Yes, I am a Sherlockian

Last Friday it was decided for a lazy weekend. So I picked a heavy box of six Sherlock CDs from that BBC serial films. I used to say to my sister, Yudol, that Sherlock Hollywood version by Robert Downey Jr is one of the best movie of Sherlock I’ve ever seen. She laughed at me once and said that I have to see this one. Robert Downey was just copy paste his bloody wacky character from Iron Man to this genius detective, ruined the character so much. From a serious and cold one to a hilarious one. I think it was for a different perspective, and was accepted enough for a movie slash Sherlock lover like me. But I also curious to this one. I don’t have a television cable, so when I found them on a local rental movie, I was a little bit surprised, I looked at them twice, and saved the last decision that kids maybe will missed their chance to swim this weekend.

Baca lebih lanjut

Personal Report “Life of Pi”

Preview, review, or even resensi sebuah film adalah sesuatu yang bisa dijadikan pegangan calon penonton untuk menilai apakah worth it atau nggak si film untuk ditonton. Terkadang gue juga suka sih bacanya, tapi yah cuman sekedar aja, coz sejujurnya gue nggak terlalu suka tulisan yang nanggung, hehehe. Mereka cuman bikin kita penasaran padahal nggak semua film itu bagus. Mereka juga nggak personal, sementara gue lebih suka apa adanya. Jadi kalau gue disuruh mengulas sebuah film, well, sorry guys, maybe you get bored atau mungkin bahkan kalian nggak jadi nonton filmnya, hehehe. Coz gue biasanya penuh detail, and off course, personal.

richard parker

Kali ini giliran Life of Pi. Gue udah nonton ini film sejak minggu lalu. Harusnya sih setelah nonton langsung nulis, supaya personalnya kuat dan fresh, tapi gue mesti ke lapangan besoknya selama empat hari, dan pulangnya gue tepar, sakit. Jadilah hari ini gue baru bisa nulis dengan rasa basi di mulut, ingus sraat-sroot, dan batuk yang cetaarrr membahana :). Intinya, kalau aja gue nggak inget janji bikin resensinya special for Ririn Menara Miring, gue nggak akan masuk kantor hari ini. Rin, postingan ini khusus untuk mengembangkan rasa bersalah loe 🙂

First soal pelafalan. Ternyata Pi itu dibaca “Pai”, bukan “Phi”. Sementara sepanjang yang gue inget dari jaman SMP sampai kuliah, lafalnya ya Phi. Gua agak2 terperanjat aja pas si mbak2 tiketnya mengkoreksi ejaan gue. “Laif of Pai, mbak,” katanya dengan lugas. Padahal di novelnya sendiri, oya gue lupa bilang kalau film ini mengadaptasi salah satu novel favorit gue dengan judul sama,  seinget gue si Pi ini jelas2 mengadopsi simbol Phi untuk mengaburkan nama aslinya Piscine yang mirip kata pissing atau pipis. Jadi ia memilih simbol Phi yang lebih intelek daripada pissing untuk merubah imej di kepala puluhan anak2 SD bengal itu tentunya karena punya lafal yang sama ya kan? Yaitu Phi. Jadi heranlah gue kenapa namanya jadi dilafalkan Pai. Bagaimana di filmnya, apa bener2 dilafalkan Pai? Well, tidak bisa tidak, ini cuman salah satu penasaran yang gue tunggu2 saat memasuki pintu teater yang gelap kemerahan.

Life-of-Pi-2Kedua, gue pengen cerita tentang si Pi dulu. Piscine Molitor Patel. Sebenarnya ia adalah karakter dalam dunia nyata, seorang India yang tinggal di Canada. Ia vegetarian, dan ia beragama kadang hindu, kadang kristen, kadang muslim. Ia percaya bahwa Tuhan bisa didekati dalam berbagai cara atau agama. Ia berasal dari Pondicherry, India, dengan keluarga pemilik kebun binatang. Karena iklim politik yang buruk, ayahnya memutuskan untuk pindah ke Canada dengan modal menjual binatang2nya di sana. Dalam perjalanan kapal laut menuju Canada, sesaat setelah meninggalkan Filipina, di satu titik terdalam di lautan Pasifik *gue lupa namanya*, kapal terkena badai dan tenggelam. Hanya Pi-lah yang selamat.

Satu hari seseorang datang ke rumahnya. Yann Martel, seorang penulis Canadian yang menyendiri di India untuk menulis novel berlatar belakang perang Portugis. Ia gagal, tentu saja, dan frustasi mengantarkannya ke sebuah kedai kopi dimana ia bertemu Mamaji, seorang India eksentrik dengan dada teramat bidang dan kaki sekurus tiang *ia perenang profesional* yang kebetulan adalah paman Pi. Inilah yang dipikirkan Mamaji kemudian : seorang Canadian pergi ke India untuk menulis cerita hebat, sementara di Canada sendiri ada seorang India yang memiliki cerita hebat. Itulah takdir. Mamajilah yang menyuruh Yann datang kepada Pi karena pengalaman Pi yang luar biasa  bisa menjadi cerita yang membuat siapapun percaya kepada Tuhan.

Ya, siapa sih yang akan menyangka, Pi, waktu itu 16 tahun, bisa menjadi satu-satunya orang yang selamat dari musibah mengerikan itu. Meski sebenarnya bukan itu magnetnya kisah ini, melainkan bahwa ia tak sendiri di life boat yang menyelamatkannya. Di dalamnya juga ada seekor zebra pincang, hyena, induk orang utan, dan well, seekor harimau Bengali.

Yup, harimau Bengali. Tentu saja itu akan menjadi cerita yang luar biasa. Tak heran jika setelahnya Yann Martell langsung minta ijin kepada Pi untuk menuliskannya dan lahirlah novel Life of Pi pada tahun 2001. Gue sendiri baru ngebacanya sekitar tahun 2008 saat menemukannya terasing di pojokan Gramedia. Setidaknya bukan cuman gue yang begitu takjub akan novel ini. Beberapa sutradara hebat macam M. Night Shyamalan, Jean-Pierre Juenet, sudah lama berencana memfilmkan novel ini, tapi tertunda terus dan Life of Pi akhirnya menjadi novel indah yang tak bisa difilmkan.

Jadi gue lumayan kaget pas tahu bahwa Life of Pi benar2 difilmkan dan sekarang lagi tayang di bioskop. Siapa sutradaranya? Ternyata Ang Lee. Oowh… si Crouching Tiger Hidden Dragon. So inilah penasaran gue yang pertama. Bagaimana Ang Lee memfilmkan Life of Pi yang mmm…. bagaimana ngomongnya ya, well, di novelnya begitu banyak kejadian penuh fantasi yang kalau memang bisa diwujudkan ke film, itu akan menjadi film yang W-O-W. Belum lagi soal si harimau Bengali itu. Definitely DOUBLE W-O-W pastinya.

Double Wow ini pertama gue kasih untuk soundtracknya. Film dibuka dengan intro lullaby, semacam lagu nina bobo seorang ibu India kepada anaknya. Sangat melenakan. Saking sukanya gue sama lullaby yang ini, gue googling, ternyata composernya malah asli Canadian, Mychael Danna. Dia bikin sekitar 10-12 soundtrack khusus untuk Life of Pi. Pengennya sih beli CD asli, coz in whatever reasons, gue selamanya nggak ngefans sama yang namanya CD bajakan. Nggak worth it bangetlah. Tapi CD asli susah dicari di pedalaman gini, so internet adalah satu2nya jawaban, hehehe. Memang sih gue belum nemu MP3 gratisannya, tapi setidaknya bisa dengerin secara online. Lumayan jadi equal companion saat nulis postingan ini 🙂

Dengan intro lullaby ini, Life of Pi diawali dengan masa kecil Pi di Pondicherry. Tentang bagaimana Pi tumbuh menjadi anak cerdas dengan kemauan kuat. Seperti tadi gue udah ceritain soal namanya. Ia mampu merubah imej namanya yang selalu jadi bahan olok2 teman2 SD-nya *pissing* menjadi nama yang intelek : Phi.  Caranyalah yang luar biasa. Pada awal masuk sekolah kembali, di seluruh kelas ia memperkenalkan dirinya sebagai Pi dengan panjang lebar menjelaskan tentang simbol matematika Phi, si angka istimewa 3,14. Tak dinyana ia berhasil. That’s amazing for kids, you know? Korban bullying di sekolah biasanya kan akan bersikap kalau nggak stres ya masa bodoh pada anak2 bengal itu. Sementara Pi malah berencana untuk merubahnya. Amazing kid indeed.

Pi kecil juga punya keingintahuan yang besar, tentang hidup, agama, bahkan keingintahuan apakah si hewan pendatang baru a.k.a harimau Bengali di kebun binatang ayahnya bisa dijadikan teman. Harimau itu bahkan punya nama, Richard Parker, yang sebenarnya salah ketik. Harusnya ia bernama Thirsty, karena ia tengah minum di sungai saat ditemukan dan ditangkap pemburu, dimana si pemburu bernama Richard Parker. Saat menjualnya ke kebun binatang ayah Pi, si tukang ketik kebalik memberi nama, jadilah si pemburu bernama Thirsty dan si harimau bernama Richard Parker :).

Seperti tadi udah gue ceritain, suatu hari ayah Pi memutuskan pindah ke Canada. Mereka bersama serombongan hewan2-nya pergi menggunakan kapal laut Jepang bernama Tsimtsum, yang kemudian dihantam badai dan tenggelam di satu titik terdalam di peta Samudra Pasifik. Saat itu Pi yang tengah berada di geladak kapal karena ingin menikmati indahnya petir *he’s definitely crazy* menjadi satu2nya orang yang akhirnya selamat. Saat life boatnya terpelanting jatuh ke laut, terjun pula seekor zebra ke dalamnya. Kaki si zebra terkena pinggiran perahu dan patah. Seekor hyena lalu muncul dari balik terpal. Dan tak dinyana sosok yang ditolong Pi kemudian adalah Richard Parker. Sebelum Pi berhasil mengusirnya, Richard berhasil naik ke perahu dan langsung bersembunyi ke dalam terpal. Melihat itu, Pi langsung terjun ke laut. Tentunya ia lebih memilih mati tenggelam daripada mati dikoyak harimau.

Di laut Pi langsung dihempas gelombang setinggi puluhan kilometer. Pi jungkir balik, life boat  jungkir balik, semua jungkir balik, dan entah bagaimana, detik-detik itu malah luar biasa indah. Detik-detik dimana Pi mengapung di bawah laut yang seharusnya gelap tapi terang benderang oleh cahaya kapal Tsimtsum yang mulai tenggelam. Bagaimana Pi menatap sosok raksasa Tsimtsum yang bercahaya di tengah kelamnya titik Samudra Pasifik terdalam, perlahan terjun menuju dasar. Bagaimana Ang Lee memvisualisasikan ini adalah ….. well, itu adalah peristiwa yang sangat tragis, tapi Ang Lee menggambarkannya dengan luar biasa indah. What a beautiful tragic.

Entah bagaimana Pi berhasil menemukan life boatnya kembali. Ia naik dan mengira dengan jungkir baliknya perahu, Richard Parker sudah terlempar keluar. Tinggal si zebra dan hyena. Saat esoknya laut sudah tenang ia bahkan bertemu Orange Juice, si induk orangutan, yang tengah mengapung di atas sekumpulan pisang. Hyena adalah hewan predator. Tentunya ia gila kalau tidak memangsa si zebra dan orangutan. Pi sendiri menyelamatkan diri di ujung perahu. Hyena tak bisa mencapainya karena ia juga mabuk laut.

Di tengah kegilaan si hyena mencabik kedua hewan malang dan terus2an berteriak sengau menulikan, mendadak melompatlah dari dalam terpal the magnificent Richard Parker. Ia langsung menerkam hyena, merobeknya seakan-akan ia menghukum provokator yang berisik dan mengganggu. Pi terlonjak jauh ke belakang perahu. Tak bisa tidak, ia terpaksa menggantungkan hidupnya di tiang perahu. Harimau Bengali sejatinya adalah hewan yang pintar berenang. Tapi nyatanya ia memilih untuk tidak menerjang Pi menandakan ia juga mabuk laut.

Setidaknya Richard masih punya bangkai sisa zebra, orangutan dan hyena segar untuk dimakan. Sementara Pi dengan kecerdasannya berhasil menciptakan rakit kecil dari semua dayung yang ada, membuat tampungan air hujan dan sulingan air laut, serta mengangkut seluruh bekal life first aid yang ada di perahu. Diantaranya Pi bahkan menemukan survival manual book. Dia membaca dan membaca, tapi tak satu pun di dalamnya berisi petunjuk bagaimana survive di tengah laut bersama seekor hewan buas. Ha-ha-ha.

Bekal Pi akan habis secermat apapun ia menghemat. Begitu pun Richard, harimau yang sepanjang hidupnya dihabiskan di kebun binatang, dengan pasokan makanan yang senantiasa terpenuhi. Pi memutuskan agar Richard harus dibuat tetap dalam kondisi ketergantungan seperti itu, hanya supaya ia tidak berenang ke laut dan menerkamnya. Pertama ia harus membuat Richard mabuk laut lebih dari sebelumnya. Hanya supaya Richard berpikir ulang jika ingin terjun ke laut. Ia pun mengarahkan perahu agar berlawanan dengan arus ombak supaya Richard tambah mabuk, sambil terus meniupkan peluitnya untuk menunjukkan siapa penguasanya. Untuk sementara trik berhasil. Selanjutnya ia harus mencari makan buat Richard. Pi pun belajar menangkap ikan, kadang berhasil, kadang tidak.

Dan Pi, diantara perjuangannya untuk hidup dan selamat, bukannya tak pernah putus asa. Tapi setiap kali rasa patah itu datang, betapa Tuhan senantiasa menunjukkan bahwa Beliau peduli, Beliau ada dan mengawasinya secara tidak langsung. Suatu kali Tuhan memberinya pemandangan terindah yang pernah ada, dimana samudra hitam di malam hari tiba-tiba berubah menjadi lautan cahaya biru nan terang tapi tak menyilaukan. Cahaya itu berasal dari ratusan ubur2 yang berenang di sekelilingnya, ditutup kemunculan si paus biru yang di sekujur tubuhnya dipenuhi plankton2 bercahaya. Si paus biru melompat tinggi jauh di atas Pi. Merusak rakit kecil miliknya dan membuang semua bekal sisa. Sekali lagi, beautiful tragic.

Satu titik kritis berhasil dilewati Pi, mengantarkannya ke satu titik kritis lain. Bagaimana ia bisa hidup tanpa rakit kecilnya? Pi sangat sadar, diantara semua bahaya di samudra maha luas ini, bahaya terbesar hanyalah Richard Parker. Ia harus melakukan sesuatu. Kenekatan Pi-lah yang mengantarnya ke ide bahwa ia harus menjinakkan Richard. Richard harus dibuat sadar bahwa Pi-lah sang alpha. Toh selama ini Richard sangat bergantung padanya soal makan, bukan mustahil kalau Richard sudah paham bahwa Pi adalah tuannya. Tapi Richard adalah seekor harimau. Asal Bengali. Jenis harimau paling agresif di muka bumi. Meski ia tumbuh di kebun binatang, ia tetaplah hewan yang hidup berdasarkan insting. So Pi punya kesempatan 50-50 untuk menang dan menduduki life boat.

Sebenarnya gue agak lupa di bagian ini. Mestinya nonton lagi, atau baca lagi. Tapi gue udah bertekad mesti selesai hari ini, so anyway, sepertinya Pi melakukannya dengan cara memberinya makan dengan daging ikan kecil2, sambil memukul2kan tongkatnya ke perahu dan terus berteriak-teriak, ke arah Richard. Seperti mengajari hewan sirkus. Awalnya Richard terprovokasi dan tak terima, tapi tak disangka-sangka Richard nurut di kesempatan kedua. Di manapun Pi melempar daging ikan, Richard akan menghampiri makanannya. Wow, how clever and lucky Pi is! Dia sukses menunjukkan siapa sang alpha sebenarnya dan ia berhasil menempati dimanapun posisi life boat yang ia suka, sementara Richard akan dengan segannya menyingkir. W-O-W. What a struggle.

Richard bahkan tak menyerangnya saat mereka berdua hanya terbaring tak berdaya kehausan, kelaparan. Satu titik kritis lainnya. Menuju titik kritis yang lain. Dan perjalanan dari satu titik ke titik selanjutnya, Tuhan selalu menjaga Pi. Kadang memberinya kejutan makanan berlimpah di hari-hari tertentu. Ratusan ikan terbang yang mendadak terbang melewati ia dan Richard. Atau pulau hijau yang mengapung di tengah laut, dimana ratusan mungkin ribuan cerpelai hidup di atasnya dan pohon2 dengan akar yang jika dimakan ternyata enak sekali. Di film memang tidak diceritakan berapa lama Pi terkatung-katung di Samudra Pasifik. Sementara gue lupa apakah di novelnya diceritakan atau tidak. Intinya, baik novel maupun filmnya, Life of Pi, meski sebagian besar durasinya menceritakan perjuangan Pi di tengah laut, keseluruhannya sama sekali tidak membosankan. Bahkan amazingly beautiful, meski tragic disana-sini.

Ya, Pi dan Richard akhirnya memang selamat. Mereka terdampar di pesisir Mexico. Bisa dibilang mereka berhasil melintasi Samudra Pasifik, in a life boat. Ending perjalanan mereka, akhirnya, meski tetap bernada beautiful tragic. Richard langsung melompat begitu sampai di daratan, ia berlari menuju hutan dan berhenti sebentar untuk menatap hutan di depannya. Sementara Pi, ia tengah terkapar tak berdaya di pasir, dan tengah menatap Richard di kejauhan, berharap agar Richard di detik-detik mencekam itu mau menengok, setidaknya memberi tatapan selamat tinggal, untuk Pi. Tapi tidak. Richard tidak menengok. Setelah tertegun lama menatap hutan, Richard berjalan dan menghilang diantara rimbun dedaunan. Ya, Richard sejatinya adalah seekor harimau. Bengali, paling agresif dari jenisnya. Sudah tentu ia tak akan menengok. Sudah tentu ia tak bisa dijadikan sahabat dan mengucapkan selamat tinggal, layaknya seorang sahabat. Meski seberapa lama engkau mengapung di tengah laut bersamanya. Persis seperti apa kata ayah Pi, seekor harimau hanyalah hewan yang hidup dengan insting. Tatapan mata kita di matanya hanya akan memantul kembali.

Anyway, Richard Parker adalah seekor harimau yang gagah sekaligus cantik. Meski karakter Pi sangat menonjol, gue malah lebih memilih Richard Parker sebagai tokoh terfavorit di film ini, even from the whole characters of the year :). Bahkan Pi pun mengamininya. Buktinya ia memilih menjadi Richard saat investigator Tsimtsum asal Jepang datang  mewawancarainya dan tak percaya semua ceritanya. Anak 16 tahun bisa selamat sendirian bersama seekor harimau Bengali? Tak mungkin. Mereka bahkan nggak percaya kalau pisang bisa mengapung di tengah laut saat Pi bercerita bagaimana ia bertemu Orange Juice, si orangutan.Ya gitu deh, orang Jepang kan logika banget. Meski setan2-nya pada nggak punya logika, hehehe. Jadi mereka malah menyuruh Pi untuk membuat cerita yang masuk akal. Cerita yang lebih diterima akal sehat. Cerita yang bakal dipercaya bos si investigator. Akhirnya Pi mengarang dan menempatkan dirinya sebagai Richard Parker. Ibunya sebagai si orangutan. Pelaut malang sebagai si zebra, dan tukang masak jahat sebagai si hyena, yang ngomong2 Gerard Depardieu yang berperan sebagai tukang masak *seterkenal itu dan hanya berperan sekilas? what an ironic, tapi memang ia tak cocok untuk peran2 lain, ia hanya cocok untuk si tukang masak jahat yang tak mau menyediakan makanan vegetarian untuk keluarga Pi*.

Oya, pemeran Pi adalah Suraj Sharma, seorang pendatang baru di dunia film. Bright star. Sementara pemeran Pi di saat dewasanya adalah Irvan Khan. Kalau pun ada yang kurang dari film ini dibandingkan novelnya, mungkin soal Anandi dan si orang Prancis. Anandi adalah perempuan yang disukai Pi, sementara gue nggak inget ada Anandi di novel, kayaknya nggak ada deh. Sementara si orang Prancis adalah pelaut yang ditemui Pi saat masih terapung-apung di laut. Di novel ada, sementara di film sama sekali nggak ada. Nggak masalah sih sebenarnya. Kedua tokoh itu ada atau tidak, tak berpengaruh ke film secara keseluruhan. It’s still amazingly beautiful tragic. Jadi bagaimana kesimpulan personal report yang O-M-G panjang banget ini? Hehehe it’s a must recommended movie, off course! Buruan nonton sebelum masa tayangnya keabisan yaaa…! 🙂

P.S: Oya soal pelafalan tadi. Di filmnya ternyata pake lafal “Pai”. Hmm… I’m still wondering how it could be …..

Horror is My Middle Name

Hehehe, ada yang suka film horor nggak? Yang pasti saya punya banyak teman cewek yang nggak suka film horor, dan lebih banyak lagi teman cowok yang anti film horor *saya percaya mereka bukannya takut, tapi karena terlalu banyak film horor yang payah*. Otomatis nggak ada yang mau nemenin saya ke bioskop kalau film yang saya pengen adalah film horor.

ImageKeadaan jadi menguntungkan saat saya menikah. Hehehe, minimal ada yang bisa saya paksa untuk nemenin. Iyalah saya juga penakut, tapi gimana ya kalau sudah jadi addicted to fear, hahaha! Pokoknya asalkan suami tetap di samping saya, meski dia lebih sering ketiduran, saya bisa bertahan untuk nonton sampai selesai, hihihi!

Dulu, saya percaya bahwa film horor Indonesialah yang paling the best. Bukan dari segi kualitas film maksud saya. Tapi dari tingkat keseramannya. Mungkin karena setan lokal kali ya, jadi berasa banget. Tapi sekarang, waduuuh…., jangan ditanya! Mulai dari judul yang luar biasa picisan, akting pemain atau sutradaranya yang entah kenapa selalu berpikir bahwa diantara rasa takut yang timbul tenggelam harus ada seksinya sedikit atau banyak, sampai ke penampakan2 setannya yang nggak jelas dan gampang ditebak di sepanjang film, aaaarrrggh! Membosankan!

Apalagi tema filmnya kebanyakan cuman mengangkat cerita2 serem dari sejumlah tempat, entah itu rumah sakit *setan suster paling favorit, kenapa nggak ada setan dokter yak?*, Kuburan Jeruk Purut-lah, Terowongan Casablanca-lah, sampai rumah legenda yang menyeramkan di daerah Pondok Indah itu pun pernah difilmkan. Mungkin ini berawal dari ide film si Manis Jembatan Ancol jaman baheula, jadi para produser saking nggak kreatipnya ya ngikutin saja ide2 yang sudah jelas menjual.

Sebenarnya ada juga sih beberapa film horor Indonesia yang bagus. Biasanya sutradaranya juga sudah terkenal, kayak Rizal Mantovani atau beberapa lainnya, jadi mereka pasti bikin filmnya juga nggak ngasal. Selain film Kuntilanak-nya Rizal, film bagus lainnya paling banter tentang psikopat, jadi bukan film setan beneran sih. Kuntilanak-nya Rizal juga kenapa saya anggap bagus, karena faktor utama bahwa menurut saya setan kuntilanak adalah setan paling menyeramkan di muka bumi.

Ada satu cerita yang bikin saya ngerasa bersalah banget terkait film ini. Suatu hari saat nonton lupa yang sekuelnya atau film yang pertama, suami sudah ketiduran di samping saya, tapi saya terlalu takut untuk nonton sendirian meski penasaran setengah mati. Jadi … OMG saya bego banget kalau ingat ini: saya ajak Ozza yang kebetulan belum tidur untuk menemani saya nonton! Saking addicted to fear-nya tuh! Dan saya sejuta tega membiarkan mata Ozza merekam adegan menakutkan itu ke dalam kepalanya! Ozza at her 4 years old, for God’s sake! Huhuhu, please sue me, I am a crazy mom here!

Ozza-nya sih biasa saja, dia bahkan banyak bertanya kenapa begini kenapa begitu. Kenapa kok setannya gelayutan di pohon, kok milihnya di pohon, nggak berdiri di tanah saja, kenapa kok matanya dipelotot2in gitu, kenapa rambutnya setan acak2an gitu, kayak nggak pernah disisir, kenapa kok badan setannya kayak menari2, maksudnya supaya lelaki itu takut? Hahaha! Waktu itu saya bahkan nggak sempat ketawa saking seriusnya ketakutan!

Akhirnya saya pencet tombol stop saking stresnya diantara rasa bersalah dan penasaran hebat. Jadi cuman satu adegan yang Ozza rekam, hanya satu-dua menit lamanya, tapi efek sampingnya harus saya telan mentah2 sampai dua tahun kemudian! Iya begitulah, Ozza jadi penakut, meski dia nggak bilang tapi saya tahu dia pasti lagi ngebayangin rekaman bego itu di kepalanya, ugh! Alhamdulillah, sekarang setelah dia masuk TK Islam, dia sudah nggak penakut lagi, karena dia sudah tahu dimanapun dia berada Allah swt selalu menemaninya *lega sih saya, tapi tetep saja ngerasa bego banget*

Sementara itu, film horor asal Barat dibanding Indonesia, tentunya jauh lebih bagus dari sisi pembuatan. Tapi bagi saya mereka kurang menyeramkan. Mulai dari boneka2 hidup, setan anak2 kecil, zombie, vampire, voodoo, bahkan setan kambing dari neraka atau semacam Freddy the Krueger. Mau film setan Barat manapun, saya berani nonton semuanya sendirian, hehehe! Paling bagus adalah The Grudge dan The Ring, mungkin karena keduanya mengadopsi penampilan stigma setan Asia terfavorit: perempuan, rambut panjang hitam, acak2an, dan nggak lupa longdress putih.

Dari The Grudge, akhirnya saya mengenal film setan Jepang. Bagus2 sih, indikatornya adalah saya nggak berani nonton filmnya sendirian, hehehe. Tapi saya nggak suka logika setan2 Jepang *emang setan masih punya logika,dasar dudul!*. Kebanyakan adalah arwah yang saking sakit hatinya akan nasibnya sendiri, dia membenci semua orang, bahkan yang tak bersalah sekalipun, hanya dengan memasuki rumahnya. Halaaaah…! Menurut saya orang2 Jepang terlalu menganggap serius apapun. Perasaan cinta, benci, atau malu, bahkan pekerjaan saking suksesnya mereka, hehehe! Apalagi ada budaya harakiri segala, gampang putus asa karena mereka kebanyakan bingung soal agama, rasa malu yang luar biasa besar, atau cara mereka menghormati dalam2 tamunya sampai membungkuk setengah badan bahkan bila si tamu adalah orang yang sangat menyebalkan! Intinya nggak easy going banget-lah, kurang cocok dengan gaya saya. Apalagi gaya pekerja kerasnya, hahaha!

Sampai suatu hari saya iseng pinjam film horor Thailand di Odiva. Judulnya 4bia, satu film empat cerita. Film asal Thailand. Ternyata ya ampun, akhirnya setelah pencarian tiada akhir *halah* saya menemukan juga negara penghasil film horor yang cocok dengan selera saya *belagu*. Tapi memang filmnya beda banget. Dimananya yang beda? Saya juga nggak gitu yakin bisa ngejelasinnya, hehehe. Intinya stigma film horor kan kebanyakan setan perempuan, rambut panjang, longdress putih. Nah, yang ini waduh, jauuuuh… dari kesan semua itu.

Lagian logika ceritanya keterima banget, mulai dari sebab akibat, dan nggak seabsurd setan Indonesia yang tau2 muncul nakutin semua orang, atau setannya Jepang yang saking sakit hatinya membunuh semua orang yang bersentuhan dengannya. Terus cara si setan meneror manusianya juga nggak terlalu berlebihan *tapi suer serem banget!!!*, akting pemainnya bagus2, jauh bangetlah dibanding aktris horor Indonesia hehehe, dan terakhir, budaya Thailand kan nggak jauh2 amat sama kita, jadi tetap berkesan dibanding film horor Barat. Oke, kita coba seleksi satu2 ceritanya ya 😉

Cerita pertama tentang seorang perempuan muda yang terpaksa nggak bisa kemana2 selain tinggal di apartemen gara2 kecelakaan, taxi yang ditumpanginya mendadak terbalik. Saking bosannya, akhirnya ia berkenalan dengan seorang pria via sms. Selama beberapa hari ia ber-sms ria, kesenangan, sampai akhirnya ia ingin bertukar foto. Ia bingung karena si pria ternyata mengirim foto pojok kamar tidurnya. Wuaaa… ternyata oh ternyata! Si pria ternyata adalah roh yang baru saja meninggal beberapa hari lalu. Ibunya membekalinya handphone di peti mayatnya, siapa tahu ia kesepian ia bisa menghubungi siapa saja. Huwaaa…. serem banget!

Ujung2nya malah makin serem karena ternyata si pria adalah lelaki yang meninggal gara2 ditabrak oleh taxinya si perempuan. Jadi ia ingin mengajak si perempuan untuk meninggal juga. Si perempuan saking ketakutannya saat didatangi si roh pria, jatuh meninggal dari atas balkon apartemennya. Brilian kan? Nggak pernah ada film horor yang ngebahas beginian, taww?!

Cerita kedua nggak terlalu bagus sih, tentang seorang siswa sekolah miskin korban bullying yang mati saat disiksa oleh teman2 sekolahnya yang kaya, terus membalas dendam pakai ilmu hitam. Nggak begitu seram, tapi sadis iya. Ilmu hitamnya berupa buku berisi gambar mata, yang berisi kutukan siapa saja yang melihatnya akan meninggal. Akhirnya gank itu satu persatu2 mati semua dengan cara berbeda, ada yang mati terbakar, terkena pisau, etc. Bahkan ada tersisa satu perempuan, yang bisa hidup dan akhirnya melapor ke polisi karena ia berhasil tidak melihat ke dalam buku dengan cara mencopot kedua matanya, tapi tetap meninggal, lupa saya gimana cara meninggalnya. It’s about karma. Lumayanlah, hehehe!

Cerita ketiga adalah favorit saya. Tentang persahabatan empat pemuda, Ter, Puak, Shin dan Aey, yang kemping di hutan. Malamnya, saat mau tidur, mereka saling berebut tidur di tengah karena takut tidur di pinggir. Salah satunya, Aey, bercanda kalau dia mati dan jadi hantu, dia akan menakuti siapapun yang tidur di tengah. Besoknya mereka arung jeram, dan ternyata perahu terbalik karena arus terlalu kuat. Shin nggak bisa berenang dan ditolong oleh Aey. Shin selamat, malah Aey yang nggak muncul2 ke permukaan. Aey hilang.

ImageSaat mereka mau tidur, karena ingat perkataan Aey malam sebelumnya mereka jadi berebut tidur di pinggir. Karena nggak ada yang mau mengalah akhirnya mereka tidur dengan posisi segitiga! Huawahahaha! Tapi saat mereka mau terlelap, ternyata Aey malah datang. Huwaaaa… baru deh mulai menakutkan!

Gaya Aey yang berubah jadi pendiam, menjawab hanya bila ditanya, muka pucat, huwaaa! Terorannya bener2 jempol, deh! Ujung ceritanya yang paling mantab. Ter, Puak dan Shin ingin menunjukkan pada Aey mayatnya sendiri, memberitahu Aey bahwa ia sudah mati dan stop menakut2i mereka. Tapi pas mayatnya dibalik, huwaaa…! Ternyata itu bukan mayat Aey, tapi Ter, dan mereka malah menemukan mayat mereka bertiga, juga Aey.

Yak, ternyata mereka semua sudah tenggelam dan mati saat perahunya terbalik! Well, filmnya beda banget kan? Selain jalan cerita yang unik, kenapa yang satu ini jadi terfavorit adalah karena filmnya lucu banget! Hahaha, this is the best horror-comedy I’ve ever seen!

Cerita ketiga menurut saya paling menyeramkan. Berkisah tentang pramugari cantik yang berselingkuh dengan seorang Pangeran. Celakanya si istri Pangeran tahu dan sengaja pergi ke Thailand untuk membereskannya, dengan membooking khusus pesawat tempat si pramugari bekerja dan meminta si pramugarilah yang bertugas. Sendirian!

Tentu si pramugari diintimidasi habis2an oleh Putri, terutama saat ia mengatakan bahwa di negaranya wanita yang ketahuan berselingkuh akan ditangkap, ditelanjangi, diarak dan dilempar batu sampai mati, kecuali ia meminta maaf pada istri selingkuhannya! Dimana seremnya? Cuman tentang istri yang marah, mungkin begitu yang anda perkirakan. Hehehe, jangan salah, ternyata si Putri tau2 meninggal di hotelnya tempat menginap gara2 keracunan udang. Tentu saja jasad Putri harus dikembalikan ke negaranya. Tebak pesawat mana yang dipakai? Yup, si pramugari! Dan tebak jasad itu ditaruh dimana karena ia anggota kerajaan? Yak, di kabin! Huwaa… sendirian di kabin bersama jenazah sang Putri. Wuaaaaa….serem banget!

Apalagi ada adegan jenazah lepas dari ikatan kursi, terus kain kafannya lepas, terus jasad menghilang, dengan gaung suara batuk2 di kamar mandi. Makin gilaaaa……! Ujung2nya si pramugari ditemukan tergeletak tewas dengan gaya meminta maaf pada jasad si Putri dan leher terputar 180derajat, persis perkataan Putri kepada si pramugari, tentang hukuman wanita yang berselingkuh! That’s karma.

Nah, berkat 4bhia saya pun memburu film2 horor Thai lainnya. Seperti Alone, terus Shutter yang meskipun film setan Jepang tapi ternyata mengadopsi dari film Thai *nggak tahu judulnya apaan, belum nemu di Odiva*. Terus ada juga film Thai lain yang saya nggak tahu judulnya, tapi sempat saya tonton di penginapan saat tugas ke lapangan. Wuih, serem banget! Ceritanya tentang seorang cewek miskin yang kerjaannya cuman jualan kopi ngebantuin ayahnya tapi punya mimpi jadi aktris. Nah, suatu hari ada polisi yang nawarin jadi aktris, tapi aktris pemeran korban dalam rekonstruksi ulang kejadian pembunuhan di TKP! Hahaha, brilian banget kan idenya. Tentu saja yang jadi setan2nya itu ya korban2 pembunuhan itu, tapi jangan kecele, yang disatronin bukan si aktris.

Suatu hari si aktris mesti jadi seorang pemain film terkenal yang jadi korban pembunuhan *kayaknya itu cerita nyata deh*. Jadi dia betul2 memerankan aktingnya dengan sangat baik sampai2 para penonton mengira hantunya-lah yang datang. Hahaha! Hantu si pemain film sendiri sangat terkesan dan akhirnya melakukan kontak dengan si aktris berdedikasi ini, memberitahu bahwa pembunuh sebenarnya bukanlah si kekasih pemain film. Ceritanya kepanjangan, tapi kok ya nggak ada bosan2nya ngikutin sampai ceritanya benar2 habis. Soalnya jalan cerita nggak bisa ditebak sih, sekali lagi nggak kayak film Indonesia. Saya yang tadinya setuju bahwa film horor mestinya pendek2 karena sebal nonton penampakan setan2 nggak jelas ngagetin sepanjang film, jadi sedikit lega, hehehe, ternyata ada juga film horor panjang yang nggak ngeselin.

Pembunuhnya ternyata sahabat si pemain film, seorang dokter bedah plastik, yang ternyata lesbi dan cinta kepadanya. Tapi arwah penasaran terus mengganggu semua orang, termasuk si polisi. Usut punya usut ternyata itu arwah dari topeng yang dipakai si pemain film dalam filmnya. Topeng itu milik fans si pemain film yang sudah dikutuk. Bayangkan si fans rela membedah seluruh detil2 wajahnya agar mirip si pemain film, hingga akhirnya wajahnya malah jadi sangat menyeramkan! Hiiiiyyy…..!

Nah, minggu lalu ceritanya saya jalan2 ke Odiva dan OMG! Ternyata sekuel 4bia sudah ada! Wiih, ini film sudah saya tunggu2 lama banget. Sudah pasti ini film nggak main di bioskop lokal, nggak heran, hehehe. Meski ternyata film ini nggak sebagus pertamanya, tetap saja masih jauh di atas film2 horor Indonesia. Tapi asyiknya kali ini dalam satu film ada lima cerita! Wkwkwk, puas, puas deh nontonnya.

Cerita pertama adalah Pey yang kena karma jadi hantu kurus raksasa kayak jelangkung, karena nggak sengaja membunuh ayahnya sendiri gara2 ulah nakalnya yang sering melempar batu ke kaca depan mobil2 yang lewat, cuman karena pengen ngambil hape si pemilik mobil! Supaya nggak kena karma, ibunya mengirimkannya ke suatu tempat terpencil, tempat para bhiksu. Mungkin kalau jadi bhiksu karmanya bisa hilang. Tapi karena memang si Pey ini nakal banget, dia malah makan sesajennya Hantu Lapar karena kelaparan pas dididik jadi bhiksu, dan karena itulah dia kena kutuk jadi Hantu Lapar, yang berupa hantu kurus raksasa. Lumayan serem sih, tapi bukan favorit saya.

Cerita kedua cukup membuat saya kecewa. Karena temanya ternyata tema basi film horor, yaitu rumah sakit! Seorang pemuda yang lumayan ganteng, hehehe, kecelakaan dan harus opname. Kebagian kamar dimana dia harus berbagi dengan pasien koma. Si pasien itu adalah tetua suatu aliran agama tertentu di Thailand. Ya, gitu deh, penampakan2nya tetap bikin kaget dan yang bikin surprise adalah endingnya. Ternyata para penganut aliran itu sengaja menempatkan si pemuda di samping si kakek, supaya si kakek bisa mereinkarnasi dirinya ke si pemuda! Wuaaa, serem abis! Reinkarnasi pun sukses karena si perawat dan banyak orang lainnya nggak lain adalah penganut aliran si kakek. Hiiiiyyy…  pokoknya sampai kapanpun saya nggak suka diopname!

Cerita ketiga sangat jelek. Basi juga. Masak sih film horor hari gini masih ngebahas tentang zombie? Tentang sepasang backpacker Jepang yang jalan2 ke Thailand, berhasil menumpang sebuah truk besar dengan supir misterius dan satu penumpang gelisah. Ternyata truk berisi mayat2 yang kemudian jadi zombie mengejar mereka. Semua akhirnya mati digigit zombie. Tapi ada satu unsur menarik di cerita ini. Mayat2 itu ternyata adalah orang2 miskin yang untuk memperoleh uang terpaksa bergabung dengan mafia narkoba sebagai carrier. Ya, supaya nggak gampang terdeteksi oleh scanner, mereka dipaksa membawa narkoba dengan cara menelan bungkusan kecil barang terkutuk itu! Sadiiisss….!

Cerita keempat berkisah tentang seorang ibu kaya pedagang mobil bekas. Ia menjalankan bisnisnya dengan mereparasi mobil2 yang rusak berat akibat kecelakaan. Suatu malam ia mencari anaknya yang hilang saat bermain di parkiran mobil2 bekasnya. Tapi yang ia temui justru hantu2 korban kecelakaan itu. Di ujung cerita saking ketakutannya, ia berniat kabur dengan mobilnya sendiri. Tapi mobil tak kunjung bisa distarter, nggak tahu kenapa, padahal itu Honda CRV terbarunya. Agak lama akhirnya mobil berhasil dinyalakan. Baru jalan sebentar tau2 ia melihat sepatu anaknya di depan mobil. Ia pun stop dan menemukan bahwa sepatu anaknya belepotan darah. Darah pun ia temukan di bawah mobil. Sejurus kemudian ia membuka kap mobil dan apa yang ia temukan??? Huwaaaa…. ia menemukan anaknya tergencet di mobilnya sendiri!! Itulah kenapa mobil barunya susah distarter!!!! Bukannya serem tapi yang satu2 ini bener2 bikin sesak di dada! Mungkin saya bakal gila kalau saya mengalaminya sendiri!!

Cerita terakhir sudah pasti terfavorit. Karena Ter, Puak, Shin dan Aey muncul lagi disini! Hahaha! Kali ini mereka berempat adalah kru film horor. Mereka tengah mensyut adegan terakhir film itu: si aktris hantu harus berjalan merangkak keluar dari kegelapan. Sialnya si aktris sakit parah dan dibawa ke rumah sakit oleh Aey. Sayangnya Aey mendapat kabar dokter bahwa si aktris tak bisa tertolong lagi.

Sementara di lokasi syuting, kru bingung karena si aktris mendadak muncul dan bersikeras menyelesaikan adegan terakhirnya. Tiga sahabat, Ter, Puak dan Shin curiga kalau si aktris kenapa2, soalnya mukanya begitu pucat dan tingkah lakunya menyeramkan. Shin pun memperoleh kabar dari Aey bahwa si aktris sudah meninggal. Kru film pun heboh, semua kabur meninggalkan lokasi kecuali aktris utama dan si aktris hantu, serta tentu saja, Ter, Puak dan Shin. Huwahahaha! Mereka bertekad menyelesaikan adegan terakhir meski si aktris dicurigai adalah hantu. Ide hantu beneran yang memerankan hantu adalah promosi film yang luar biasa. Saya lupa apakah adegan itu selesai atau tidak, yang pasti sempat ada adegan Ter yang disuruh memeriksa si aktris karena ia nggak keluar2 dari kegelapan. Huwaaaa… serem banget! Hahaha! Ujung2nya mereka kabur dengan mobil dan di tengah jalan menemukan Aey. Sikap Aey yang aneh kembali membuat mereka curiga. Apalagi setelah mereka melewati mobil Aey yang ternyata tertabrak truk. Hahaha!! Tapi Aey bersikeras bukan hantu, ia masih hidup karena mobilnya tertabrak di sebelah penumpang. Hahaha! Semuanya legaaah…!

Mendadak di belakang si aktris hantu tampak mengejar mobil mereka. Huwaaa… tapi mobil nggak bisa distarter. Semua jendela pun langsung ditutup, tapi ada satu jendela belakang yang susah. Hahahaha! Si hantu pun muncul di jendela dengan gaya menakutkan, dan tiba2 ngomong minta antarkan ke rumah sakit!

Huwahahahaha! Ternyata si aktris belum meninggal. Ia kabur dari rumah sakit karena kepikiran ingin menyelesaikan adegan terakhir. Hahahaha! Lucu bangetlah! Tapi cerita kembali diputar balik, karena pas mereka ketawa2 di tengah jalan di depan mobil mogok bersama si aktris hantu, dari arah depan tiba2 muncul truk besar yang melaju kencang, mereka teriak bersama2 dan selesailah film. Entah apakah mereka selamat atau tidak, apakah mereka jadi hantu sama2, hahaha, tapi saya lebih suka membayangkan kalau si truk berhasil mengerem tepat pada waktunya. Hehehe. Another best horror-comedy I’ve ever seen! :p

Hehehe, panjang bener yak reviewnya, padahal cuman ngomongin film horor. Pokoknya saya nggak bakalan bosen sama film horor. Meski saya sudah nggak memasukkannya ke dalam daftar film2 yang harus ditonton via boskop, hehehe. Cukup rental Odiva sajalah. Oke, tan? *ngomong sama setan*. Eh ada yang jawab, terserah mbak aja deh *kaboooorrrr…..* =))

I am SAM

ImageSatu Minggu sore yang adem sebenarnya sangat cocok untuk ngeberesin taman kecil di depan rumah. Tapi saya udah keburu ambil remote tipi, sekedar ngecheck ada acara bagus nggak sih sore2 gini. Koran lokal entah kenapa nggak ada fungsinya buat orang2 kayak saya yang nggak pernah apal acara tipi, ditambah udah jarang banget kebagian kompas minggu, huh. Stop di HBO, eeh ada Sean Penn. Film apaan nih. Look familiar tapi lupa apa judulnya. Saya ikutin dan ikutin sampe tau2 terisak2 sendiri. Sialan, ini film sedih banget sih *saya gitu loh, jarang bisa mewek :))* Hehehe yang pasti ini bukan romance yah, ih jijay banget dah kalo nangis cuman gara2 itu hahahaha, yang pasti ini film bagus, titik, dan worth it banget buat dibikin resensinya.

Film ini ternyata judulnya I am Sam. Itu juga saya taunya pas ending. Banyak faktor yang bikin film ini menarik. Dakota Fanning yang imut dan lucu juga pinter. Sean Penn yang aktingnya gilak top abis. Terus tau2 pas di top konflik, muncul soundtrack yang dinyanyiin sama Eddie Vedder *yup, meski jauh di mata, saya nggak akan pernah lupa sama bisikannya, suaranya huwahahahaha*. Sebenernya itu lagunya Beatles *semua soundtrack emang aslinya all Beatles tapi dinyanyiin various artist* judulnya Hide Your Love Away.

Tapi the main factor kenapa film ini bagus tentu saja adalah jalan ceritanya. Ia berkisah tentang perjuangan seorang Ayah (Sean Penn) yang punya kecerdasan di bawah rata2, hanya 75, merebut kembali putri kecilnya (Dakota Fanning) yang diambil oleh negara, karena mereka menganggap si Ayah dengan kecerdasan di bawah anak usia 7 tahun tidak memiliki kemampuan untuk mengasuh anak. Begitu sombongnya ya Amerika. Sampe ke warga negaranya aja nggak ada komprominya sama sekali. Itulah negara hukum, benci banget sebenernya sama istilah itu. Hukum mestinya terasa adil, membuat nyaman rakyat yang ada di dalamnya, bukannya terasa mengancam dan menyakitkan.

Anyway, meski sempat mengalami kemenangan2 kecil pada saat mengajukan saksi dan sebagainya, pada saat penentuan, si jaksa dengan licik mempertanyakan “Menurut anda, dari lubuk hati yang terdalam, apakah yang terbaik bagi Sam? Orangtua yang lebih baik diukur dari kemampuan mental maupun uang ataukah anda yang bahkan tidak bisa membantunya PR Matematika dan membelikannya meja belajar?” Tentu saja si Ayah meski dengan keterbatasannya masih bisa mengerti mana yang lebih baik jika diukur hanya dari hal-hal seperti itu. Ia pun menyerah.

Adegan perpisahannya itulah yang ngebuat mata tau2 berkaca2. Sialan hehehe. Soundtracknya cuman akustik gitu. Terus besoknya pas Ayahnya pengen jenguk, eeh ngeliat dari jauh kalo keliatannya si anak bahagia2 aja sama orangtua angkatnya, dia jadi berkecil hati dan pulang. Soundtrack di adegan ini ya Hide Your Love Away-nya Eddie Vedder lah. Suaranya pas banget dah menggambarkan suasana hati si Ayah, kedengaran murung, sedih, dan penuh tekad untuk menyembunyikan cintanya yang besar demi kebaikan anaknya, meski perasaan tekad itu akhirnya membunuhnya pelan-pelan, ia depresi berat. Ia berhenti dari pekerjaannya di Starbuck Coffee *tugasnya hanya membersihkan meja* dan memutuskan bersembunyi di kamarnya berhari-hari, merangkai sebanyak mungkin bintang2 dari kertas perak, berusaha sejauh mungkin dari realita.

Tapi jangan sedih dulu, ini film happy ending kok. Cinta akhirnya memang selalu menang. Sang Ayah bisa bangkit kembali berjuang merebut anaknya dengan cara yang tidak terduga siapapun yang punya kecerdasan di atas rata2. Ia hanya punya keinginan sederhana. Ia hanya ingin melihat Sam setiap hari. Ia berhasil memperoleh pekerjaan di Pizza Hut sebagai penyusun bumbu2, dan punya job sampingan sebagai pengasuh anjing2. Penghasilannya jadi lumayan besar dan berhasil membeli apartemen mungil di dekat rumah orangtua angkat Sam. Alhasil setiap malam Sam selalu pindah ingin tidur dekat dengan Ayahnya. Si Ayah selalu mengembalikan Sam setelah ia berhasil tidur. Setiap malam selalu begitu, hingga si ibu angkat menyerah. Ia tak akan pernah bisa mengalahkan pengaruh Ayah Sam dari Sam, apalagi itu ayah kandungnya sendiri. Ujung2nya sangat manis. Si ibu angkat tetaplah ibu angkat. Karena Ayah Sam memang pada kenyataannya sangat membutuhkan peran seorang ibu untuk pertumbuhan Sam. Dan Sam tetap tinggal bersama Ayahnya. So sweeeet.

Satu hal lain yang tak kalah penting dari film ini adalah satu2nya alasan saya membuat notes ini. Hehehe. Ribet yak. Ada satu saat di pengadilan, si Ayah ditanya jaksa, menurutnya apa yang terbaik yang dibutuhkan orangtua untuk mengasuh anaknya? Si Ayah berusaha mengingat2 dengan segala keterbatasan IQ-nya dan pandangan matanya yang tak bisa fokus *sangat mengharukan sebenarnya* dan secara amazing ia berkata :

“Eeeee…… actually I have plenty of time to think about it, and the answers that only cross in my mind are ….eeeee……. consistency, eeeee……… patient, eee…. listening them, and one more,  eeeeee….. have an ability to pretend listening them. That is what should be done by all parents for their children ……”

Hmmmfffhh!!! Konsistensi. Kesabaran. Mau mendengarkan. Hanya itu. Three magic items yang membuat saya sadar, selama ini saya kemana ajah sih. Sejak kapan pekerjaan jadi lebih penting dari Ozza dan Naula? Sejak kapan perhatian bagi saya itu cukup dengan ada di samping mereka *meski otak saya tetap sibuk dengan hal2 lain, ugh *, mendongengkan cerita sebelum tidur, membaca buku penghubung sekolah Ozza dan mengajarkan kembali apa2 yang dipelajarinya di sekolah, memandikan atau menyuapi mereka sekali2, membawa mereka jalan2, membelikan aneka mainan juga buku, lalu menemani mereka tidur? Dan saya bahkan melakukan semuanya itu dengan disiplin keras, sering berteriak, mengancam, menjewer :(( Terutama menghadapi Ozza. Streeeeessss……

Padahal betapa sederhana itu semua. Konsistensi. Kesabaran. Mau mendengarkan. Bahkan pura-pura mendengarkan. Dan betapa ajaibnya three magic items itu bekerja, masuk meracuni relung2 seorang emak2 yang stres. Setiap mereka berulah, berulang2 saya ucapin dalam hati, konsistensi, kesabaran dan mau mendengarkan. Anehnya saya jadi tenang dan siap menghadapi mereka. Itulah pertempuran sebenarnya, kan? :))

Oya kemaren ada artikel di koran lokal. Tentang orangtua seperti apakah anda?

Pertama, tipe orangtua hard bargainer. Persis saya, tapi nggak boleh ada teriak2nya, meski gitu efeknya anak tetap terkekang, segalanya diatur, kesian bener yak :(, abis kadang kemauan anak itu aneh2 dan susah direalisasikan kayaknya, masak Ozza pengen tiap Minggu datengin tuh kuda di kebun binatang Samarinda, hanya untuk ngasih dia makan, coz dia liat tuh kuda kurus banget kayak nggak dikasih makan hahaha, itu baru satu, masih banyak lageeee, capeeee deeeh!

Kedua, tipe conflict avoider. Ortu gak pernah marahin anak, ga pernah ada disiplin, semua terserah anak, efeknya jadi anak liar. Hmm… not good.

Ketiga, tipe accomodator. Segala kebutuhan anak dipenuhi, dimanja. Definitely, saya nggak mau jadi tipe kayak gini.

Terakhir, tipe collaborator. Segala sesuatunya didiskusikan dengan anak, efeknya anak memang jadi lebih dewasa dan mandiri, tapi keputusan untuk sesuatu yg penting jadi lambat.

Hmmmffft! Nggak ada yang bagus sih tipenya, hahaha, mungkin kombinasi dari semua tipe itulah yang terbaik. Tapi saya paling setuju sama kombinasi hard bargainer-collaborator. Mestinya saya sekali2 belajar jadi Collaborator, yak, meski belum bisa sepenuhnya ninggalin kebiasaan sebagai Hard Bargainer *mikir gaya patung thinker* :p

Jacob Black

Image
Oke, langsung aja, siapa sih yang gak tau Jacob Black? Hahaha, ternyata banyak juga yg belom tau, temen2 gw terutama, macam Eni Martini – seorang penulis novel yang punya fans tersendiri, atau si workaholic Emot, apalagi Erwin yang dunianya cuman game perang dan kendo, hihihihi paraaahhh kalian! Apa gw-nya aja yak yang ke-gaul-an? Perasaan gw orang yang jadul banget :p

Jadi ceritanya di dunia werewolf itu ada yang namanya imprint, yaitu sebuah metode bagaimana werewolf menemukan belahan jiwanya *tentu saja belahan jiwanya itu manusia juga, bukan serigala hehehe*. Imprint ini lebih kuat daripada cinta, katanya. Sekali seorang werewolf mengalami imprint, dia tak bisa berpaling ke yang lain. Bisa dibilang sudah takdirnya *gampang banget ya, seandainya manusia juga mengalami imprint, gak susah2 nyari jodoh deh, hahahaha tinggal nunggu ketemu ajah heheheh*. Nah di Breaking Dawn ini, ceritanya Bella-Edward menikah, Bella hamil dan ternyata, anaknya Bella inilah imprintee-nya si Jacob. Huh, gak seru. Emang sih Jacob bisa menunggu coz werewolf gak akan pernah menua kecuali dia sengaja meninggalkan kemampuannya berubah bentuk, tapi tetep ajah, gak kreatif amat, ada karakter baru gitu kek, tipe cewek yang jauh mengesankan dibanding Bella, misalnya hehehe.

Bukannya gw anti-Bella sih, tapi ya ampun, kadang gw gak ngerti, apa dia gak cape yak, yang dibahas sama Edward tuh cuman “oh, aku tak akan bisa jauh dari kamu” “oh, dia tampan sekali, aku sampe gemeteran” “aku akan selalu menjagamu sampai kapanpun” bla-bla-bla. Cape bacanya. Bisa dibilang Bella juga amat sangat tergantung sama Edward. Bego banget. Padahal dia itu pinter. Bukannya gw sok feminis, tapi gila yak, itu cewek sok rapuh banget sih, padahal sebenarnya bisa2 aja ngapa2in sendiri. Gak bisa kontrol dirinya sendiri. Belum lagi mupeng-nya itu! Setiap liat Edward, mulai deh mulaaaai, yang dibahas betapa tampannya Edward, betapa indah warna matanya jiaaahh hahahaha. Ini diulang terus di setiap novelnya, bayangkan! Hahahaha nggak ada capeknya yak yang ngarang.

Bukannya gw anti-Edward juga sih. Tapi bagi gw Edward itu ngebosenin, tampangnya pucet banget, cemen, terlalu romantis dan overprotektif. Well, lagian I’ve already have my own Edward hehehe, soalnya nama aslinya Eddie Vedder itu Edward juga hahahaha *ngocol*.

Sementara Jacob? Hehehe gw pernah bahas ini sama elo, Ta. Macho? Cuman macho? Ya ampun, ini gara2 filmnya yang hanya memberi kesan kalo Jacob itu macho. Padahal kelebihan Jacob itu banyak banget!!! Pertama, dia sangat tidak membosankan, mungkin karena dia itu cerdas, baik secara emosi juga logika. Simak aja komunikasinya sama Bella, yang dibahas banyak, gak cuman “Bella! Please pilih gw, jangan pilih si muka pucat, pleaseee…”. Saat dia diskus tentang perasaannya pun yang dipakai adalah bahasa logis, gak mendayu-dayu kayak Edward. Kedua, Jacob sangat hidup *bener kan, logikanya dia lebih hidup dibanding si muka pucat :p*. Hidup Bella lebih berwarna saat bersama Jacob. Mulai dari belajar naik motor, hiking, terjun ke laut dari tebing tinggi, sampe yang sepele seperti nonton bioskop. Meyer bener2 ngegambarin betapa hidupnya keduanya saat bersama2. Ketiga, Jacob itu lucu, hangat, suka nyengir, dan cengirannya amat menular. Orang2 di sekelilingnya pasti ketularan nyengir juga. Jacob juga sinis. Orang yang lucu tapi juga sinis adalah sempurna. Hubungannya dengan Bella keseluruhannya adalah saling mengejek, hahaha bener2 hubungan yang sangat normal.

Yeah, emang sih soal elo pilih yang mana, Jacob atau Edward, adalah tergantung dari kepribadian elo sebagai cewek. Kalo lo cewek romantis pastilah pilih Edward. Cewek umumnya mungkin romantis kali ya, coz kayaknya semua cewek yang gw tau pilihannya ya pasti Edward, hahaha gw baru tahu kemaren dari mbah google kalo banyak juga yang pilih Jacob. Kirain gw doank, hihihihi *norak deh*

Oya, terakhir, ada satu fakta yang menjijikan, gw baru tau kalo si Taylor Lautner, pemeran Jacob Black di filmnya, ternyata adalah pemeran Shark Boy di film anak2 Lava Girl tahun berapa ya lupa. Yang bikin shock, baru kemaren gw nonton bareng film itu sama Ozza en Naula di rumah, jiaaaaah berasa banget dah gw dah tua *si Lautner ini kelahiran tahun 1992! huwahahahahaha* Brondong jagung…..brondong jagung…. satu lima ribu….satu lima ribu…. Huwakakakakakk….

Ok, friends, sekali lagi, sori yah, notes ini mungkin terlalu norak, gak ada ujung dan pangkal, apalagi kesimpulan siapa yang menang hihihi. Gw cuman share sesuatu ajah sama kalian, I miss you all, guuuuyyyys!!!! 😀