harta karun dua karung besar di loteng rumah. Ibu sangat terkejut karena merasa tidak punya harta karun apa-apa, apalagi pake disimpen di loteng segala. Si pembeli tertawa dan bilang bahwa itu isinya buku semua, anaknya benar2 kegirangan mendapat hadiah segitu banyak. Ia bahkan bertanya bolehkah menyimpan harta karun itu. Ibu saya yang baik hati tentu membolehkan.

Satu-satunya yang sedikit kesal dengan cerita ibu adalah saya. Betul kata si pembeli, bahwa itu adalah harta karun. Majalah Bobo periode dua tahun. Saya waktu itu masih kelas 2 SD dan nggak tahu kenapa majalah2 itu menghilang setelah pindahan. Satu-satunya tersangka adalah bapak, karena bapak tipe yang nggak mau repot, pasti beliau yang menyembunyikannya di loteng sebelum saya sadar dan memaksa membawa semua  bundelan itu.

Mungkin kami memang sedikit beruntung dibanding anak-anak kecil lain waktu itu, tapi saya pikir nggak juga. Karena Bapak hanya bersedia berlangganan Majalah Bobo dan kami sama sekali tidak tahu apa itu Lima Sekawan, Trio Detektif, Hans Christian Andersen, Enid Blyton, Agatha Christie, dsb. Kami juga nggak pernah diajak jalan-jalan ke toko buku. Perpustakaan sekolah pun isinya hanya buku-buku jadul macam Layar Terkembang, Siti Nurbaya yang saya nggak suka, atau Majalah si Kuncung yang merupakan majalah langganan perpustakaan. Acara tivi masih terbatas, sementara kami lumayan tidak boleh keluyuran kemana-mana meski bersama teman sekolah. Informasi benar-benar terbatas. Sangat tidak menggairahkan.
Hingga saya pertama kali masuk SMP. Bapak memberi hadiah jalan-jalan ke Gramedia dan boleh memilih satu buku apa saja. Wuih, pengalaman itu begitu membekas. Betapa adrenalin saya terpacu untuk mencari satu buku terbaik di antara lautan buku yang saya tak tahu, semuanya kelihatan sangat menggoda. Betapa dunia ini luas terbentang dan yang saya tahu hanyalah Majalah Bobo. Setelah pergulatan cukup lama, yang saya pilih akhirnya adalah sebuah buku tebal berwarna hijau pupus, dengan cover bayangan seorang pria bertopi dan cerutu di mulutnya. The Return of Sherlock Holmes. Definitely my beloved first book. Suatu hari saya akan membahasnya secara khusus di sini.

Pengalaman itu nyaris seperti trauma. Bahwa saya bertekad untuk tidak mengulangi kealpaan Bapak. Membawa anaknya ke toko buku baru pada usia sedewasa itu. Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada Ozza. Saya bahkan memilihkan buku pertamanya sebelum ia sempat bisa. Hehehe. Saat itu ia berusia enam bulan. Sudah bisa duduk dan menikmati dongeng. Serial Mengenal Binatang karya Sterling adalah buku pertamanya. Ia sangat menyukainya. Hasilnya kata pertamanya adalah ku-da. Bukan ibu, mama atau ayah. Hihihi.

Buku-buku berikutnya tetap saya yang memilihkan hingga tiba saatnya Ozza TK Besar. Setiap ke toko buku, ia membuka-buka buku, menimbang-nimbang mana yang ia pilih dengan sangat percaya diri. Kesukaannya adalah buku-buku yang aneh, yang ada mainannya. Entah itu pop-up book, buku bersenter, atau buku ajaib lainnya yang saya bahkan heran kok ada penulis sekreatif itu. Sementara Naula meski belum sekolah, ia ingin kelihatan sudah besar seperti kakaknya. Jadi ia juga sering memilih sendiri bukunya. Kesukaannya adalah buku-buku yang cantik atau buku yang bercover binatang selembut boneka-bonekanya. Hihihi. Pokoknya saya berikrar: kedua krucil ini akan saya bentuk menjadi monster pemburu harta karun yang rakus, deh! :p

 

Jacob Black

Image
Oke, langsung aja, siapa sih yang gak tau Jacob Black? Hahaha, ternyata banyak juga yg belom tau, temen2 gw terutama, macam Eni Martini – seorang penulis novel yang punya fans tersendiri, atau si workaholic Emot, apalagi Erwin yang dunianya cuman game perang dan kendo, hihihihi paraaahhh kalian! Apa gw-nya aja yak yang ke-gaul-an? Perasaan gw orang yang jadul banget :p

Jadi ceritanya di dunia werewolf itu ada yang namanya imprint, yaitu sebuah metode bagaimana werewolf menemukan belahan jiwanya *tentu saja belahan jiwanya itu manusia juga, bukan serigala hehehe*. Imprint ini lebih kuat daripada cinta, katanya. Sekali seorang werewolf mengalami imprint, dia tak bisa berpaling ke yang lain. Bisa dibilang sudah takdirnya *gampang banget ya, seandainya manusia juga mengalami imprint, gak susah2 nyari jodoh deh, hahahaha tinggal nunggu ketemu ajah heheheh*. Nah di Breaking Dawn ini, ceritanya Bella-Edward menikah, Bella hamil dan ternyata, anaknya Bella inilah imprintee-nya si Jacob. Huh, gak seru. Emang sih Jacob bisa menunggu coz werewolf gak akan pernah menua kecuali dia sengaja meninggalkan kemampuannya berubah bentuk, tapi tetep ajah, gak kreatif amat, ada karakter baru gitu kek, tipe cewek yang jauh mengesankan dibanding Bella, misalnya hehehe.

Bukannya gw anti-Bella sih, tapi ya ampun, kadang gw gak ngerti, apa dia gak cape yak, yang dibahas sama Edward tuh cuman “oh, aku tak akan bisa jauh dari kamu” “oh, dia tampan sekali, aku sampe gemeteran” “aku akan selalu menjagamu sampai kapanpun” bla-bla-bla. Cape bacanya. Bisa dibilang Bella juga amat sangat tergantung sama Edward. Bego banget. Padahal dia itu pinter. Bukannya gw sok feminis, tapi gila yak, itu cewek sok rapuh banget sih, padahal sebenarnya bisa2 aja ngapa2in sendiri. Gak bisa kontrol dirinya sendiri. Belum lagi mupeng-nya itu! Setiap liat Edward, mulai deh mulaaaai, yang dibahas betapa tampannya Edward, betapa indah warna matanya jiaaahh hahahaha. Ini diulang terus di setiap novelnya, bayangkan! Hahahaha nggak ada capeknya yak yang ngarang.

Bukannya gw anti-Edward juga sih. Tapi bagi gw Edward itu ngebosenin, tampangnya pucet banget, cemen, terlalu romantis dan overprotektif. Well, lagian I’ve already have my own Edward hehehe, soalnya nama aslinya Eddie Vedder itu Edward juga hahahaha *ngocol*.

Sementara Jacob? Hehehe gw pernah bahas ini sama elo, Ta. Macho? Cuman macho? Ya ampun, ini gara2 filmnya yang hanya memberi kesan kalo Jacob itu macho. Padahal kelebihan Jacob itu banyak banget!!! Pertama, dia sangat tidak membosankan, mungkin karena dia itu cerdas, baik secara emosi juga logika. Simak aja komunikasinya sama Bella, yang dibahas banyak, gak cuman “Bella! Please pilih gw, jangan pilih si muka pucat, pleaseee…”. Saat dia diskus tentang perasaannya pun yang dipakai adalah bahasa logis, gak mendayu-dayu kayak Edward. Kedua, Jacob sangat hidup *bener kan, logikanya dia lebih hidup dibanding si muka pucat :p*. Hidup Bella lebih berwarna saat bersama Jacob. Mulai dari belajar naik motor, hiking, terjun ke laut dari tebing tinggi, sampe yang sepele seperti nonton bioskop. Meyer bener2 ngegambarin betapa hidupnya keduanya saat bersama2. Ketiga, Jacob itu lucu, hangat, suka nyengir, dan cengirannya amat menular. Orang2 di sekelilingnya pasti ketularan nyengir juga. Jacob juga sinis. Orang yang lucu tapi juga sinis adalah sempurna. Hubungannya dengan Bella keseluruhannya adalah saling mengejek, hahaha bener2 hubungan yang sangat normal.

Yeah, emang sih soal elo pilih yang mana, Jacob atau Edward, adalah tergantung dari kepribadian elo sebagai cewek. Kalo lo cewek romantis pastilah pilih Edward. Cewek umumnya mungkin romantis kali ya, coz kayaknya semua cewek yang gw tau pilihannya ya pasti Edward, hahaha gw baru tahu kemaren dari mbah google kalo banyak juga yang pilih Jacob. Kirain gw doank, hihihihi *norak deh*

Oya, terakhir, ada satu fakta yang menjijikan, gw baru tau kalo si Taylor Lautner, pemeran Jacob Black di filmnya, ternyata adalah pemeran Shark Boy di film anak2 Lava Girl tahun berapa ya lupa. Yang bikin shock, baru kemaren gw nonton bareng film itu sama Ozza en Naula di rumah, jiaaaaah berasa banget dah gw dah tua *si Lautner ini kelahiran tahun 1992! huwahahahahaha* Brondong jagung…..brondong jagung…. satu lima ribu….satu lima ribu…. Huwakakakakakk….

Ok, friends, sekali lagi, sori yah, notes ini mungkin terlalu norak, gak ada ujung dan pangkal, apalagi kesimpulan siapa yang menang hihihi. Gw cuman share sesuatu ajah sama kalian, I miss you all, guuuuyyyys!!!! 😀