Daughter of Pearl Jam

Image

Gue ambil gambar ini dari video yang diupload oleh lightokdio di YouTube sebagai pengantar lagu Daughter, an old song from Pearl Jam. Lagu ini bercerita tentang seorang anak perempuan pengidap disleksia dengan ibu megalomaniak yang percaya bahwa juara satu adalah segalanya. Gue emang fans Pearl Jam, jadi so pasti suka lagu ini. Musiknya asyik, liriknya meaningful, dan meski saat itu gue ngerti artinya, tapi ternyata baru beberapa hari ini gue mendadak jadi mellow kalo denger lagu ini. Nelangsa. Pengen mewek mulu. Maybe this is only the soft side of my motherly calling, whatever-lah, or just a guilty mom side yang kalo saat ngajarin anaknya belajar pake stress en teriak-teriak :(. Just look at this young girl. Look at her eyes. Owkeh, gue mewek lagi. Saking mellow-nya, akhirnya kepikiran pengen translate  liriknya Daughter. Let’s try these.

Baca lebih lanjut

Pearl Jam : A Real Dyer Maker

“MengapLogoBloga kau tak juga datang? Rasanya aku mau menunggumu selama seribu tahun, meski kau tak pernah berjanji. Namun agaknya waktu di dunia ini bukan untukku. Aku tahu cintaku hanya lamunan. Hidup berlalu dan aku pun berlalu, kenyataan dan khayalan menyatu dalam waktu.Atas Nama Malam, Seno Gumira Ajidarma

Ada jenis manusia tertentu yang bisa disebut usang. Terutama dalam hal musik. Dunia boleh terus berputar, tapi entah bagaimana mereka tak pernah bisa lepas, terus kembali dan kembali lagi untuk setia pada yang satu, pilihan diantara seribu. Pearl Jam.
Kira-kira, apa sih yang membuat cinta itu tetap bertahan? Masing-masing lost dogs pasti punya jawaban sendiri. Sebenarnya saya ingin sekali memilih jawaban bahwa saya terlanjur kena kutuk terjebak selamanya dalam pesona sosok seorang Eddie Vedder, tapi ternyata ada juga jawaban yang lebih logis daripada itu. Ya, faktor lirik. Tons of them.

Menurut saya, Drew Barrymore-lah tampaknya yang paling pas menjelaskan ini di film Music & Lyrics. Dia bilang musik itu ibarat pertemuan pertama. Daya tarik fisik. Seks. Tapi begitu kau mengenalnya, itulah lirik. Kisah mereka. Siapa kau di dalamnya. Kombinasi keduanyalah yang menjadikannya istimewa. Nah, Pearl Jam menawarkan kisah-kisah seperti itu. It’s like I’m growing up with them.

Kalau soal cinta, awalnya saya begitu memuja Black, juga Footsteps, lagu patah hati yang paling mewakili perasaan saya saat itu. Sedih dan marah, bukannya cengeng seperti yang ditawarkan kebanyakan lagu lain. Seiring ruang dan waktu, saya malah sangat menikmati Smile, Around The Bend, Faithfull, even Light Years. Tak lagi sedih atau marah, apalagi cengeng. Just go with it.
Kalau soal me against the world, dengan penuh ekstasi awalnya saya menggilai Alive, Even Flow, Oceans, Animal, Indifference, Leash, Alone,State Love and Trust, Rearviewmirror, Not For You, Tremor Christ, Corduroy, Immortality, or even Bugs. Kesemuanya lagu protes penuh teriakan dan kemurungan. Lalu seiring perjalanan hidup, saya sepenuh hati menyimak baik-baik Sometimes, Who You Are, In My Tree, Present Tense, Mankind, Wishlist, Given To Fly, All Those Yesterdays, I am Mine, sampai Unthought Known dan Just Breathe. Tak lagi teriak-teriak, tapi lebih ke sikap seksama, a little bit serious, meski malah lebih sering mentertawakan hidup.

Tentunya dunia tak melulu tentang cinta, tak melulu peduli diri sendiri, dan Pearl Jam mengamininya. Ada Jeremy, berkisah seorang anak lelaki yang menembaki teman sekelasnya di sekolah. Lalu ada Daughter, yang bercerita tentang seorang anak perempuan disleksia dengan ibu yang tak mau mengerti. Glorified G, tentang mudahnya memperoleh senjata di kalangan remaja US. Atau tentang orang-orang biasa di sekitar kita: Elderly Woman Behind the Counter in a Small Town, Off He Goes, Leatherman, Johnny Guitar. Atau tentang orang-orang rakus ambisius yang selalu ada di sekeliling kita: Rats, Do the Evolution, Dirty Frank, Soon Forget, atau Bushleaguer.

Ya, dari lirik merekalah saya belajar tentang hidup. Untuk itulah saya yakin saya akan cinta Pearl Jam selamanya. Meski setelah saya pikir-pikir, nowadays, rasanya cinta itu lebih murni pada jaman sebelum kini. Dulu tak pernah terbersit di otak saya bagaimana seandainya Pearl Jam datang ke Indonesia. Saya hanya menjalani kesukacitaan sederhana, dengan cara, entah itu membuat bundel segala sesuatu tentang Pearl Jam, menghapal lagu-lagunya, mempelajari lirik-liriknya, hunting album-album single-nya, mencari berita sekecil apapun tentang mereka di internet, tertawa dan bangga dengan kisah-kisah heroik mereka: melawan Ticket Master, stop membuat video klip hanya supaya mereka nggak tambah populer, bikin konser dengan harga tiket fans-friendly, etc.

Saya bahkan rela mengatur cermat perjalanan penuh tantangan menuju Australia, saat Pearl Jam mengadakan tur di lima kota besarnya: Brisbane, Sydney, Melbourne, Adelaide dan Perth, pada bulan Pebruari tahun 2003. Detailnya tak pernah lupa. Saya pilih Brisbane karena paling dekat Indonesia. Saya putuskan akan menggunakan rute kapal laut, kelas tiga, lima hari, Jakarta-Surabaya-Makassar-Ternate-Sorong. Lalu kapal feri Sorong-Mimika, dua-tiga hari. Dari Mimika, kabarnya ada kapal feri menuju Pelabuhan Cairns. Cairns adalah kota di pantai barat Australia, tinggal menyusuri enam kota pantai selanjutnya, lalu tadaaaa…! Disitulah Brisbane berada. Memang sih, pada akhirnya saya tak jadi melakukan perjalanan menakjubkan itu. Seminggu setelah planning, saya mendapat kabar kalau saya diterima bekerja di Kalimantan dan segera harus melapor. Kadang Tuhan bercanda di saat yang tepat, ya kan?

Intinya, kesukacitaan sederhana mencintai Pearl Jam sepenuhnya saat itu, tanpa berharap apakah Pearl Jam mau membalasnya dengan datang ke Indonesia, adalah pure love. Sementara kini, saya nggak yakin. Cinta yang saya punya kini terasa menuntut. Bring Pearl Jam to Indonesia. Betapa eforianya. Betapa banyak sudah upaya dilakukan, terutama oleh teman-teman Pearl Jam Indonesia. Tapi mereka tak pernah datang. Atau jelas-jelas berniat akan datang.

Ugh, betapa saya benci dengan pikiran sinis yang kadang menyusup. Ok, we are small herd, just about three thousand people. Tapi tak bisakah mereka datang tanpa mempedulikan profit? Tak bisakah mereka datang tanpa mempedulikan idealisme? Tak bisakah mereka memikirkan nasib fans di negara dunia ketiga? Tak adakah terbersit di kepala mereka sekedar jalan-jalan, ke negara yang tak pernah dikunjungi, just for fun only? Main musik di satu hari, lalu berpetualang di hari esoknya? Ada surga disini, dear!

Kira-kira, akan sampai dimanakah batas tapak kita menanti? Pertanyaan ini mungkin menekan, memabukkan, bahkan menghancurkan keping-keping hati mungil yang percaya akan keajaiban. Mungkin benar cinta ini hanyalah lamunan, kami bahkan rela menunggu seribu tahun, meski mereka tak pernah berjanji.

Nunukan, 30 April 2012
P.S : Glad to tell you all that my posting here had won in the competition in 2nd place! Woohooo..! 🙂

 

I’m Still Here

She said to me over the phone. She wanted to see other people. I thought, “Well, look around, they’re everywhere”. Said that she was confused. I thought, “Darling, join the club”.

24 years old, mid-life crisis. Nowadays hits you, when you’re young.

I hung up, she called back. I hung up again, the process had already started. At least it happened quick. I swear I died, inside, that night.

My friend he called, I didn’t mention a thing. The last thing he said was, be sound, sound…

I contemplated in a awfull thing, I hate to admit. I just thought those would be such appropriate. Last words, but I’m still here, and small, so small…

How could this struggle seem so big? So big…

While the palm in the breeze still blow green. And the waves in the sea still absolute blue. But the horror. Every single thing I see is a reminder of her. Never thought I’d curse the day I met her. And since she’s gone and wouldn’t hear. Who would care? What good would that do? But I’m still here.

So I imagine in a month or 12. I’ll be somewhere having a drink. Laughing at a stupid joke. Or just another stupid thing. And I can see myself stopping short. Drifting out of the present. Sucked by the under tow and pulled out deep. And there I am, standing.

Wet grass and white headstones, all in rows. And in the distance, there’s one, off on its own. So I stop, kneel, my new home. And I picture a sober awakening.

A re-entry into this little bar scene. Sip my drink til the ice hits my lip. Order another round. And that’s it for now. Sorry. Never been too good at happy endings.

-Eddie Vedder-

This song is written by an extraordinary talented man named Eddie Vedder, dedicated to every single human who contemplate at awfull things, struggling for horror days, and never been too good at happy endings, but always keep standing.

PJ20 Celebration

Postingan kali ini adalah kronologi yang mencatat sebuah perjuangan saya pribadi, yang tadinya saya kira akan bersantai-santai, ternyata penuh dengan jutaan hal yang harus dikoordinasikan, supaya semuanya berjalan dengan smooth. Perjuangan ini bermula sejak saya tahu bahwa tugas saya ke Bandung ndilalah waktunya bisa berdekatan dengan acara komunitas Pearl Jam Indonesia di The Rock Café Kemang: PJ20 Celebration, event musik yang merayakan kelangsungan langgengnya band gaek Pearl Jam yang sudah mencapai 20 tahun. Waah, pokoknya, mesti, wajib, harus, dengan usaha dan doa, bahwa saya harus datang ke acara ini, terutama karena penasaran sama Perfect Ten, band yang mendedikasikan dirinya khusus meng-cover hanya lagu2 Pearl Jam, hehehe….

ImagePerjuangan ini mulai menarik setelah saya salah membaca waktunya. Wuakakak. Saya pikir acaranya Kamis, entah siapa yang sukses menanam informasi yang salah bertahun-tahun di kepala saya bahwa Wednesday itu Kamis. Tapi sekali lagi saya baca postingan terakhir dari salah satu admin PJID, Denny, lho kok Rabu?? Weleh2, bisa2 saya tenggelam dalam ironi pahit anjrit kalo bener2 kejadian saya datang ke Kemang hari Kamisnya, untuuuung ajaah…

So, saya datang Rabu pagi dan pulang Sabtu pagi. Jadi saya cuman punya waktu tiga hari untuk bekerja sekaligus ketemu teman2. Mestinya pas banget kalo si event itu diadain Kamis, jadi saya tetep bisa ngiterin Bandung, ngobrol curcol ngakak-ngakak bareng kak Dwi, sobat lama yang emang tinggal di Bandung. But I’ve already made my choice. Jadi tantangannya kemudian adalah gimana saya bisa menyelesaikan kerjaan Bandung dalam waktu, mmm… let’s say… setengah hari, ketemu kak Dwi sebentar, kemudian maghribnya saya bisa langsung cabut kembali ke Jakarta, datang ke Kemang sekalian mengatur ketemuan sama temen2 seputaran Jakarta. Sekali mengayuh dua tiga pulau terlampaui beneran saya anut sepenuh hati kali ini :p

Oke, here they are …

Rabu dikit lagi mo subuh, 04.10 wita tertanggal 04 Mei 2011, perjalanan keluar kompleks menuju bandara :Waduuuh, udah jam empat lewat… kekejer nggak ya pesawatnya? Pesawat jam 06.45, perjalanan Samarinda-Balikpapan dua jam setengah, sementara mobil masih bertahan dengan model jadul yang nggak bisa kenceng2. Ini hati bener2 nggak keruan. Ah, tapi Lion Air ini, biasanya mereka cukup berbaik hati dengan generasi model semi-instan-semi-payah kayak saya dengan menerima check-in at last minutes. Mendadak, ow-ow, ada yang sama pentingnya dengan Lion Air dan saya meninggalkannya di colokan listrik lagi dicharge: handphone! Arrrgggghh….

Ayaaaah, pliiizz balik lagiiiih, saya bakalan buta tuli kalo nggak ada itu. Hari ini adalah hari yang luar biasa sibuk, and I really need that damned little communication tool. Dengan berat hati si Ayah balik lagi, pusing mikirin berapa sisa waktu yang bisa ia kejar nantinya.

Rabu, masih belum subuh, 04.30 wita, masih berjuang keluar kompleks rumah :Pfiiiuuuh… akhirnya handphone sukses diambil dengan cara: lari! Hahaha, si Ayah emang jagoan, larinya lebih cepet daripada si ijo jadul. Thank you, hunny, and now please hurry!!! :p *istri tukang maksa, tukang nuntut, tinggal nunggu dijitak ajah*

Wokeh, tinggal nunggu keajaiban, kekejer nggak tuh pesawat. Sambil setel album Vitalogy dan No Code, berusaha memberi semangat Ayah supaya ngebut *yang ada juga cuman saya yang bisa nikmatin, hehehe*. Udah sampe titik nadir, kalo nggak kesampean ya udahlah saya mesti cari pesawat lain *hahaha, berusaha sampe kantong penghabisan sih teteuuup*

Rabu, sekitar subuh, 05.00 wita, baru nyampe Loa Janan :Iket sabuk pengaman, dan memilih tidooorr…. *sorry hunny, hihihi*

Rabu, jam berapa nggak tau, sengaja nggak mau tau, Bandara Sepinggan-Balikpapan :Langsung check-in, tetep dengan gaya santai-cuek-padahal-dag-dig-dug-der. Celingak-celinguk, nyari jam *sampe lupa bawa jam sendiri, wuakakak*. Ketemu jam langsung melotot, kucek-kucek mata. Nggak salah tuh?! Jam 06.30 wita???!! Gilak! Samarinda-Balikpapan cuman satu setengah jam??? Apa sayanya aja yang tinggal di planet yang beda yak? Beuuuggh…. Makin hormat ajah nih sama si ijo jadul :p

Rabu, jam 06.45 wita, di dalam pesawat :After dadah-dadah sama si Ayah, langsung cabut boarding. Liat boarding pass, halaaah…, dapet duduk di C, nggak bisa deket jendela dunk. Mana sebelah saya cowok nggak jelas lagi, ngajak ngobrol temanya bisnis mulu, mana lupa bawa buku cadangan, terpaksa deh pinjem LionMag dari tetangga sebelah depan, mayanlaaah… buat si tetangga jadi mingkem hehehe.

Satu jam berlalu LionMag udah abis kebaca. Ngapain lagi ya? Tidur nggak bisa. Mau bengong aja, ntar kesambet *emang ada yah setan di ketinggian sekitar 32.000-an kaki? hihihi* Mau ajak ngobrol tetangga, eeh… dia udah pules *padahal alhamdulilah banget*. Ya udahlah ngehayal ajah, ngehayal apaan yak? Ngehayal jadi konglomerat, halaah basi! Ngehayal jadi artis, halaaaah hahahaha! Ngehayal jorok, idiiiih malu! Sibuk nyortir milih-milih ngehayal apaan lumayan bikin sibuk juga, hahaha, tau-tau denger pengumuman pesawat mau landing ajah, wkwkwkw…

Masih Rabu, jam 07.45 wib, Bandara Soetta-Jakarta :Langsung ke gerbang exit, nggak pake bagasi-bagasian, kelamaan! Celingak-celinguk nyari tulisan Cipaganti. Oowh, itu dia di sebelah kanan. Beli tiket menuju Bandung, minta langsung diantar di tempat, mayan nambah 15 rebo untuk charge local area.

Tetep Rabu, jam 08.30 wib, masih ketahan di Bandara Soetta :Jadi  giliran saya kapan, neeehhh?! Gaya premannya keluar dah, kalo udah dibikin kesel gini. Udah beli tiket setengah jam yang lalu, tapi belom kebagian bus travel Cipaganti juga. Uuuggh! Gimana sih bang, katanya penumpang satu aja langsung berangkat? Payah, nih!

Saya terus-terusan ngedumel *emak2 banget dah* sampe akhirnya dapet juga bus travelnya di jam 09.00 wib. Mau nyampe jam berapa saya? Yang saya khawatirin cuman satu, kalo kerjaan di Bandung keteteran dan nggak selesai sore ini juga, bisa2 saya nggak sempet ketemu kak Dwi, padahal saya udah sempetin bawa kado ultah anaknya, atau malah ketinggalan anak2 pijeaydi cabang Bandung yang rencananya cabut abis maghrib ke Kemang. Streeesss….!

Masih bertahan di hari Rabu, jam 11.00 wib, peristirahatan dalam tol Cipularang :Wataawww!! Ini istirahat lama beneerr siiih, kapan nyampenya woooiiii…. Katanya cuman 15 menit, aaarrrggghh…. *orang stres nyangkut di tol*

Thank God it’s still Wednesday! Jam 13.00 wib, Pasir Koja-Bandung :Gilak ini Bandung apa Bekasi sih? Kok panas bener, sumpek bener, kacau bener? *Sori, Bek, bukan maksud ngejelekin, kamu masih sekacau itu kan? hihihi*

Handphone nggak berhenti bunyi sedari turun pesawat. Kali ini ngabarin kalo pak Kepala Seksi instansi yang saya tuju mau ke Cianjur, jadi buruan dateng, Mel!!!  Ampun dah, mesti keluarin gaya preman lagi nih, biar dianterin duluan. Mangap ya pak, saya dianter duluan, pliiiiizzz…….. *sujud cium kaki nggak pake jempolnya lho*

Jam 13.10 wib, Jl. Soekarno Hatta- Bandung :Akhirnya nyampe juga di kantornya, pfiuuuuh… langsung kerja, kerja, kerja!

Jam 15.20 wib, di dalam angkot putih nyusurin Jl. Soekarno Hatta-Bandung :Nggak nyangka, ternyata kerjaan setengah hari bisa kelar dalam waktu seperempat hari, wuakakak. Jadi bisa langsung ketemuan sama kak Dwi. Yuhuuuu…. akhirnya bisa nyantai dikit. Tau2 ada ibu2 tanya, mau kemana neng? *yaelaah eneng, pasti gara2 ransel saya deh, masih dikirain eneng-eneng, hahaha*. Saya jawab, itu bu ke Kartika Sari Dago. Ibu2 itu tau2 langsung ribut sama temennya, ibu2 juga, mau ke Kartika Sari? Jangan ke Dago atuuuuh…, yang enak mah ke blablabla….. dan mereka berdebat mana Kartika Sari yang paling enak. Terus si Mang angkot nanya, Kartika Sari Dagonya yang mana? Deket Rumah Sakit? Hah? Nggak ngerti saya, mang. Emang di Dago ada berapa Kartika Sari? Dua ibu2 masih ribut juga, wah, neng, salah naik angkot atuuuh…., yang bener mah naik warna blablabla…. Lieur, euy! Payah juga nih kak Dwi, kasih meeting point yang nggak jelas gini. Saya pun konfirmasi lagi. Oowwh, bener mang, yang deket Rumah Sakit. Alhamdulilah, nggak usah ganti angkot. Masak sih saya mesti nyasar, ngabis2in waktu dan energi, huh!

Jam 15.40 wib, masih di dalam angkot putih :Gilak! Bandung macet banget sih. Mau ke Dago aja sampe lumutan gini. Kapan nyampenya mang? Masih jauh lagi Dago-nya? Iya neng, sabar aja. Heg! Tarik napas dalem2, sabaaaar…

Bertahun2 tumbuh di Bekasi saya nggak pernah sekalipun ke Bandung. Padahal kakak saya kuliah disini. Mungkin saat itu saya sibuk kuliah juga kali ya, hehehe. Liat pemandangan kota Bandung via jendela angkot lumayan juga, banyak pohon2 gede yang diameternya bisa bikin ngiler mafia kayu, pengusaha kecil2an sablon bejibun dimana2, jualin kaos2 gambar lucu2, keren2, factory outlet dan café juga nyempil2 di tiap jalan, makanan pinggir jalan seabreg2, bener2 hidup ini kota.

Jam 15.50 wib, di jalan Dago :Ternyata itu angkot putih nggak ngelewatin jalan Dago, karena saya harus nyeberang dikit. Nyusurin pelan2 jalan sebelah kiri, nyampe deh Kartika Sari Dago. Meeting point. Akhirnya bisa ngaso juga. Langsung saya mangkal di warung kecil di depan Kartika Sari. Teh botol dingin satu ya bu!

Jam 16.00 wib, Kartika Sari Dago :Busyet, kak Dwi tetep nggak berubah hahaha! Udah jadi ibu dua anak aja tetep preman, datang dengan motor plus jaket tukang ojek, wuakakak! Kak Dwi, kak Dwiii, I miss you so muuuuuch….! Ngobrol curcol ngakak-ngakak with a dear friend is definitely worth it, ya nggak?

Jam 18.00 wib, Travel X-Trans, depan Ciwalk Bandung :Setelah puas ngobrol, maen ke rumah kak Dwi, kasih kado buat anaknya, numpang mandi, langsung deh ciao ke X-Trans, meeting point berikutnya dengan anak2 pijeaydi cabang Bandung, dianter sama tukang ojek paling cantik :p

Still Wednesday, abis maghrib, masih di Travel X-Trans- Ciwalk Bandung :Bertemu dengan Dini Ernida a.k.a Dee Vedder untuk pertama kalinya, hahaha! Langsung tau muka pas pertama kali liat, nggak capek2 nyari. Langsung ribut ketawa-ketiwi, nggak percaya akhirnya bisa juga ketemuan, hihihi. Kenalan dengan anak2 lainnya: Budhi Wibawa, Denny Wahyudi & Arif Faisal Latief, nama2 yang saya ingat sering atau pernah nyampah di ajang nyampah Pearl Jam Indonesia.

Masih bertahan di hari Rabu, nggak tau jam berapa, tol Cipularang :Menuju Kemang pake mobil sewaan, soalnya kesian si Dini or Denny kalo bawa mobil sendiri dan gantian nyetir, yang ada ngantuk ancur2an pas pulangnya. Duduk paling belakang sama Dini, lebih private katanya, hihihi. Ngobrol apaan aja yang bisa dibahas, kaoslah, kenapa PJ nggak pernah ngapelin kitalah, solusinya gimanalah, macem2. Seru!

Rabu, sekitar jam 8 mau ke jam 9 kayaknya, Pasar Minggu kayaknya :Nungguin Eko Friestland yang pengen ikutan numpang. Lama banget, hahaha.

Rabu, masih di sekitar jam 8 mau ke jam 9 kayaknya, Kemang :Muter2 hunting Hotel Flora, telepon temen yang tau, masih ribet juga, hadeeeeh…

Jam 21.00 wib kayaknya, McDonald deket Hotel Flora-Kemang :Dini cs duluan masuk ke The Rock Café, saya masih nunggu teman, Lilia dan Bembenk, yang saya ajak ikutan nonton, sekalian kangen2an hehehe. Nggak taunya Lilia bawa dua makhluk lucu, Ririen dan Sampeq, dijanjiin ditraktir nonton sama saya. Sialan, jadi jebol deh kantong saya malam ini, hahaha! Padahal dua makhluk lucu itu sudah saya jadwalkan untuk meeting besoknya di Citos, yang lebih familiar ongkos makannya hihihi.

PJ20 Celebration, The Rock Café, jam 21.00 wib s.d modarrr…!Kami berlima masuk dan langsung cari tempat duduk. Kebagian tempat di belakang. Ketawa-ketiwi sebentar sebelum akhirnya saya sadar bahwa Bembenk lagi fly. Hidung saya yang nggak bisa diandalkan nggak tau kalo ternyata badan dia emang udah bau alkohol sejak datang. Sialan nih kak Bembenk! Ngapain sih pake fly segala, ancur banget tuh orang. Udah lama nggak ketemu malah nggak bisa diajak ngobrol, malah ngikik2 nggak jelas, payaaah…hahaha!

Saya tinggalkan mereka sebentar untuk kenalan dengan cewek2 PJID. Hanya beberapa yang saya kenal, itu juga karena saya add via FB, ada Nilam, Palupi dan Dinar. Hahaha, akhirnya meet face to face. Sayang nggak bisa ngobrol coz Perfect Ten udah mulai menunjukkan gigs-nya. Yah, saya juga dengan sukses ketinggalan unjuk gigi para kolektor, hehehe. Nggak apa-apa deh, yang penting saya bisa nonton Perfect Ten, hehehe, kan memang itu tujuan saya datang.

Perfect Ten malam itu cukup bikin saya nganga. Yah, saya kan bukan anak gaul, hehehe, nggak pernah sekalipun liat band yang bawain lagu2 Pearl Jam secara live, paling banter nonton DVD PJ Nite V. Meski Dini dan Nilam bilang ini masih belum ada apa-apanya, karena sound systemnya kedengeran nggak bagus dan performa Hasley si vocalist lagi nggak sebagus sebelum-sebelumnya. Whuaat? Ugh, makin nyesel aja nih nyangkut di pulau seberang, hihihi. Life’s full with choiches, indeed.

Katanya sih Perfect Ten rencananya mau bawain 52 lagu, waaaks! Mau sampe jam berapa ini? Gilak! Udah jam setengah dua belasan aja baru dinyanyiin 20an lagu. Halah, bodo amat dah pulang jam berapa, sekuatnya ajah hehehe. Vocalist Perfect Ten ada dua, Hasley dan Deddot, dua2nya saling mengisi menurut saya. Hasley yang bawaannya petakilan, mirip kutu loncat, nggak bisa diam, serta lucu, dan hapal hampir semua lagu2 yang dibawakannya, mendominasi lagu yang teriak2. Sementara Deddot yang lebih kalem kebagian tugas bawain lagu2 yang suram merenung. Nothingman gilak syahdu banget dah. Selain Nothingman banyak banget lagu2 favorit lain yang dimainin. Ada Breath, I’m In Hiding, Smile, Corduroy, Nothingman, Betterman, Alive, Black, Dissident, Immortality, bahkan Society dibawain juga. Hahaha tapi ada juga lagu yang belum pernah saya dengar tapi sempet baca di status facebook anak2 PJID, kayak Marker In The Sand, wuiih ternyata keren banget lagunya, dibawain sama Ryo, vocalist band Jimmu.

Dini bilang biasanya di setiap event PJID pasti ada unsur kejutannya. Kali ini surprisenya adalah si Pohon Tua Dankie. Wih, nggak nyangka dia datang dan menyumbangkan lagu! Hahaha, saya bener2 nganga kali ini. Dankie bahkan sempat duet gitar dengan gitaris Perfect ten, kalo nggak salah Nito namanya, dashyat bangetlah…

Ujung-ujungnya kegiatan saya kemudian adalah mondar-mandir, antara pengen liat Perfect Ten dari dekat dan nongkrong bareng cewek2 PJID, tapi juga pengen kongkow sama temen2 meski salah satunya sudah teler duluan, hahaha! Yang saya sesalkan cuman satu: saya lupa beli batere kamera! Anjrit… dari sekian hal yang saya berusaha atur dan jaga supaya semua berjalan dengan smooth, ternyata adaaaa… aja yang lupa, ugh! Jadi cuman menghasilkan sedikit jepretan pun cuman sedikit itu juga nggak maksimal, aarrrggh! Apalagi saya juga nggak sempet berjepret ria dengan cewek2 PJID terutama Dini yang udah barengan dari Bandung, @!##%$%$…..

Udah sekitar setengah tiga, saya dan Lilia sudah nggak tahan dengan asap rokok. Mata saya terus2an berair dan kami memutuskan pulang. Pamit dengan Dini, salam buat anak2 yang lain, meski banyak juga anak2 PJID yang sudah pulang. Besok kan masih hari kerja, taww! :p

Kamis, jam 03.00 wib, Kompleks Panorama-Kemang :Saya numpang nginap di rumah sobat lama di daerah Kemang, Ema. Cuman sepuluh menit dari The Rock Café. Baru nyampe, ngobrol dikit, dan saya langsung tewas dengan sukses. Sorry, Em! Mungkin kamu juga bingung kenapa saya  tewas dengan cengiran di bibir, hehehe, bagaimana tidak, saya sudah memperoleh malam yang luar biasa dan dua hari berikutnya jadwal saya sudah penuh untuk ketemuan dengan sahabat2 lainnya. I love you all, guys!! Pokoke bener2 paket tiga hari mudik yang luar biasa, makasih ya bos, sering2 ajah hehehe….

Me Versus Eddie Vedder

Satu sore paket yang gue tunggu-tunggu akhirnya datang. Sebuah DVD dokumentasi Pearl Jam Night yang ke-V, acara tahunan komunitas pecinta Pearl Jam di Indonesia, dengan homebase Jakarta. Oh, ternyata isinya ada dua CD, satu isinya rekaman visual jamming-nya, satunya lagi format MP3. Malamnya tuh DVD langsung gue puter, gue pilih yang bisa ditonton dulu dunk, daripada yang didengerin hehehe.

Well, ternyata itu rekaman lumayan dikit isinya, emang sih semua band ada di situ, tapi nggak semua lagu yang mereka bawain ada di dalamnya. Lumayanlah, apalagi satu-satunya lagu yang gue serius penasaran banget gimana visualisasinya, Corduroy, terpilih sebagai pembuka. Wiih, bener kata Eko dalam notes-nya, one of the PJID admin, cabikan gitarnya om Dankie, si pohon tua seniman asal Bali, benar-benar menyuguhkan sihir ke dalam lagu itu.

Sayang, secara perform DVD keseluruhan, kualitas rekaman suaranya nggak gitu asyik. Suara vokalisnya kalah gede sama suara alat musiknya. Jadi sepanjang nonton, yang ada hanya berisik dan berisik, gue kurang bisa menikmati suara vokal si penyanyinya. Padahal itu yang paling penting, kan, dalam sebuah acara pertunjukan musik. Saking berisiknya, suami sampe kebangun sambil bawa bantal, merem melek, ucek2 mata, kirain ada ribut-ribut apaan gitu. Hahahaha. Padahal gue cuman nyetel sampe level 3 bars di volume player-nya.

Kesimpulannya setelah menikmati tontonan itu, well, not bad, tetep aja yak, nonton secara live lebih direkomendasikan daripada beli DVD-nya, hehehe.

Things were running simply boring, sampe akhirnya gue tidur. Di dalam mimpi gue ngerasa melayang-layang nggak keruan kesana-sini, hingga finally gue mampir di sebuah ruangan kecil, yang tengah mengadakan rapat kecil. Tema rapatnya itu yang mencengangkan: bahwa seorang Eddie Vedder benar-benar akan datang ke Indonesia beberapa hari kemudian, dimana ia mau konser tapi hanya ingin ditemani oleh musisi lokal. Wiiiih, gilaaaaak! Gue makin demen ajah sama si om yang satu ituh, betapa berani ia mengambil keputusan-keputusan penting yang sangat beresiko *ini masih dalam mimpi lho, yah*

Sejurus kemudian, gambar-gambar dalam kepala gue saling mengacak, hingga tibalah D-day. Seingat gue, saat itu gue disibukkan dengan tugas ini-itu, entah apaan, gambarnya saling mengacak lagi, pokoknya tuh tumpukan tugas mesti dilaksanain, diselesein dan gue udah takut aja gue nggak bakalan bisa dateng pas konsernya.

Bener aja. Gue ketinggalan konsernya! Keseeeeelllll……! Gondooooookkk…….! Gue hanya bisa nonton rekamannya, dimana si om ganteng pake kemeja ijo lumutnya, my also foreva favorite colour, duduk di atas bangku tinggi di panggung studio kecil, memetik gitarnya sambil tersenyum, menyanyikan Around The Bend. Sementara sejumlah musisi lokal yang menemaninya di sekelilingnya, nyengir dan terus-menerus nyengir, mungkin kalo nyengir bisa mengakibatkan kematian, mereka udah tewas beberapa menit setelah acara dimulai. Sapiiiiiiii….!

Padahal inilah jenis konser yang gue impi-impikan seumur hidup *kayak ini lagi nggak mimpi ajah, hahaha*. Bukannya di lapangan besar dengan mereka nge-band jauh di atas panggung sana, sementara gue nyempil di kerumunan banyak orang. Eeeeww, got so crowded, I can’t make room. Itulah kenapa gue nggak suka materi2 bootlegs yang kebanyakan isinya konser Pearl Jam disanalah, disinilah. Gue lebih suka konser yang lebih private, yang lebih bisa menikmati full suara vokal si om dan musiknya secara utuh di dalam ruangan, mmm… apa ya istilahnya, mmm lebih ke PJfreak friendly kali yaa *coba2 ngikutin istilah user friendly, tapi nggak tau pas atau nggak, nangkep atau nggak, hehehe*. Makanya konser unplugged Pearl Jam di MTV tahun 1992 itulah favorit gue, meski si om Eddie-nya sempat lumayan aneh dengan nyanyi sambil berdiri dan muter-muter di atas kursi :p

Samar-samar terdengarlah suara dede Naula, “Cucuuuu… cucuuuuu, buuu…..”. Refleks gue bangun, terhuyung-huyung keluar kamar, liat jam, hmmm… jam tiga pagi, cari botol susu, bikin susu lambat-lambat, kasiin ke mulut dede Naula, dan tidur lagi.

Gambar-gambar kembali muncul. Melayang-layang menjejak ke sana-sini. Slowly but sure, mendadak gambar berhenti dan kembali ke scene sebelumnya. Scene dimana gue teriak kekeselan karena ketinggalan konser si om ganteng. Saking keselnya gue bertekad bahwa gue harus ketemu si om entah gimana caranya. Mumpung dia masih semalam di Jakarta. Gue pun berjalan dan berjalan. Nggak tau mau kemana. Pokoknya buru-buru bangetlah. Hahaha.

Sampe akhirnya muncul gambar sebuah lokasi. Kayaknya kok gue familiar banget, yak, sama lokasi ini. Sawah menyebar di sepanjang jalan, rimbunan hutan kecil di kejauhan, pagar-pagar bambu di jalan setapak tanah merah. Semak-semak meliuk disana-sini tertiup angin. Lha, ini kan sawah di belakang kampus gue dulu? Hahahaha. Ngapain gue kesini, sih? *yak, kampus gue yang antik, dikelilingi sawah, empang dan kebun karet dan hutan kecil jauh di ujungnya* :))

Meski kebingungan, sebenarnya gue mau dibawa kemana sih sama ini mimpi, huh, gue tetap sabar ngikutin apa maunya. Gue susurin jalan setapak dengan meraba-raba pagar bambunya. Hingga tiba di belokan tajam yang penuh semak-semak tinggi. Lalu, voilla!

Mendadak muncul si om pas di depan gue. Haaah? Beneran nih? Gue terbengong-bengong menatap si om yang penuh kharisma ini. Kemeja ijo lumutnya udah ganti pake kaos ijo lumut *hehehe, teuteeeuuup*, celana khaki warna item dan dia sendirian! Si om tersenyum dan nanya apaan gitu. In English, of course. Hahaha. Untungnya gue lumayan bisa ngilangin nervous. Gue jawab juga in English. Hihihi. Dan kita terus tanya jawab dalam bahasa inggris. Nggak tau nanya apaan, nggak tau jawab apaan. Kayaknya waktu dalam mimpi sih hebat banget, ber-isi bangetlah obrolannya, tapi pas sekarang mau ditulis, diinget-inget, kok malah lupa! Hihihi.

Sampe akhirnya kita saling diem-dieman. Bukannya keabisan bahan obrolan rasanya, tapi karena saking nggak percayanya bisa ketemuan. Hahahahaha. Gue liatin si om sambil nyengir-nyengir. Si om juga gitu, liatin gue sambil senyum-senyum. Waduuuh, kok kiyut banget sih si om yang satu ini. Terus tau-tau, gue deketin muka si om, gue seriusin liat matanya. Kok gue proaktip gitu sih, nggak abis mikir deh. Hahaha. Apalagi, iiiih, ternyata si om juga ngelakuin yang sama. Setelah muka gue dan si om berada dalam jarak yang cukup, tiba-tiba gue tangkupin kedua tangan di kedua pipinya, dan gue nanya, “May I?”

Bwahahahahahaha. Asli ancur banget. Dari sekian banyak obrolan menyenangkan yang gue inget cuman adegan yang satu ini, kalimat yang satu ini. Bwakakakakak. Asli deh, gue mesti acungin jempol kaki buat gue sendiri, coz nggak mungkin bangetlah gue kayak gitu di dunia nyata. Hello? Nyium duluan? Hahahaha saking gengsinya gue bahkan lebih suka salto tujuh kali dah!

Lucunya, biarpun di dalam mimpi, gue masih tetep berlogika, gue harus ijin dulu sama si om kalo mau nyium, kan dia cinta banget sama istrinya, bwakakakak. Untungnya si om ngerti kalo ciuman ini bukan ciuman apa-apa, tapi just a freaky fans yang serius penasaran banget pengen nyium idolanya. Dan terjadilah, si om mau aja gue cium! Huwahahahahaha lucky me!

Sebenarnya sih, ya ampun, gue malu banget nulis pengalaman seronok ini, tapi sekali lagi yaaa ampuuun…., kenapa tangan dan otak gue jadi gatel banget pengen nulis privasi ini yak? Yang gue sebelin adalah, meski gue bukan penulis bestseller *ngarep sampe nganga*, nyatanya gue kalo mood nulisnya udah muncul, entah senorak apapun itu materinya, kalo nggak buru-buru ditulis, ya ngeganjel aja gitu di pojokan. Ganjelan yang nggak asyik, coz gue malah nggak bisa kerja, yang ada pelampiasannya cuman maen pesbukan, jalan-jalan ke blog artis-artis, nyari-nyari siapa tau ada artis yang pinter *mayan banyak ternyata, blog-nya Dee yang paling gue suka*, sama sekali nggak produktif, dan ini ngeselin karena faktanya kerjaan lagi numpuk, dan yang nyumpel otak gue cuman adegan “May I?” itu. Sapiiiii…. :))

Seorang temen komentar, “Oh my God, you are not only a vedder freak, but I think you obsessed with him :p”. Hmm, iya ya, baru nonton performance-nya band-band yang covering PJ aja, gue udah kebawa-bawa sampe mimpi, apalagi nonton secara live? Huuuuu, noraaaaks hahahaha…..

You Know You’re a Jamhead When..

Satu saat saya lagi bosan bekerja (hehehehe) dan iseng surfing sana-sini, saya nemuin artikel satu ini di pjvault.com. Maybe kalian, truly jammers, pernah membacanya. Artikel ini memuat daftar kegilaan para Jam-Head, didata dari berbagai testimoni mulai tahun 1995 sampai Mei 2009 lalu, sebagai upaya untuk menunjukkan sejauh mana sih PJ fanatics bisa mengekspresikan kegelisahannya. Hihihi. Manusia kalo udah gelisah emang mesti dilampiaskan, bahaya soalnya. Hehehe.

Ekspresi yang sudah pasti biasanya adalah nama email atau bikin password sesuai nama Pearl Jam atau nama anggota band. Di luar yang biasa pastinya juga banyak yang lucu. Misalnya si Pegasus. Ringtone HP-nya adalah selalu lagu Pearl Jam dan kerap membiarkan panggilan telepon hanya karena ia ingin mendengarkan lagunya sampai habis. Hahaha.

Steve, membuat playlist PJ yang berbeda setiap harinya sebagai bahan nyanyian saat mandi. Hahaha.

Leena, membeli kursi terbaik untuk konser Bridge School via kartu kredit bosnya. Bagooos.

Clint, menyiapkan berbagai argumen atas comeback-nya PJ dalam menghadapi Jam-Hate dan punya 12 versi lagu Alive dalam iTunes-nya. Hihihi.

Sementara Frank, ia punya tatto ‘Stickman’ di lengannya dan sudah mempersiapkan sejuta alasan yang penuh makna, jika saja ada anak band lain iseng bertanya “Why the fuck did you get that?”. Jiaaaahahaha.

Sedangkan Doc, ia selalu menggunakan kata ‘even flow’ daripada ‘even though’ di setiap pembicaraan. Hahaha.

Dan George, memaksa diri memakan alpukat dan mencoba menikmatinya, ‘even flow’ benar-benar membenci alpukat sebelumnya. Hahaha.

Holly, memastikan anak lelakinya minimal punya satu kaos PJ untuk segala situasi. Hahaha. Gimana koleksi kaos si Holly-nya ya?

Terakhir adalah Angie. Dia punya rutinitas nonton 8 kali film Singles setiap tahunnya, dan selalu mem-pause setiap adegan yang ada PJ-nya, sekedar untuk menatap Gossard!!! Huwahahaha.

Ada yang aneh nggak? So pasti. Bean, dia berkeliling kota se-Amerika dan mengumpulkan setiap pengumuman ‘lost dogs’ yang ia temui. Dan Laura, membeli 6 buah alpukat hanya untuk berkreasi seni dengannya. Ckckck. Se-crazy apapun kayaknya saya nggak bakalan seaneh itu deh. Hahaha.

Ada juga yang romantis. Gwen, berdua dengan suaminya sepakat mengikuti tur konser PJ start from Philadelphia hingga ke ujung benua Australia, sebagai honeymoon. What a Jamming Honeymoon! Xixixi.

Ada lagi yang hebat. Hans, ia berjuang keras mengusulkan Pearl Jam sebagai topik esai di salah satu mata kuliahnya, dan berhasil! Juga Megan, dengan sabar ia mendownload semua informasi tentang Pearl Jam, setiap artis yang pernah terlibat kerjasama dengan Pearl Jam, setiap artis yang pernah tur bareng Pearl Jam, dan semua artis yang punya pengaruh terhadap Pearl Jam. Fiuuuh!!!

Yang sangat menggugah adalah Dave. Ia punya 3 account bank, untuk kredit, tabungan, dan terakhir khusus untuk mengikuti konser-konser PJ. Wow! Pemikiran yang sangat praktis dan penuh solusi. Meski harapan saya never stop, tapi selalu berpikir akan kemungkinan terburuk. Bagaimana seandainya PJ tidak akan pernah hadir di sini? Tragis. But that’s life, bro. Tak ada salahnya kalau kita bersiap-siap dan mengalah, no? Kita yang datang mengunjungi singgasananya, layaknya orang naik haji, maka sempurnalah iman kita. Bukan berarti semua yang sudah haji itu sudah sempurna imannya lho, tapi seharusnya itu adalah wujud nyata jika kita benar-benar mengimani sesuatu, kan?

Well, yang pasti, membaca berbagai testimoni ini membuat saya merinding. Dan bukannya pamer-pameran mana yang lebih gila dan seru yang muncul di relung Jammers tersebut, malah semangat sebagai Jammers-nya yang terasa kian berenergi. Membaca artikel ini juga membuat saya dengan nikmat menerawang sejumlah ekspresi kegelisahan di masa lalu. Setidaknya dua diantaranya. Hehehe.

Pertama adalah artikel pendek Whom To Marry/Not To Marry-nya Eddie di buku cover album PJ yang ketiga, Vitalogy. Remember? Nah, artikel pendek itulah yang saya jadikan satu-satunya pedoman dalam mencari si Pangeran. Serius. Saya kutip di sini ya untuk lengkapnya.

Eddie bilang salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan dan penderitaan di dunia adalah masih adanya anggapan bahwa dua orang yang saling tertarik fisik, yang sering disalahartikan sebagai cinta, harus menikah.

Ia juga bilang bahwa dua orang yang punya temperamen dan pribadi kompleks yang sama, tidak boleh menikah. Dua orang yang sama-sama tinggi langsing atau pendek gemuk, juga tidak boleh menikah. Dua orang yang sama penggugup dan kikuknya juga tidak boleh menikah.

Seorang pria tidak seharusnya menikahi wanita yang sifatnya hanya mencari kesalahan. Atau wanita yang tujuan hidupnya hanyalah baju, yang hinggap kesana kemari ke berbagai toko, seperti kupu-kupu mengitari bunga-bunga yang indah. Memilih baju yang mewah dan elegan memang sifat alami wanita, tapi jika hal tersebut sudah menguasai pikiran wanita, jiwanya akan tumpul, pikirannya seterusnya akan gagal berkembang, dan wanita seperti itu tentunya bukanlah partner yang baik bagi pria yang berpikir.

Sementara wanita seharusnya tidak menikahi lelaki yang sifat alamiahnya sombong dan kejam, juga mau menang sendiri. Atau lelaki pemabuk, pemakai narkoba, atau yang suka menghabiskan uangnya dalam spekulasi judi atau apapun, atau yang suka segala yang berbau instan karena mereka tak punya daya juang.

Dan hal terpenting dari semuanya adalah berjuang untuk tetap hidup dan tetap dalam kondisi tubuh yang fit, supaya bisa menikmati hidup.

Yeah, meski akhirnya si Eddie sendiri bercerai dengan Beth karena berselingkuh dan kini menikahi seorang mantan model, setidaknya saat itu, artikel ini benar-benar mempengaruhi saya. Bahwa saya tidak akan memilih cowok berdasarkan fisik (sadar diri, tentunya ;D), atau yang bertemparamen tidak sabaran atau berpribadi kompleks seperti yang saya punya, sebagai target untuk didekati. Atau cowok yang sependek dan segemuk saya ;D, atau cowok yang sombong dan mau menang sendiri, pemabuk apalagi pemakai narkoba, dan suka judi. Saya kesulitan untuk hal yang terakhir: hindari cowok yang suka segala yang berbau instan. Karena saya sendiri sedikit suka yang berbau instan, karena apalah daya, kami hanyalah generasi semi-instan, bukannya generasi jaman dulu yang penuh daya juang, dan untungnya bukan generasi jaman sekarang yang sangaaaaat suka segala yang instan. Halah, pantesan aja saya susah dapat pacar, dulu. Hahaha.

Kedua kira-kira tujuh tahun lalu, sekitar tahun 2003 bulan Pebruari, Pearl Jam mengadakan tur konser di lima kota besar Australia, yaitu Brisbane, Sydney, Melbourne, Adelaide dan terakhir, Perth. Saat itu saya sudah bekerja dan kebetulan lumayan punya cukup banyak tabungan. Jadi saya benar-benar excited untuk menonton konser mereka. Betapa pede-nya! Apalagi saya merencanakan sebuah perjalanan yang mungkin hemat, tapi juga penuh petualangan. Hehehe.

Tujuan saya saat itu adalah kota pertama, Brisbane, karena yang terdekat dengan Indonesia. Saya sudah menjadwalkan perjalanan via kapal laut selama lima hari Jakarta-Surabaya-Makassar-Ternate-Sorong dengan tiket kelas ekonomi. Lalu dari Pelabuhan Sorong menuju Pelabuhan Mimika menggunakan kapal feri selama 2-3 hari. Dan dari Mimika, kabarnya ada kapal feri menuju Pelabuhan Cairns, Australia, juga ada pesawat misionaris menuju Darwin. Saya sendiri memilih Pelabuhan Cairns, karena itu kota pantai di tepi barat Australia, lalu tinggal menyusuri enam kota pantai ke arah barat dayanya, dan hopla! Disitulah Brisbane berada.

Perjalanan yang sangat menantang, sangat direkomendasikan dan pastinya butuh partner. Jadilah saya membajak seorang teman, Lilia Ganjar, seorang Reborn 4 Papua, yang menjejakkan semua mimpinya hanya untuk Papua. Tentu saja ia sangat tertarik. Kami pun mulai survei biaya, informasi segala macam, dan planning sedetil mungkin. Saya dengan mata berbinar-binar membicarakan ini itu, sementara Lilia dengan setia mendengarkan, mengangguk-angguk, menilai-nilai. Sepertinya dia malah kelihatan takjub kok bisa ya Meli se-tidak-realistis ini. Hahaha.

Semua hampir fixed saat kenyataan dengan mudahnya membuyarkan semua. Saya diterima sebagai pegawai negeri di Samarinda, Kalimantan Timur, untuk kemudian harus melapor dan langsung mengikuti pembekalannya di awal Pebruari, bertepatan dengan jadwal konser Pearl Jam di Brisbane, 8 Pebruari 2003. Definitely ironic. Dan kalau diingat-ingat, semangat menggebu-gebu seperti itulah yang membuat saya merinding dan jadi ngerasa Jammers banget. Hihihi.

Sekarang ini, setelah saya menemukan kembali kandang yang lama hilang, tentu saja ternyata ekspresi kegelisahan itu masih ada. Karena tak banyak hiburan di kota kecil, saya terkadang menerima ajakan karaoke suami dan teman-teman. Di Happy Puppy, Nav atau Inul Vista, lumayan ada lagu-lagu Pearl Jam. Satu album Ten dan sejumlah singles seperti Last Kiss, Yellow Ledbetter, serta satu Given To Fly.

Meski saya dulunya penyiar radio kampus (siaran khusus dua jam tiap minggu: Alternative Jungle, masa-masa yang sangat memuaskan, bisa berkesempatan memprovokasi banyak orang dengan lagu-lagu Stone Temple Pilots, Nirvana, Soul Asylum, Soundgarden, Guns ‘N Roses, dan tentu saja si pemain utama, Pearl Jam! ;D), dalam hal memegang mike, saya adalah pribadi pemalu dan pasif, kecuali saat siaran karena nggak ada yang mengharap saya nyanyi tentunya, selain studio tentunya bukanlah panggung. Bisa dianggap saya juga buta nada dan buta lagu-lagu yang hits, terutama lagu Indonesia.

Tapi fakta berbicara lain jika itu lagunya Pearl Jam. Tak peduli betapa bosannya suami dan teman-teman, Pearl Jam tak pernah ketinggalan. Hahaha. Dan betapa herannya mereka melihat saya ‘jingkrak-jingkrak’ setiap membawakannya, dengan nada yang pas. Hihihi. Pearl Jam certainly makes out what deeply hiding inside you, huh?

Pokoknya Pearl Jam, Titik!

Sekitar akhir September 2009, seorang teman menulis di wall, “Mel, lo mesti baca Kompas hari ini. Rubrik Komunitas. Lo banget!” Sejenak saya surprised. Teman yang satu ini memang sobat lama *hai Kahar* tapi saya nggak nyangka kalau dia mengenal saya sampai segitunya. Penasaran, langsung saya hunting koran setelahnya. Perjalanan panjang berburu koran, hampir lima lokasi semua Kompas amblas tak tersisa, dipenuhi keingintahuan luar biasa, kira-kira tentang apa ya?

Semenjak kuliah saya ikutan mapala. Sobat lama yang saya sebutkan tadi juga saya kenal dari lingkungan mapala. Dan hingga menjadi ibu dua malaikat kecil, kebetulan komunikasi terhadap lingkungan tersebut jalan terus. Jadi yang ada di kepala saya hanyalah asumsi jangan-jangan Manunggal Bhawana ~ nama mapala di kampus saya dulu, masuk Kompas! Waaah, really excited deh. Kasihan juga sama suami yang mestinya sudah bisa istirahat di rumah, saya paksa temani berburu hingga larut malam. Pokoknya judulnya mesti dapat! ;p

Di kios kecil depan lapas penjara, notabene adalah lokasi ketujuh, akhirnya saya berhasil memperolehnya. Dengan sabar, saya bahkan membolak-balikkan halamannya di atas motor yang tengah melaju kencang, karena dua malaikat kecil di rumah bersikeras tidak mau tidur kecuali menunggu dongeng ibunya. Tak sampai lima menit, mata saya kepentok satu judul yang amat sangat mencengangkan: “Pokoknya Pearl Jam, Titik!”. Begitu kukuh dan abadi. Saya benar-benar tak mengira. Sesuatu yang “Lo banget!” itu adalah Pearl Jam. Bukan mapala, dunia yang saya akui berhasil membesarkan saya. Rasa hangat perlahan memenuhi dada. Teringat dunia hingar bingar kekacauan yang sengaja tak sengaja saya lupakan sejak delapan tahun yang lalu. Ah, gila!

Hidup memang gila! Living in a fast line benar-benar membuat saya menjadi tua dan ‘tersesat’. Dan satu kalimat, hanya satu kalimat, sanggup menyihir saya dan menyadarkan kembali siapa jati diri saya yang sebenarnya. Yeah! That’s me. That’s always me. Meli Vedder. A real Jam-Head. Bahkan di dunia mapala, saya selalu meninggalkan jejak dimanapun sebagai seorang Meli Vedder. Bagaimana saya bisa ignore? Menikmati kemewahan album deluxe Lost Dogs di satu hari dan minggu besoknya melupakannya begitu saja? Menemukan album singles di satu toko kaset dengan mata berbinar-binar dan hati yang melompat-lompat, untuk kemudian memandang datar ke deretan album-album tersebut? Penuh semangat menelusuri artikel wawancara dan embel-embelnya di internet dan menyusunnya di satu bundel besar, untuk kemudian melemparnya ke gudang? Bagaimana saya bisa???? Aaaarrrrrggghh…..!!! Crazy Meli, that’s me!

Beribu sesal akhirnya melahirkan beribu terima kasih kepada si sobat lama, big thank’s, brader Kahar, yang telah mengantarkan saya tiba di satu titik balik sebagai seorang Jammer. Saya pun langsung bergerak. Menelusuri keberadaan PJId yang tak disangka begitu produktif, melebur jadi membernya, meski akhirnya mesti puas hanya dengan menjadi non aktif karena kewalahan membaca satu-demi-satu email yang diterima milis *T-i-m-e is priceless to me, cuiiih ;p* dan akhirnya me-resetnya dengan tidak menerima email milis via email pribadi. What a lame. Saya pun me-request pertemanan sejumlah Jammers via facebook, especially the administrators, dalam rangka news tetap ter-up-to-date in a flexible way.

Langkah selanjutnya adalah mengobrak-abrik gudang mencari cd/kaset album dan singles juga kompilasi yang terselip nggak keruan. Hasilnya amat menyedihkan. Sebagian besar sudah jamuran. Kumpulan artikel historis dan perjalanan PJ, lirik, foto dan sticker yang saya jilid jadi satu bundel besar, telah memudar hasil print-annya dan lebih celaka lagi, lembarannya kebanyakan sudah menempel, tidak bisa dibuka satu per satu. Tragis.

Untungnya, sebuah novel jadi-jadian yang tak pernah saya terbitkan dengan cover Eddie Vedder tengah duduk di atas kloset tertutup, menulis sesuatu dengan kepala tertunduk, dengan rambut tergerai liar dan kaki kanan terongkang di atas kaki kiri, tentu saja tak ketinggalan dengan Doc Marten-nya yang melegenda, semburat warna merah gelap memenuhi gambar, menampilkan nuansa remang abu yang hebat, sukses saya temukan secara utuh. How lucky I am! Pic itu adalah gambar terfavorit saya. Karena pic tersebut berhasil merekam sosok Eddie sebenarnya, bahwa di balik penampilan the coolest vocalist, terdapat pribadi yang senantiasa mempertanyakan dunia dalam perenungan lirik lagunya. Really admires him, dude!

Selain novel jadi-jadian, ternyata saya masih punya back up lagu-lagu Pearl Jam hingga era Lost Dogs di portable harddisk. Oke, modal yang cukup untuk memulai start menggali kembali informasi all about PJ. Apalagi seorang teman baik PJId asal Makassar, bung Ipul, bahkan mengenalkan saya filosofi “Spread The Jam”-nya PJId, dan ia rela mengirimkan sebundel cd koleksi album PJ. Big thank’s to bung Ipul!!!

Yah, tak dinyana, menyelamatkan spirit yang telah lama ‘tersesat’ cukup membuat saya stres. Antara memiliki proyek besar dan sangat bersemangat untuk menyelesaikannya, tapi tak punya waktu cukup adalah kegilaan sementara. Faktor x lainnya adalah status saya yang kini sudah bisa punya uang sendiri dan berani punya mimpi jadi member tenclub (daftar mesti bayar $25), membeli merchandise-merchandisenya yang teramat sangat menggiurkan (khususnya 2008 Ten Super Deluxe Edition seharga $140), serta mengkoleksi kembali semua albumnya physically (how much money!), sementara si Ayah hanya berkomentar pendek, “Band apaan tuh, nggak pernah denger namanya”. Hahahaha.

All evenings close like this. All these moments that I’ve missed. Please forgive me, won’t you dear? Please forgive and let me share with you around the bend.