Rindu Tere Liye

Well, I admit it, saya baru penasaran siapa sosok Tere Liye sesungguhnya setelah baca novel entah keberapanya yang berjudul Rindu. Novel pertama yang saya baca ya Negeri Para Bedebah, which is very good, tapi nggak tahu kenapa saya belum interest untuk cari tau siapa sosok Tere Liye sang penulis. Dia kan nggak memperkenalkan dirinya di bagian belakang novel, entah itu secuil foto or email. Belakangan guggling nggak taunya yang keluar malah drama populer India berjudul sama, Tere Liye, yang artinya For You. Kayaknya sih bintang utamanya Sharukh Khan gitu. Nah, disinilah penasaran itu tumbuh. Ini penulisnya cewek or cowok sih? Meski saya senantiasa menganggap semua yang berasal dari India itu lebay, tapi untuk nama samaran yang satu ini, penulis saya anggap brilian. Hahaha, tumben. Coz it sounds unique and easy to remember.

Baca lebih lanjut

(Failed) Holiday

Liburan semester kemarin gue bertekad cari liburan murah buat anak-anak. Museum, kebun raya, taman-taman or just local swimming pools, coz tiket pulang pergi ke Bekasi juga nggak sedikit. Destinasi pertama kita adalah Kota Tua, dimana ada Museum Fatahillah, Museum Mandiri, dan beberapa museum lain, jalan-jalan naik sepeda ontel, or ngenalin Ozza en Naula naik bajaj or bemo di kota, plus hunting pemandangan jadul buat koleksi instagram gue. Transportasi kesana di pikiran semua orang Bekasi paling gampangnya adalah kereta, so was mine.

Baca lebih lanjut

Little Chit-chat

Kalo semua emak-emak di dunia ini ditanya kapan periode terbaik anak-anak mereka yang membuat mereka begitu bahagia, maybe periode balita adalah jawaban favorit. Ketidakberdayaan mereka yang menggemaskan, senyum mereka, atau cara tertawa mereka yang lepas dan itu-itu saja terhadap hal-hal sederhana.

Baca lebih lanjut

Beautiful Derawan

derawan

Hehehe, as usual saya selalu bikin laporan perjalanan yang udah basi. Kali ini tentang Pulau Derawan. Tadinya agak2 males sih nulisnya coz actually saya cuman beberapa jam saja di pulau itu, hahaha, kayaknya norak kan kalo akhirnya saya bahkan harus bikin postingan soal itu *halaaah biasanya juga bangga kalo norak*. Tapi saya sudah terlanjur janji sama beberapa teman, yang payahnya saya inget cuman satu: Ririn Menara Miring *nama yang sangat karakteristik kan, orangnya juga :p*. Ririn itu adik angkatan di Mapala jaman kampus kemaren *jiaaah kemaren!* dan dia penggemar penyu. Tesisnya waktu penerimaan jadi anggota penuh Mapala aja nengokin penyu di daerah Ujung Genteng, Sukabumi. Nah, pulau Derawan ini juga jadi salah satu tempat penyu  bertelur atau sekedar ngaso2 sebentar *kecapekan berenang kali yak*, jadilah si Ririn mupeeeeeng…. banget pengen ke pulau ini, hehehe, dan mungkin berpikir sebelum kesana ada bagusnya juga baca review orang norak macam saya, hahaha!

First, meski saya nyasar dan akhirnya nyangkut di Samarinda, Kalimantan Timur, udah sejak …. *mengingat2* OMG! Udah sembilan tahun saya disini!!!…dan saya belum pernah ke pulau Derawan! Kasihan, betapa life menggerus jiwa travelling gila2an saya *halaaah* :D. Sekalinya kesana juga cuman 3-4 jam dan saya dipaksa untuk membuat laporan yang detail, hahaha, Rin, siap2 aja dengan kalimat nggak bermutu seperti “Katanya sih….”.

Yah, meski life perlahan2 menggerus jiwa travelling saya, tapi betapa life juga akhirnya yang mengantarkan saya ke pulau Derawan. Well, kids lagi liburan di tempat mbah uti dan kakungnya di Bekasi, sementara hubby bersama sobatnya, Bimo seorang pemuja model, dapat tugas ke wilayah Berau. Lha saya ngapain di rumah sendirian? Pikir punya pikir, mendingan ikut hubby aja kan, sekalian honeymoon, hehehe. Selesai tugas nggak taunya orang perusahaan tempat mereka bertugas mau ngadain rapat internal di pulau Derawan. Jadilah kami sebagai orang2 udik memohon2 pengen ikut, hahaha! Malu2in, tapi biasanya orang2 norak kayak kita kan nggak tahu malu, dan biasanya orang yang nggak tahu malu itu beruntung! Jadi begitulah sodara2… 😀

Now let’s see some usefull directions how to get there. Oke, untuk kalian yang ada di Jakarta dan sekitarnya, pertama yang harus kamu lakukan adalah survey pesawat murah Jakarta-Balikpapan di internet. Jadwalkan perjalanan sesuai harga tiket. Biasanya murah pas special event selesai, coba hunting dari sekarang untuk periode terbang abis lebaran, temen saya dapet cuman 200 ribuan! Nah, kalo kamu nggak sabaran pengen langsung ke Derawan, survey juga tiket Balikpapan-Tanjung Redeb, pesawat nasional yang kesana cuman Batavia & Sriwijaya. Ada juga pesawat lokal Kalstar, tapi biasanya harganya lebih mahal dari pesawat nasional, lagian cari tiketnya juga nggak bisa via online, meski di bandara Balikpapan bisa langsung cari.

Itu kalau kamu pengen cepet, nah kalau yang kamu pengen itu feel dari perjalanannya, hehehe, ya saya saranin via darat ajah. Jadi dari Balikpapan kamu naik bis ke Samarinda dulu, sekalian nengok2 kakakmu yang norak inilah, terus naik bis lagi ke Berausekitar 16 jam *udah sama istirahat2nya tuh*. Harganya juga nggak bakalan nyampe 100 ribu. Dijamin seru dan lumayan buat hunting foto.

Nah, nyampe di Berau di terminal kota Tanjung Redeb, kamu cari aja mobil2 travel yang bisa anter ke arah Tanjung Batu, setau saya nggak ada bis ke arah sana. Tanya2 aja, poin nanya2 ini juga salah satu nikmatnya perjalanan lho, hehehe. Soalnya kemaren saya dan dua bodyguard diantar langsung pakai mobil pribadi sih, jadi nggak tau situasi di terminal. Penduduk Beraunya aja banyak yang nggak tau. Pemerintah daerah katanya sih peduli soal parawisata, apalagi ada slogan Visit East Kalimantan 2011 dikeluarin oleh Gubernur, tapi nyatanya masalah angkutan darat aja nggak beres. Mungkin wisata yang mereka maksud cuman untuk orang2 kaya banyak duit macam saya dan bule2 itu kali yah, hahaha!

Sebenarnya di Tanjung Redeb ada juga sih pelabuhan kecil tempat mangkal speedboat2 yang bisa antar langsung ke pulau Derawan. Tapi ya itu tadi: MAHAL! Sewanya sekali angkut bisa satu jetian. Ini sih berlaku cuman untuk bule2 dan anggota dewan kali ya, hehehe. Bahkan borjuis macam saya pun merasa sayang buang2 duit sebanyak itu untuk model travelling manja begitu *halaaah!*.

Atau kalau mau nginap dulu di Tanjung Redeb juga nggak ada ruginya. Kelas hotelnya mulai dari bintang tiga sampai kelas melati. Paling murah ada tuh namanya Hotel Herlina, namanya aja hotel, tapi suer itu sih losmen namanya, hehehe. Saya lupa itu losmen di jalan apa, tapi karena itu penginapan sudah tua banget umurnya, supir2 angkot bahkan mungkin semua orang Berau tahu lokasinya. Pokoknya hanya masuk gang dari jalan utama Sudirman. Bangunannya didominasi kayu dan dikelilingi tanaman rindang juga bunga2. Asri. Harganya semalam nggak nyampe 100 ribu. Kamar mandi memang di luar, tapi lumayan banyak dan bersih kok. Kamar nggak ada AC tapi ada kipas angin. Untuk urusan makan bisa di ruang makan losmen, atau mau wisata kuliner di luar juga asyik. Untuk sarapan ada nasi kuning yang enak di daerah tepian *maksudnya tepian sungai*, dekat dermaga penyeberangan. Cotto Makassar yang lezat ada di depan Hotel Sederhana, tinggal jalan sedikit saja kok dari Hotel Herlina. Hidangan laut tersebar di sepanjang jalan utama Sudirman. Tapi kalau mau coba sup asparagus dan aneka masakan kepiting, enaknya ya di restoran, salah satunya Restoran Ponti. Jangan lupa sedia duit banyak kalau kesini, hehehe.

tepianberauOya kota Tanjung Redeb itu dibelah dua sungai besar, ada sungai Segah dan sungai Kelay. Jadi ada daerah tepian sungai yang dijadikan lokasi wisata kuliner oleh pemerintah, yah semacam pantai Losari di Makassar sana. Kalau dari Hotel Herlina bisa pakai angkot, bisa juga jalan kaki. Tanya aja arah ke tepian kemana. Wisata kuliner di tepian ini rame pas sore hari sampai malam. Banyak rupa makanan dan minuman, tinggal pilih.

Selain wisata kuliner, Berau juga punya wisata sejarah. Ada Museum Batiwakkal di jalan Gunung Tabur. Di sini banyak tersedia informasi kerajaan2 Berau jaman dulu, salah satunya Kerajaan Gunung Tabur. Buka hanya di hari libur, sekitar jam sepuluh sampai jam dua siang. Guidenya langsung dari keturunan kerajaan yang tinggal di rumah besar di sebelah museum. Menuju kesini harus menyeberang dulu dari tepian. Berlokasi paling pojok, ada dermaga kecil tempat perahu2 klotok bersedia mengantar kalian menyeberang dengan tarif mirip ojek motor. Kalau cuman ke Gunung Tabur tarifnya hanya 4 ribu. Ada juga Museum Sembakung yang menuju kesana juga pakai perahu klotok dengan tarif nggak nyampe 20 ribu. Katanya sih ada bangkai buaya besar yang dipamerkan di halamannya. Karena buaya itu sering memangsa manusia akhirnya ditangkap dan diairkeraskan.

Oke, kembali ke soal Derawan. Selain speedboat yang harganya muahal, ternyata ada juga perahu klotok yang bersedia nganterin ke pulau Derawan! Widih… kayaknya seru sih, ngebayangin perjalanan menyusuri sungai, yang membelah hutan Berau. Katanya sih kalau beruntung kamu bisa lihat kera Bekantan *itu lho yang jadi simbolnya Dufan* nangkring di pohon2 sepanjang sungai. Perjalanannya sekitar tujuh jam. Lama yak. Kalau saya sih mendingan via darat saja, ke Tanjung Batu dulu, karena well, faktanya saya nggak bisa berenang dan perahu klotok itu kecil, gampang goyang2, yang ada selama tujuh jam bisa2 saya tegang pegangan terus sama perahu, meski saya bisa pura2 kelihatan santai, hahaha! Itu baru sungai, belum mengarungi laut menuju pulau Derawan yang kalian tahu kan arus ombak kadang nggak bisa ditebak? Jadi mendingan via Tanjung Batu saja. Perjalanan darat Tanjung Redeb-Tanjung Batu bisa dicapai 3-4 jam. Jalannya bagus kok, pemandangannya juga oke. Menyeberang ke Derawan bisa pakai speedboat dengan tarif 400 ribu PP. Yah, prinsip saya dalam travelling, ada saatnya sok miskin, tapi ada juga saatnya sok borju. Itulah namanya liburan, tujuannya supaya bisa menikmati kan? Bukan menderita hehehe.

Nah, sesampai di windsurfingTanjung Batu langsung ke pelabuhan kecil yang surprisenya, nggak ada toiletnya! Bahkan di warung makan sekitar situ juga nggak ada. Bingung deh, cewek2 penjaga warung itu kalo pipis dimana ya? Asal jongkok aja gitu kali ya? Hehehe. Pokoknya waktu itu saya sih nggak menyerah, hunting toilet sama hubby. Akhirnya nemu sih di Pusat Pelatihan Olahraga Nusa Bahari, tempatnya udah reyot tapi lumayan memadailah, karena di dalamnya ternyata ada mess buat atlet2 Sailing, dan kalian paham kan dimana ada mess disitu pasti ada toilet! Hehehe, mayan bersih dan ada dua lagi!

Eh, hampir lupa. Di Pusat Pelatihan Olahraga Nusa Bahari itu ternyata kita bisa juga ikutan windsurfing atau bahkan sailing. Udah pasti nyewa perahu layarnya, dan ini khusus untuk yang udah bisa aja lho ya. Tapi mungkin ada aja kali atlet2 cowok di situ yang bisa digombalin dan bisa minta diajarin sailing? Hihihi. Tapi biar keren bawaannya *Sailing, bo!* mereka kayaknya pemalu2 gitu, jadi mesti kamunya yang agresip, Rin! Nggak usah diajarin kan caranya, hahaha!

Sebelum nyeberang ke Derawan, bagusnya makan2 dulu kali ya? Menu ikan laut bakar yang dijamin enak ada di Cafe Pantai. Namanya aja kok cafe, wujudnya sih warung biasa, hehehe. Ada baliho biru gede dipasang di atas warung, jadi kamu pasti gampang nemuinnya. Pilihan ikannya lumayan, ada baronang, ikan putih, kakap, kerapu, bawal, trekulu. Katanya sih yang paling enak dan harganya mahal di pasaran itu ya ikan kerapu dan trekulu. Tapi saya sebagai pecundang di wisata kuliner, intinya asal makan aja deh, waktu itu cuman pilih ikan putih yang dagingnya lembut, jadi aman di lidah hehehe. Cuman ati2 sama sambelnya, puedes banget!

Yang punya cafe namanya ibu Neneng Kartini, dan poin plus lainnya: ibu Neneng ini punya kontak terhadap puluhan motorist yang bisa antar kalian ke Derawan! Jadi tinggal bilang aja sama ibu Neneng, selesai makan, pasti deh motoristnya udah siap nganter. Oya nomor hape ibu Neneng boleh dicatet: 081347803526, yah siapa tahu pengen konfirmasi jauh2 hari untuk rombongan atau mau cari penginapan di Tanjung Batu dulu nyobain windsurfing/sailing.

ikanbakarWaktu itu kami baru sempet makan siang sekitar jam setengah satu, blep blep blep makan cepet2 terus langsung nyeberang deh, supaya nggak kesorean. Oya karena kami cuman mampir sebentar dan rencana sore pulang, kami pun mencarter speedboatnya PP, seharga 400rb. Hebatnya, sekalipun ada rencana nginep di Derawan, harganya tetap sama 400rb, jadi nanti dia jemput kalo kamu pengen pulang. Jadi kamu nggak harus membayar biaya bolak-baliknya dia. Berarti mereka nggak pake sistem kapitalis. Mereka cuman orang2 lokal yang perlu makan, punya modal, dan kebetulan baik hatinya. Sayangnya problem mereka terbesar hanyalah bensin! Makin langka dan pemerintah daerah juga belum mengupayakan penyelesaiannya. Antrian panjang di pom bensin masih jadi pemandangan biasa. Padahal Kaltim kan propinsi penghasil? Padahal kan katanya Visit East Kalimantan 2011??? Mana buktinya? Mana? Manaaa??*emak2 stres*

Perjalananbimo3 Tanjung Batu-Derawan dengan speedboat cuman makan waktu 30 menit. Itu juga udah lengkap dengan manuver belok2nya motorist, kan dia nggak mau ngelawan arus ombak, go with the flow katanya, hahaha! Sesampai di Derawan, kami semua dibuat takjub. Betapa putih pasirnya. Betapa hijau dan bening airnya. Ditambah barisan pohon cemara yang sengaja ditanam oleh penduduk lokal, diselingi pohon kelapa dan semak2 rimbun disana-sini, sejumlah cottage dan restoran, membuat kami mendadak sejuk *dasar borjuis*. Langsung saja saat itu saya praktekin ilmu abal2 fotografi saya, potret sana-sini, dan Bimo ternyata memendam bakat narsis luar biasa, dia ngebet jadi model di semua pemandangan yang saya potret, hahaha!

penyu1Setelah cukup foto2 di dermaga kecilnya yang menjorok ke laut, kami dikejutkan oleh kemunculan si cantik penyu hijau (Chelonia Mydas), yang asyik berenang menimbul2kan kepalanya tepat di bawah dermaga sonoan dikit. Wiiihhh… cantiknya! Sayang kamera saya bukan tele, bukan profesional juga, jadilah fotonya agak2 memprihatinkan. Nyesel sih tapi apa daya!

Kami pun beranjak menuju pulau, meniti jembatan panjang yang artistik, pasti bagus banget kalo difoto. Lagi2 Bimo bersedia jadi modelnya, meski dia sedikit nyesel karena dia lupa ngumpetin sendal jepitnya, hahaha! Katanya itu pemandangan yang nggak banget deh! Padahal bagus2 aja, saya kan penganut aliran realisme, hehehe.bimoduduk

Sesampai di pulau, istirahat sebentar di bawah rindangan pohon, sementara pak Purwantoro, orang perusahaan yang mengantar kami langsung menggabungkan diri ke kelompoknya untuk mulai rapat internal. Sedangkan kami, trio kwek2, nggak ada rencana apa2, nggak banget untuk berenang atau nyelam karena itu jam setengah dua, lagi panas2nya, jadi ya udah jalan kaki keliling pulau adalah pilihan paling rasional.

gueSo, apa yang kami temui di sepanjang jalan? Selain sejumlah restoran, cottage, penginapan, dan sejumlah penduduk lokal yang menyewakan alat snorkeling amatiran, kacamata selam, kaki kodok/finn, sampan, ban bahkan perahu, ada juga tempat voli pantai yang dibangun khusus. Bagus dan memenuhi standar internasional *sok tahu*. Ternyata itu memang lokasi untuk pertandingan voli pantai PON tahun 2008 yang lalu. Tahun itu Kaltim memang lagi kebagian jatah penyelenggaran PON. Selain pemandangan itu semua, sisanya adalah lautan pasir putih dan pantai yang landai. Well, setidaknya beberapa ratus meter ke arah kiri dari cottage sih, coz Bimo memutuskan balik dan cari es kelapa seger. Capek dan panas, katanya, toh pemandangannya bakal itu2 aja kan? Hahaha! Payah deh bawa anak manja.

ivan1Akhirnya dalam rangka hunting es kelapa seger, kami menuju belakang cottage, ke arah pemukiman penduduk, yang terpisahkan tembok batako. Ajang foto2 masih belum keabisan bahan. Bimo tetep ngotot jadi modelnya, tentu saja! Hihihi. Jalanan kampung Derawan sama seperti jalanan kampung pesisir dimana2, putih bersih dan menyilaukan. Lumayan asyik menyusuri jalanan kampung, kita diliatin layaknya turis *halaaah*.

Di beberapa titik ada sejumlah toko yang menjual souvenir. Kalau diperhatiin sih, kayaknya itu souvenir kebanyakan dari Bali deh, meski nggak ada tulisan Balinya. Ada kaos2 juga daster *daster!* berbahan ringan tipis, celana2 pendek santai, topi pantai de el el. Kenapa saya curiga itu bukan asli Derawan, karena harganya lumayan mahal! Masak kaos anak2 yang saya taksir harganya sudah kayak di Taman Safari, 70 ribu?? Celana pendeknya juga 50 ribuan. Daster yang nggak bakalan saya lirik tapi saya penasaran sama harganya juga ternyata 60 ribu, hahaha! Malas ah. Mendingan soevenir asli Derawannya, yang kemungkinan cuman pernik2 mungil dan terbuat dari binatang/tumbuhan laut.

souvenirPaling khas ya gelang atau cincin yang terbuat dari cangkang penyu. Tapi yang jadi masalah adalah kalau cangkangnya diambil sudah pasti si cantik mesti dibunuh ya kan? Nah, ini yang saya tanyakan ke si penjual souvenir. Dia bilang sekarang nggak begitu. Katanya gelang2 dan cincin itu sekarang terbuat dari kulit penyu yang sudah ganti kulit. Masak sih? Ini saya crosscheck ke seorang teman yang bertugas di BKSDA – Konservasi punya. Ternyata ugh, mereka pembohong! Ternyata nggak mungkin penyu itu ganti kulit. Lagian juga nggak mungkin kulit penyu bisa dijadikan gelang atau cincin. Udah pasti itu si cantik dibunuh! Dan kenapa pembunuhan2 itu ternyata masih berlangsung? Tanya kenapa! *emak2 stres setengah mati*

eskelapa2Oke, sudah capek liat2 souvenir , baru deh saya menyusul hubby yang sudah asyik minum es kelapa di seberangnya. Wuiiihhh…. memang segeerrrr…… es kelapanya dicampur sirup pemanis warna merah. Sebenarnya saya lebih suka dicampur gula merah, tapi gula merah jarang ada di pulau, jadi yah telen2 aja lah, segernya nggak nanggung2 kok! Bapak pemilik warung itu orang Bugis, beliau langsung men-judge kami yang mengaku turis dari Samarinda: Hah! Buang2 duit saja kalian! Masih muda itu banyaklah bekerja, jangan senang2 dulu! Hihihi, nyeruput es kelapa sambil tau2 dimarahin seorang bapak tua, mampuslah kita! Tapi Bapak itu nggak bermaksud menyinggung kok, memang gayanya bicaranya begitu. Maksudnya sih baik. Jadi respon kami apalagi selain nyengir2 nggak jelas, hahaha! Terus si bapak cerita ini itu, bahwa beliau sudah sekitar lima belas tahun lebih merantau di Derawan, berjuang dari nol, sampai punya rumah, warung kecil dan motor. Beliau juga nyerempet2 soal perdagangan kayu, yang artinya kemungkinan si bapak pernah nyebur juga di dunia itu, layaknya sebagian besar pendatang yang ngiler dengan kekayaan hutan tanah Borneo *sigh*.

jalanNggak kerasa waktu berjalan cepat. Tau2 sudah jam empat dan kami dipanggil Pak Purwontoro. It’s time to go home. Jadilah kami menemui pak Purwantoro yang masih saja rapat, sementara kami dengan cueknya mencicipi snack rapat, hahaha! Sayang sih sebenernya kalo kami harus cepat2 pulang, karena sebentar lagi jam lima matahari pasti sudah user friendly banget *jam empat mataharinya masih galak*, kami bisa berenang, menyelam atau bersua dengan si cantik penyu2 hijau yang suka mampir di sekitar cottage. Setiap malam penyu2 itu bahkan suka bertelur di sekitar itu pula! Ugh, tapi apalah daya kami para penumpang gelap.

Jam setengah lima rapat selesai kami pun pulang. Hiks. Tapi pak Purwantoro ternyata orang yang sangat baik hati. Dia menyuruh motorist untuk mencari penyu hijau dulu ke sekeliling pulau, dan membiarkan kami foto2 dari dekat. Speedboat pun menuju ke arah sisi lain pulau, dimana ada penginapan yang menjorok beberapa meter ke tengah laut. Ya, selain cottage2 mahal itu yang charge-nya minimal 350 ribu semalam, penginapan2 murah ini terbuat dari kayu2 ulin dan harganya sekitar 200 ribu semalam. Ah, masih mahal juga kalau dari kantong kita2 pastinya *katanya borjuis*. Mendingan menginap di rumah2 penduduk. Katanya sih cari aja penginapan HAMS atau Yogie Mas, tarifnya45 ribu sampai 100 ribu semalam. Yah, lumayanlah. Toh kita kan cuman numpang tidur.

penyu2Oowwh, akhirnya kami menemukan si cantik. Ia tengah menikmati daun pisang yang memang sengaja dilempar ke laut setiap sore di bawah tangga penginapan untuk memberi makan si penyu. Penyu yang sama selalu hapal dan mampir, bahkan ia juga punya nama! Hehehe saya lupa sih namanya, tapi lumayanlah heboh2 dikit ngeliatnya. Nggak cuman dari jauh ia terlihat cantik, ternyata dari dekat ia lebih cantik! Pokoknya Rin, kalau soal pengalaman berdekatan sama penyu, jelas kamu lebih jagoanlah, saya sih nggak ada apa2nya, cuman lucky bastard aja saya bisa ke Derawan, hehehe.

Nah, sebelum saya tutup catatan perjalanan yang nggak mutu ini, bagusnya ditambahin data2 akurat kali yaa, biar sedikit bermutu, hehehe. Kalau wikipedia bilang, ternyata Pulau Derawan sejak tahun 2005 sudah dicalonkan jadi Situs Warisan Dunia UNESCO! Weits, keren juga yak. Tapi nggak tahu gimana nasibnya sekarang apa masih calon apa sudah dipinang, sudah enam tahun lamanya lho. Hehehe, mendingan kita cari tahu kenapa dia dicalonin.

Well, Pulau Derawan terkenal dengan wisata selamnya, ia punya taman laut yang indah dengan kedalaman lima meter dan beragam biota, mulai dari cumi2, lobster, ikan pipa, gurita, kuda laut, belut pita dan ikan skorpion. Hellooo… wikipedia, kemana penyu hijaunya??? Aneh! Yang paling banyak malah nggak disebut sama sekali, huh! Terus di kedalaman 10 meter, terdapat batu karang yang dikenal sebagai Blue Trigger Wall, karena pada karang sepanjang 18 meter itu banyak ikan trigger.

Talking about diving, ternyata Pulau Derawan punya 28 titik menyelam yang sudah diidentifikasi. Setidaknya butuh 10 hari untuk menjelajahi semua titik itu. Pindah dari satu titik ke titik lainnya ya mesti pakai kapallah. Kebayang kan betapa asyiknya jadi orang kaya, dengan catatan dia bukan pegawai yang dipaksa tunduk dengan paksaan menabung dan masa cuti! Eh, emang ada pegawai yang kaya? *sinis*

Selain bisa menyewa alat snorkeling amatiran di sepanjang pantai atau di cottage/penginapan, kamu juga bisa menyewa yang profesional di Derawan Dive Resort. Katanya sih tarifnya bisa nego. Katanya juga, meski kebanyakan kita itu penyelam amatiran, kita bisa tetep ketemu penyu cantik dan jinak berkeliaran di sekeliling kita, meski kita cuman ngapung2 ngambang di permukaan pantai! Oowwhh, mupeng, mupeng deh!

Oya selain Derawan, banyak juga pulau eksotik lain yang bisa dikunjungi. Ada pulau Sangalaki, Maratua dan Kakaban. Kalau Pulau Sangalaki punya populasi ikan pari biru (Manta Rays) yang lebarnya bisa mencapai 3,5 meter. Eh, ikan pari yang ngebunuh Steve Irwin tuh jenis yang biru apa hitam yak? *serem*. Sementara di Kakaban ada Danau Prasejarah yang ada di tengah laut, satu2nya di Asia.

Jadi kesimpulannya kalau kamu bener2 ingin berlibur kesini, mendingan nabung banyak2 deh, rugi kalau cuman 3-4 jam mampir seperti saya, well meski saya masih merasa lucky bastard dan bisa bikin catatan perjalanan sepanjang ini! Hehehe. Good luck, enjoy travelling!

Bulutangkis, I will always Love You!

susisusantiBeberapa hari yang lalu si ayah mengajak saya berlatih tenis. Tenis? Ngapain? Nggak ah, saya lari saja lucu, apalagi olehraga pertandingan macam begitu? Saya yakin saya bahkan nggak bakal lulus sedari pelajaran basic: cara memegang raket tenis! Hahaha.

Lagian tenis itu kurang seru. Baru seru kalau yang main Nadal, selain itu, coret! Hahaha. Saya suka style cueknya. Dan saya selalu menunggu2 ritualnya setiap menjelang servis: pegang kuping kanan, kuping kiri, terus pegang pantatnya, hahaha!

Kenapa kurang seru? Pertama saya nggak ngerti sistem skornya. Bahkan nggak mau repot2 untuk ngerti. Kedua saya pusing nontonnya. Saya pernah diajak si ayah nonton dia main tenis. Pertama saya tonton dari samping. Baru beberapa menit leher saya pegal karena terus mengikuti bola yang mendesing lurus secepat kilat bolak balik. Oke saya tonton dari belakang. Ugh, ternyata nggak asik juga. Bosen. Nggak ada serunya. Mereka bahkan nggak keringetan. Hahaha. Akhirnya saya memilih blogwalking daripada nonton mereka.

Daripada tenis, jelas saya lebih suka bulutangkis. Mungkin bisa ada penjelasan yang menarik dari sisi kepribadian disini. Siapa sih yang nggak suka nonton bulutangkis di Indonesia? Saya rasa nggak ada. Pertama saya nggak pusing nontonnya, adrenalin malah terpacu, padahal cuman nonton. Pertama karena lop2 bola yang mendebarkan, kedua smash2 hebat yang menggetarkan. Pemainnya keringetan. Lari kesana kemari dengan gerakan indah dan tangkas. Berjuang poin demi poin, hati2 mengatur strategi untuk dua-lima langkah ke depan.

Yang disayangkan cuman satu, sistem skornya sekarang sangat mengecewakan. Kalo kata si ayah, yang dulu suka main bulu tangkis juga, sistem skor itu adalah usulan dari pemain2 Eropa yang manja karena kalah mulu dari pejuang2 hebat Asia, khususnya Indonesia. Saya penasaran bagaimana perdebatan di IBF dulunya, sampai akhirnya tercipta sistem skor sialan sekarang. Masak sih cabang2 IBF di Asia bisa kalah debat dari Eropa sana? Atau apa suara mereka juga mendukung sistem skor yang sekarang? Katanya sih bahkan China mendukung sistem yang baru. F**k! Katanya cuman Indonesia yang keras2an mempertahankan sistem skor lama. Tentu saja kalah, karena atas nama demokrasi sialan, dimana suara terbanyak adalah suara rakyat, maka sistem skor elegan itu mesti kalah.

Sistem skor kapitalis. Mengeruk keuntungan poin demi poin bukan dari perjuangan sendiri, tapi dari kesalahan lawan? Bah! Itu jelas sistem rakus, pokoknya bagaimana caranya mengeruk untung sebesar2nya dengan memaksimalkan segala sisi, bahkan sisi kelemahan lawan. Jadi dimana sikap sportif elegan yang membanggakan, yang lahir dari perjuangan mencapai poin demi poin, yang ampun betapa hal itu memberikan pertunjukan terhebat sepanjang masa.

Betapa semua orang tak akan lupa saat Peter Gade, pemain Denmark, saya lupa waktu All England atau Olimpiade ya,  dimana ia sudah kalah poin jauh sekali, tapi masih bisa mengejar skor dan akhirnya menang? Oh Gosh, betapa tidak hal itu menularkan sikap penuh perjuangan? Atau Ardy B Wiranata yang pernah di posisi sama? Pantas saja Susi Susanti tak ingin melatih seorang pun pemain bulutangkis Indonesia, karena menurutnya pemain sekarang KURANG punya semangat juang. Jelas saja! Karena mereka dibesarkan oleh sistem sialan yang mereka bahkan nggak menyadari sudah dibodohi dan diracuni.

Saya kadang bingung. Kenapa sih Indonesia mesti tergantung sama perkumpulan2 olahraga internasional? Lama2 saya sebel juga menghadapi mereka. Ini baru IBF. Belum lagi FIFA yang hanya diam teserah Indonesia bagaimana menangani sendiri kemelut bolanya. Kenapa sih FIFA nggak keluarin pernyataan saja, membolehkan entah itu ISL kek, IPL kek, intinya adalah semuanya bertujuan meramaikan dunia bola Indonesia, membuat bola Indonesia bisa bangkit lagi. Mungkin itulah maksud organisasi2 sialan itu. Membuat Indonesia nggak bisa lagi hebat di bidang apapun. Entah itu bulu tangkis, bola. Atau kalo mau dilihat dari sisi parnonya, Indonesia bahkan diserang dari segala lini. Dari olahraga oleh organisasi2 internasionalnya, sumber daya alam oleh investasi raksasanya, generasi muda oleh narkobanya, sampai sistem politik begok yang ngapain sih mereka menerapkan demokrasi Barat? Bukannya sudah ada demokrasi Pancasila? Dimana solusi diperoleh bukan dari suara terbanyak, tapi dari hasil musyawarah dan mufakat??? Pertama hapus sistem partai. Isilah DPR hanya untuk orang2 pintar yang dipilih oleh rakyat, bukan karena ia mencalonkan diri. Online ajah. Masing2 propinsi ajukan orang. Terus presiden juga pilih langsung. Mungkin seperti waktu semua orang Indonesia memilih Soekarno. Gimana sih caranya waktu itu? Hebat tuh. Sementara Menteri ambil yang dari karir. Supaya menterinya ngerti apa yang harus dilakukan. Bukannya belajar dulu atau langsung embat anggaran ini itu. Jadi semua adalah hasil musyawarah mufakat, sekali lagi bukan suara terbanyak.

Aiiih aiiih….. Indonesiaku tersayang, bulutangkisku tercinta, padahal awalnya saya pengen cerita bagaimana hebohnya saya saat pertama kali ikut klub bulutangkis. Hahaha. Sebelumnya saya nggak pernah sekalipun main bulutangkis. Saya cukup suka nonton di tipi sampai mabok. Nah, pas saya ditempatkan di tanah Borneo, sekitar delapan tahun yang lalu, saya nggak punya teman. Saya masih meraba2 cara gaul orang2 lokal, apaan yak, ternyata mereka punya klub bulutangkis yang sangat aktf. Jadilah dengan semangat saya daftar, langsung beli raketnya, yang ternyata mahal sekitar 400rb, gagang titanium, katanya sih nggak gampang patah, warnanya hijau pupus, dengan lugunya saya beli. Saya lupa mereknya. Ternyata itu merek lumayan terkenal. Karena beberapa pemain langsung ngiler liat raket saya. Terus saya juga beli sepatu olahraga. Salah beli lagi. Yang saya pilih malah sepatu kanvas yang buat jalan2, hahaha. Jelas berat buat melangkah atau lari. Tapi saya cuek. Toh fungsinya jadi bisa dua: jalan2 dan olahraga. Hahaha.

Beberapa kali latihan ternyata tidak berhasil membuat saya tertarik menjadi pemain. Rasanya cukuplah takdir saya menjadi penonton yang bersemangat. Hahaha. Saya bahkan nggak bisa memperbaiki pegangan tangannya. Males ngejer bola. Nggak bisa2 smash. Cuman bisa lop2an dengan gaya membosankan. Hahaha. Cuman cari keringat. Ya udah, ketemu bulan puasa, langsung aja deh berhenti, hehehe. Cuman saya tetap semangat nonton. Yah, gitu deh, saking semangatnya, sampe akhirnya berhasil juga saya menggaet salah satu diantara mereka untuk menjadi suami, hehehe! Pokoknya, Bulutangkis, I will always love you deh!