Jackie : A Distemper Survivor

JACKIE : A DISTEMPER SURVIVOR. Meet our Jackie. Awalnya Jackie cuman kucing kampung biasa yang nyasar ke rumah kami dan akhirnya betah karena sering dikasih makan. Tadinya sih dia nggak boleh masuk rumah, seperti halnya kucing-kucing lain yang suka nongkrong di depan pintu dapur kami minta makan. Karena kids gemes banget sama mata bulat besarnya, mereka memohon-mohon supaya Jackie dibolehkan masuk. Saya pun luluh. Dan yah, mata bulat besarnya itu berhasil melelehkan enggak hanya saya, tapi juga si Ayah. Dari hanya sekedar main-main, nginep sekali-sekali, dan akhirnya sekarang berstatus penghuni tetap.  Hehehe.

jackie fix

Beberapa hari yang lalu, tetiba dia nggak mau makan dan suka ngilang nggak tahu kemana. Oke, saya pikir ini biasa aja. Toh waktu kapan itu dia birahi juga begitu tingkah lakunya. Eh tapi waktu itu dia pake teriak-teriak sih dengan suara cemprengnya :). Nah sekarang ini sunyi senyap. Kenapa ya dia. Esoknya tau-tau dia pulang dengan langkah gontai dan mata tak bercahaya. Tetap nggak mau makan, hanya tidur dan tidur. Oke, saya pikir dia sakit. Tapi saya masih menganggap itu penyakit kucing kampung. Mereka bakal sembuh sendiri.

Baca lebih lanjut

(Failed) Holiday

Liburan semester kemarin gue bertekad cari liburan murah buat anak-anak. Museum, kebun raya, taman-taman or just local swimming pools, coz tiket pulang pergi ke Bekasi juga nggak sedikit. Destinasi pertama kita adalah Kota Tua, dimana ada Museum Fatahillah, Museum Mandiri, dan beberapa museum lain, jalan-jalan naik sepeda ontel, or ngenalin Ozza en Naula naik bajaj or bemo di kota, plus hunting pemandangan jadul buat koleksi instagram gue. Transportasi kesana di pikiran semua orang Bekasi paling gampangnya adalah kereta, so was mine.

Baca lebih lanjut

Daughter of Pearl Jam

Image

Gue ambil gambar ini dari video yang diupload oleh lightokdio di YouTube sebagai pengantar lagu Daughter, an old song from Pearl Jam. Lagu ini bercerita tentang seorang anak perempuan pengidap disleksia dengan ibu megalomaniak yang percaya bahwa juara satu adalah segalanya. Gue emang fans Pearl Jam, jadi so pasti suka lagu ini. Musiknya asyik, liriknya meaningful, dan meski saat itu gue ngerti artinya, tapi ternyata baru beberapa hari ini gue mendadak jadi mellow kalo denger lagu ini. Nelangsa. Pengen mewek mulu. Maybe this is only the soft side of my motherly calling, whatever-lah, or just a guilty mom side yang kalo saat ngajarin anaknya belajar pake stress en teriak-teriak :(. Just look at this young girl. Look at her eyes. Owkeh, gue mewek lagi. Saking mellow-nya, akhirnya kepikiran pengen translate  liriknya Daughter. Let’s try these.

Baca lebih lanjut

Little Chit-chat

Kalo semua emak-emak di dunia ini ditanya kapan periode terbaik anak-anak mereka yang membuat mereka begitu bahagia, maybe periode balita adalah jawaban favorit. Ketidakberdayaan mereka yang menggemaskan, senyum mereka, atau cara tertawa mereka yang lepas dan itu-itu saja terhadap hal-hal sederhana.

Baca lebih lanjut

Little Mermaid

Ada yang masih inget cerita anak-anak Little Mermaid? Hehehe jujur, gue nggak pernah tau cerita ini coz nggak tertarik cerita model beginian, sampe beberapa hari yang lalu Naula memilih buku ini di Gramedia, sementara Ozza tetep dengan style-nya yang berbeda, memilih buku cerita Dinosaurus yang ada sticker menyala dalam gelapnya, hahaha! Gue ceritain sedikit ya tentang Little Mermaid ini, nanti baru gue bahas alasannya kenapa gue mesti sharing ini sama kalian *as usual, I believe every story needs reason :p*

Ceritanya alkisah di bawah laut hiduplah raja laut dan keenam putrinya yang berupa putri duyung. Fokus cerita ini ya si putri duyung yang bungsu. Tradisinya jika mereka sudah menginjak umur lima belas tahun, mereka diijinkan melihat dunia di atas laut. Nah, setelah si bungsu berulangtahun yang ke-15, saat ia melihat dunia di atas laut, ia bertemu kapal yang tengah ramai merayakan ulang tahun seorang pangeran. Ia pun mendekati kapal dan terpesona menatap pangeran yang sedang berdiri di atas geladak. Sebentar kemudian badai datang dan memporak-porandakan semuanya. Kapal tenggelam, si putri duyung segera mencari pangeran di gelapnya lautan dan menyelamatkannya. Semalaman ia mengapung dengan bantuan ombak sambil memeluk pangeran, hingga paginya badai berhenti dan dibawanya pangeran ke tepi pantai.

Putri duyung segera bersembunyi saat ada seorang wanita berjalan mendekat dari kejauhan. Pangeran terbangun dan mengira si wanita itulah penyelamatnya. Sang putri menjadi sangat sedih. Ia tidak bisa menghampiri pangeran dengan tubuh putri duyungnya, dan hanya bisa berteriak dalam hati. Sejak saat itu ia terus memikirkan pangeran. Setiap hari ia mendatangi tepi pantai tempat ia menyelamatkan pangeran, tapi ia tak pernah bertemu pangeran lagi. Sang putri pun sakit. Karena khawatir, kakak-kakaknya membawanya ke istana tempat pangeran tinggal.

Hingga suatu hari sang putri duyung ingin menjadi manusia dan hidup di atas laut. Ia pun menemui penyihir yang rumahnya ada di bagian laut paling dalam dan gelap. Penyihir memberinya obat agar bisa menjadi manusia, tapi ia harus menyerahkan suaranya yang indah. Dan jika ia tak berhasil menikahi pangeran, ia akan berubah menjadi buih. Sang putri menyanggupinya asalkan ia bisa bertemu pangeran.

Putri duyung pun menuju istana pangeran dan meminum obat itu di tangga istana. Ia lalu pingsan karena rasa terbakar di sekujur tubuhnya. Saat ia terbangun, ternyata pangeranlah yang menemukannya. Pangeran bertanya siapakah nama dan darimana ia berasal. Tapi putri duyung tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena telah memberikan suaranya ke penyihir. Ia hanya bisa memandang pangeran dengan tatapan sedih.

Akhirnya pangeran merawat putri duyung seperti adiknya sendiri. Putri duyung sangat bahagia. Lalu suatu hari, pangeran pergi berkunjung ke negeri tetangga ditemani sang putri. Pangeran terkejut ketika melihat putri negeri tetangga. Ternyata ia adalah wanita yang menyelamatkannya di pantai. Tanpa ragu pangeran segera melamarnya dan menggelar pesta pernikahan yang sangat indah di kapal besar.

Putri duyung sangat sedih. Ia tidak bisa memberitahu pangeran karena ia tak punya suara. Malamnya ia berdiri di atas geladak dan menangis karena fajar nanti ia akan menjadi buih. Pada saat itu kakak-kakaknya muncul dari dalam laut. Rambut mereka yang indah ternyata telah dipotong pendek. Mereka mendapatkan pisau dari penyihir dan membayarnya dengan rambut mereka. Mereka menyuruh sang putri menusuk dada pangeran sebelum matahari terbit supaya ia tetap hidup.

Putri duyung mencengkeram pisau itu dan menyelinap ke dalam kamar pangeran. Saat ia mengangkat tinggi pisaunya, tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran. Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa menusuk pangeran yang ia cintai. Putri pun melempar pisau itu ke laut, memejamkan matanya dan melemparkan dirinya ke laut yang dalam. Tubuhnya lalu berubah menjadi buih-buih yang gemerlapan.

Saat para peri datang untuk membawanya ke surga, putri duyung terbang seakan-akan memiliki sayap. Ternyata ia berubah menjadi peri angin karena ia melakukan banyak kebajikan. Di atas kapal, pangeran dan pengantinnya mencari-cari putri duyung dengan cemas. Putri duyung membelai pangeran dan mencium dahi sang pengantin wanita tanpa ada yang menyadarinya. Lalu terbang ke awan putih bersama peri angin yang lain. “Berbahagialah, Pangeranku…….”

Huhuhu, sedih banget ya ternyata. Gue udah tau sih kalo si Hans Christian Andersen ini pasti kalo bikin cerita ya sedih, tapi nggak nyangka aja setragis ini. Gue udah nyesel aja beli bukunya dan agak-agak was-was nyeritain kisah ironis yang indah ini untuk anak-anak sekecil Ozza Naula. Sebelumnya gue jarang mengkonsumsi mereka cerita-cerita sad ending. Kira-kira gimana respon mereka ya?

Hehehe, dasar emak-emak paranoid. Norak. Padahal sebenarnya kisah itu mungkin bagus untuk anak-anak supaya mereka ngerti realita hidup. Akhirnya untuk mengimbangi kesedihannya, gue lebih bersemangat nyeritain bahwa patung putri duyung bener-bener ada di pelabuhan Kopenhagen Denmark sana, yang dibikin untuk menghormati si penulisnya, si mbah buyut Hans. Juga cerita bagaimana hebatnya mbah Hans jadi penulis terkenal meski orangtuanya cuma jadi pembuat sepatu yang miskin.

Ujung-ujungnya, Naula merespon dengan selalu membawa bukunya kemana-mana, juga saat jalan-jalan, memproklamirkan bahwa itu buku favoritnya seumur hidup *jiah, baru juga umur tiga tahun, haha!* Sementara Ozza, nah inilah alasan gue sharing dengan kalian. Respon Ozza itulah yang bikin gue terhenyak sesaat. Yah, semacam henyakan emak-emak lainnya yang diperoleh saat anak-anaknya kadang membuat ulah tak terduga, tak disangka, tapi membuat bangga.

Ozza tipikal anak yang nggak gitu suka cerita romantis atau sedih. Dia sangat suka cerita lucu dan petualangan. Tokoh-tokoh favoritnya adalah Shrek, George of The Jungle, Shaggy Scooby Doo, Peterpan, Nathalie *anak perempuan bandel yang mimpi jadi backpacker dan punya hobi sadis melempar adiknya kesana-kemari, gue nyeseeellll banget beli buku impor Amerika ini*, Bernard Bear, Paddle Pop, Upin Ipin, Ben10, Diego temennya Dora *bukan Dora-nya lho*, bahkan si lemah Hickup di film How to Train Your Dragon. Sangat jauh berbeda dengan pilihan Naula yang sangat normal dengan Barney, Barbie atau Rapunzel-nya. Hahaha!

Tapi Ozza juga tumbuh menjadi anak yang sangat sensitif. Dia lebih mudah sedih, nangis dan pemurung untuk hal-hal remeh dibanding Naula. Ozza bisa memikirkan satu kisah sedih selama berhari-hari dan membahasnya terus, intinya kenapa sih mesti ada cerita sesedih itu? Kenapa nggak ada yang melakukan sesuatu supaya cerita itu nggak sedih lagi. Ini pernah terjadi saat ia baru tahu cerita Peterpan sebenarnya. Sebelumnya ia hanya mengenal kisah Peterpan dan Jane, anaknya Wendy, versi Peterpan yang kedua, yang lebih happy ending. Ozza nggak habis pikir kenapa Peterpan nggak mau tinggal sama Wendy seperti anak-anak Lostboys lainnya, tapi lebih memilih kesepian bersama Tinkerbell di Neverland sana. Respon inilah yang gue khawatir bakal terjadi setelah gue nyeritain Little Mermaid untuk mereka.

Jadi bagaimana Ozza merespon ini kemudian? Tak disangka dia hanya mengangguk-angguk sambil terus meminum susunya. Juga tak ada pertanyaan-pertanyaan memusingkan dan menyedihkan keesokan harinya. I was really wondering why. Tapi gue sabar menunggu sampe segala sesuatunya jelas. Dan itu ternyata terjawab pagi ini, dua hari kemudian.

Setiap pagi tiap memandikan mereka satu persatu, gue biasa bertanya apa mimpi mereka semalam. Khususnya Ozza karena ia begitu sensitif, supaya gue bisa tahu apa yang terjadi di alam bawah sadarnya. Nah, pagi ini ternyata Ozza nggak menunggu saatnya mandi untuk bercerita apa mimpinya semalam. Sesaat setelah bangun, ia langsung nyari gue dan berteriak gembira :

“Bu! Aku tadi malam mimpi si putri duyung, lho! Aku ada di istana dan aku bilang sama pangeran, kalo sebenarnya yang nyelamatin pangeran itu si putri duyung. Wah pangeran akhirnya menikah sama putri duyung! Putri duyung sangat bahagia! Pokoknya bu, meski di buku dia sangat sedih, dia bisa bahagia di mimpi aku! Putri duyung boleh tinggal di mimpi aku aja, nggak usah di buku!”

Gue terhenyak. Mau nangis, malu. Gue cuma bisa bilang terkagum-kagum, “Kakak Ozza hebat sekali, mau mikirin nasibnya putri duyung. Makasih ya Kakak Ozza, pasti putri duyung kalo tau, dia pilih tinggal di mimpinya Ozza aja daripada di buku”. Gue peluk dia bangga sekali, ternyata dia sudah belajar tidak hanya di tahap mau memikirkan nasib orang lain, tapi juga sudah bisa menemukan solusinya meski sangatlah sederhana. Sama bangganya gue saat ia bercerita beberapa minggu sebelumnya bahwa ia sudah bisa berteman baik dengan Sinta, teman TK-nya yang sangat pemalu dan tidak mau bermain dengan semua orang. Sinta adalah anak baru, dan Ozza memperhatikan bahwa ia sebenarnya sangat kesepian, jadi setiap kali dia ingat, Ozza berusaha mengajaknya bermain meski Sinta tetap diam. Sampe suatu hari, gurunya mengharuskan setiap anak memilih salah satu temannya sebagai pasangan bermain selama satu hari. Tak disangka ternyata Sinta memilih Ozza. Ozza bangga sekali.

Gue tau Ozza di usianya yang lima tahun belum lancar membaca, cuman bisa baca judul-judul, menulis huruf pun masih gede-gede keluar dari garis, bahasa inggrisnya masih sebatas animals, mengajinya baru buku umi dua, atau menghapal surat-surat pendek Al-Qur’an tak secepat teman-temannya yang lain karena dileskan ibunya mengaji-lah, calistung-lah, sempoa-lah, jarimatika-lah. For God’s sake, dia baru lima tahun! Kenyataannya gue malah lebih bangga sampe terisak-isak, kalo ternyata empati Ozza lebih cepat berkembang daripada kemampuannya yang lain. Persis seperti yang kami harapkan dari namanya, Irvana Ozza Al-Zakiya, anak cerdas yang suka menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Semoga hingga dewasa nanti hatimu tetap seputih salju, Nak, tak terpengaruh racun-racun jahat yang membuatmu jadi apatis atau sombong. We love you, Ozza!

Bayi Anda Penonton Pasif?

Di usia mereka yang masih balita, Ozza dan Naula sudah menjadi pecinta film. Setiap hari saya membereskan koleksi film mereka, tapi baru kali ini saya terbersit untuk menuliskannya. Awalnya saya memang bangga bahwa saya punya cara untuk membuat mereka diam barang sebentar, dan mereka lumayan jarang menonton tivi yang banyak iklan yang bisa merusak kemampuan konsentrasi mereka.

Tapi beberapa hari yang lalu di koran saya menemukan istilah yang agak membuat was-was: PENONTON PASIF. Oh my God! Kedengarannya saja sudah tidak mengenakkan di telinga dan tanpa mencari tahu lebih banyak, saya langsung ngerti bahwa saya harus membuat keputusan penting yang bakal mengecewakan anak2. Mengurangi jatah mereka nonton film!

Tentu saja mereka protes berat, tapi untungnya mereka mau mengerti, dan uwak Nah, sepupu jauh ibu yang bersedia menemani anak2 kalau saya dan Ivan bekerja, juga mau bekerja sama. No more movies or games for schoolday. Ini sudah berjalan sekitar seminggu dan ujung2nya malah saya yang nggak tega. Apalagi habit ayahnya yang nggak bisa lepas dari tivi juga ikut berpengaruh. Sedikit membuat stres. Ingin yang terbaik buat anak, tapi tekad kami nggak sekuat itu. Kami hanya ingin mereka bahagia. Apalagi setelah saya analisa secara abal-abal, kuncinya adalah mencari film yang membuat mereka menjadi penonton aktif. Hehehe.

Salah satunya adalah tokoh kartun bernama Mumu. Ia makhluk lucu mirip ikan lumba-lumba tapi punya kaki, tinggal sendirian di pulau Muwa yang sepi yang hanya ditumbuhi sebatang tunas yang bisa mengeluarkan nectar (minuman yang sangat lezat) yang menjadi makanan Mumu. Meski sendirian Mumu tak pernah kesepian karena banyak hewan2 lain yang mampir ke pulau, mulai dari ulat bulu, kepiting, kunang2, bebek mainan, sampai ikan paus. Serial home video berjudul MumuHug ini saya temukan di hamparan CD-CD film yang didiskon di Gramedia. Saya tertarik baca gambaran tokohnya :

“Mumu adalah makhluk tak berdosa, manis dan mudah penasaran yang hidup sendiri di suatu pulau di tengah lautan – dan sangat suka memeluk! Ingatlah, Mumu akan selalu ada di hatimu dan siap untuk memberikan pelukannya yang hangat!”

Hmm, lumayan kan? Waktu itu saya pikir pelukan yang hangat pastilah dibutuhkan untuk membentuk kepribadian anak yang hangat. Pribadi yang hangat pastilah disukai oleh semua orang bukan? Dan saya ingin anak-anak itu disukai banyak orang tidak hanya dari kecerdasannya, tapi lebih utama dari pribadinya yang hangat. Well, sebenarnya saya sendiri pribadi yang cuek sih, hehehe, tapi saya bisa berpura-pura hangat jika situasi mengharuskan begitu. Hihihi. An antisocial person wanna make a social person. Yup, bahkan penderita sinisme akut seperti saya pun mengakui kalau being a social person is definitely more fun!

Bagaimana film ini membuat anak2 menjadi penonton aktif? Well, ceritanya sederhana, lucu, tapi ada beberapa hal baru yang bisa menambah wawasan mereka. Bahwa Mumu yang tinggal sendirian di pulau pasti mengundang berjuta pertanyaan. Benar saja. Ozza yang kritis segera nyerocos. Seperti : kenapa Mumu tinggal sendirian di pulau? Orangtuanya kemana? Terus yang cariin makan siapa? Kok bisa Mumu cari makan sendiri? Apa dia nggak mau minum susu? Mumu itu binatang ya? Mukanya seperti lumba-lumba tapi kok punya kaki? Kok dia nggak bisa ngomong? Fiuuuh, melelahkan! Tapi inilah yang saya suka. Memaksa saya untuk kreatif mencari jawaban yang mudah dicerna oleh anak2.

Meski kami bukan orangtua yang sempurna, khusus untuk yang satu ini saya dan Ivan bertekad untuk terus berusaha menjawab pertanyaan mereka selogika mungkin, seserius mungkin, nggak ngasal, sejak mereka sudah pintar bertanya, karena kami ingin mereka tetap kritis dan terbuka hingga dewasa. Gara-gara ada beberapa anak teman yang tadinya sewaktu kecil bersemangat tanya apa saja, tapi setelah besar jadi pendiam dan malas bertanya hanya karena orangtuanya malas dan capek menjawab, karena pertanyaannya itu-itu saja. Padahal kenapa mereka menanyakan hal yang sama adalah karena belum tergambar jelas di otak kecil mereka kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu. Sementara orangtua hanya memberikan jawaban setengah-setengah dan berharap anaknya cukup dengan jawaban itu. Ujung2nya si anak jadi malas bertanya karena malas dijawab. Generasi yang malas bertanya adalah yang tidak kita inginkan bukan? Memang sih, nggak semua pertanyaan memusingkan itu bisa saya jawab. Mentok-mentoknya paling saya bilang jujur nggak tahu dan menyemangati mereka kalau nanti di SD atau SMP atau SMA atau kuliah pasti mereka belajar hal itu. Hihihi.

Kembali ke soal film yang membuat anak menjadi penonton aktif, mungkin sebenarnya sebagian besar film anak2 membuat efek yang sama asalkan ada pendampingan dari kita. Tapi ini lebih melelahkan dan terkadang kita nggak punya waktu. Kita harus ikutin filmnya, inti ceritanya, makna ceritanya kalau ada, syukur2 tuh film berbahasa indonesia jadi kita nggak usah susah payah menjabarkan maksud dan jalan ceritanya. Atau sekalian tokohnya nggak bisa ngomong aja, jadi biar si anak representasiin sendiri dunianya. Hehehe. Nah, sebagai orangtua yang nggak sempurna, tentu saja saya nggak mendampingi mereka saat menonton sebagian besar film. Saya hanya memfilternya lebih dulu si film kira2 cocok nggak buat mereka, atau membahasnya setelah kami bertemu. Tapi ada juga film yang perlu pendampingan dan penegasan pemahaman. Yah, setidaknya saya tetap berupaya kan? :p

Oya, mau tahu daftar film Ozza & Naula selengkap apa? Let’s see, pertama kategori aman (nggak perlu pendampingan) & edukatif: selain MumuHug (6), ada Pocoyo (4), Barney (2), Dora (3), Diego (1), Serial Kisah Nabi & Rasul (12), Serial Tupi & PingPing (10), Paddle Pop (3), Teletubbies (4), Cotoons (5), Elmo’s World (8), Brainy Baby (5), Baby Einstein (2), Mimi Kelinci (3), Postman Pat (2), Dive Olly Dive (6), Upin Ipin (5), Serial Cerita Rakyat (15), Barbie (2), Thomas & Friends (1), The Backyardigans (1), Serial Film Musikal Anak (2), George of The Jungle (2). Kategori kedua adalah tidak aman (perlu pendampingan) & non edukatif : Ben 10 (1), Bernard Bear (1), Little Khrisna (1), Bimasakti (1) dan SpongeBob (1). Sementara sisanya adalah film anak2 yang pernah ditayangkan di bioskop. Ada Shrek 1 s.d 4, The Incredibles, Finding Nemo, Curious George, Ice Age 1 & 2, Madagascar 2, Monster Inc., Rapunzel a Tangled Tale, Peterpan 1 & 2, The Nut Cracker, Ponyo, How to Train Your Dragon, Monster House, dan Narnia. Belum lagi film2 rental Odiva yang mereka bahkan juga ikut berlangganan, atau CD2 film bonus dari susu kaleng dan buku cerita. Totalnya sekitar 140 CD, phweww!! Mungkin kami benar-benar keterlaluan mendidik mereka sebagai pecinta film, ya? :p