Rindu Tere Liye

Well, I admit it, saya baru penasaran siapa sosok Tere Liye sesungguhnya setelah baca novel entah keberapanya yang berjudul Rindu. Novel pertama yang saya baca ya Negeri Para Bedebah, which is very good, tapi nggak tahu kenapa saya belum interest untuk cari tau siapa sosok Tere Liye sang penulis. Dia kan nggak memperkenalkan dirinya di bagian belakang novel, entah itu secuil foto or email. Belakangan guggling nggak taunya yang keluar malah drama populer India berjudul sama, Tere Liye, yang artinya For You. Kayaknya sih bintang utamanya Sharukh Khan gitu. Nah, disinilah penasaran itu tumbuh. Ini penulisnya cewek or cowok sih? Meski saya senantiasa menganggap semua yang berasal dari India itu lebay, tapi untuk nama samaran yang satu ini, penulis saya anggap brilian. Hahaha, tumben. Coz it sounds unique and easy to remember.

Baca lebih lanjut

Iklan

Yes, I am a Sherlockian

Last Friday it was decided for a lazy weekend. So I picked a heavy box of six Sherlock CDs from that BBC serial films. I used to say to my sister, Yudol, that Sherlock Hollywood version by Robert Downey Jr is one of the best movie of Sherlock I’ve ever seen. She laughed at me once and said that I have to see this one. Robert Downey was just copy paste his bloody wacky character from Iron Man to this genius detective, ruined the character so much. From a serious and cold one to a hilarious one. I think it was for a different perspective, and was accepted enough for a movie slash Sherlock lover like me. But I also curious to this one. I don’t have a television cable, so when I found them on a local rental movie, I was a little bit surprised, I looked at them twice, and saved the last decision that kids maybe will missed their chance to swim this weekend.

Baca lebih lanjut

The World Deadliest Woman

Dulu banget, seorang teman, Mocha, men-tagging saya dalam notes-nya, The World Deadliest Woman. Isinya sungguh menarik. Bercerita tentang seorang wanita Irak, Dr. Rihab Taha, seorang ilmuwan  yang bertugas memimpin program senjata biologi Irak, yang membuatnya menjadi ilmuwan paling berbahaya, hingga dijuluki sebagai Dr. Germ alias Dr. Kuman, dan dianggap sebagai ancaman terbesar setelah perang dingin oleh AS dan sekutunya, dan untuk itu ia harus dilenyapkan dengan taruhan apapun. Inilah salah satu alasan utama mengapa akhirnya AS perang dengan Irak.

ImageKisahnya berawal pada tahun 1979, saat ia berangkat ke Inggris untuk belajar di bidang plant toxins, tanaman beracun. Ia pun memperoleh gelar PhD di University of East Anglia di Norwich, dimana ia memdalami biologi secara serius dan terfokus pada bidang penularan penyakit. Dia sosok yang sederhana, tak banyak lagak. Sangat pendiam dan pemalu. Bahkan pengajarnya selama 4 tahun, Dr. John Turner, mantan pimpinan jurusan biologi di universitas tersebut mengatakan, “Dari semua mahasiswa yang pernah saya didik, dialah orang terakhir yang saya duga mampu melakukan hal mengerikan semacam itu.”

Sesudah Dr. Taha kembali ke Irak, Saddam Husein langsung memerintahkannya untuk memimpin program pengembangan senjata biologis. Seperti halnya bom atom, senjata ini tentunya sanggup membunuh jutaan manusia tanpa perlu pengetahuan teknis tinggi maupun biaya yang mahal.

Sesuai informasi yang disampaikan mantan pimpinan Tim Pengawas Senjata Biologi Irak di PBB, Richard Spretzel, menurut perkiraan PBB, Dr. Taha telah mengembangkan 8.400 liter anthrax dan berbagai senjata biologis lain. Ia membuat 19.000 liter botulinum, racun yang bisa membuat korbannya mati lemas dengan lidah membengkak. Ia memproduksi 2.000 liter aflatoxin, yang mampu menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan pertumbuhan kanker secara cepat. Ia juga mengembangkan ganggren, yang bisa membuat kulit manusia mencair dan mengelupas.

Tim Pengawas PBB pun menduga bahwa Dr. Taha sengaja menjadikan para tahanan Irak sebagai kelinci percobaan terhadap sejumlah senjata biologis buatannya, untuk mengamati efeknya jika digunakan dalam perang. Karena para tahanan tersebut banyak yang mengalami kebutaan, pendarahan mata, demam Crimen Congo, cacar unta dan penyakit-penyakit mengerikan lainnya, dimana akhirnya mereka mati perlahan-lahan akibat kehilangan darah dari luka-luka terbuka di kulitnya.

Sementara pemerintah Irak sendiri tidak mau diajak bekerja sama. Bahkan setelah diajukan enam laporan berbeda soal bukti-bukti adanya program pengembangan senjata biologis di negaranya, Irak membantah semuanya. Setiap Tim Pengawas Senjata Biologis Irak melakukan penggerebekan di sejumlah tempat yang diduga sebagai laboratoriumnya, setiap kali pula mereka hanya menemukan gudang kosong yang sepertinya baru dibersihkan secara terburu-buru, dengan dokumen-dokumen yang masih terbakar di tempat sampah.

Mengapa Dr. Taha selalu selangkah di depan Tim Pengawas? Karena menurut rumor, ia adalah istri simpanan Letjen Amer Rashid, pejabat militer Irak yang ditugaskan bekerja sama dengan Tim Pengawas. Tak heran bila selama bertahun-tahun Tim Pengawas PBB tak pernah berhasil menemukan bukti keberadaan senjata biologis di Irak.

Bagi saya pribadi, entah apakah cerita ini benar atau tidak. Ada beberapa yang janggal. Pertama, tidak diceritakan bagaimana caranya PBB bisa memperkirakan senjata biologis apa saja yang dikembangkan oleh Dr. Rihab Taha, hingga memastikan seberapa banyak senjata tersebut telah dibuat. Kedua, semuanya hanya berdasarkan perkiraan. Bukti keberadaan senjata biologis tersebut pun tak pernah ditemukan. Ketiga ada sejumlah paragraf yang menceritakan bahwa Tim PBB sempat mengkonfrontasi Dr. Taha dengan bukti-bukti yang kuat dan mengatakan bahwa Dr. Taha bangga dengan apa yang dilakukannya, bahwa ia tak ragu menampilkan diri sebagai otak di balik senjata biologis Irak. Dengan begitu, seharusnya Dr. Taha bisa dikatakan sudah mengakui bahwa ia yang bertanggung jawab. Mengapa dari pengakuan tersebut tidak bisa dikembangkan menuju pembuktian keberadaan senjatanya? Aneh. Dan terakhir, jika memang senjata biologis itu ada, mengapa saat perang Irak-AS terjadi dan diakhiri tertangkapnya Saddam Husein, berbagai senjata biologis tersebut tak pernah digunakan?

Di sisi lain, jika cerita ini benar adanya, bahwa memang ada seorang Dr. Taha yang sanggup membuat berbagai senjata biologis tersebut, dimana dalam notesnya, Mocha mengangkat jempolnya untuk seorang wanita yang dianggap paling berbahaya dan sanggup membuat AS dan Israel sekutunya tak berdaya, karena ia sangat jenius, maka saya tak begitu setuju dengannya. Saya pun langsung menulis komentar bahwa itulah devil sebenarnya, seorang ibu yang sanggup membuat racun mematikan buat bayi2 sama sekali bukanlah tokoh yang layak dikagumi. Nah, satu hal yang akhirnya saya tertarik untuk membahasnya lagi di sini adalah komentar temannya yang lain, berikut saya kutip di sini:

“Mocha.. notenya sungguh menarik.. 🙂 Menghadapi perkembangan persenjataan, bagaimana sikap kaum Muslim, terutama dalam peperangannya melawan musuh? Apakah mereka dibolehkan menggunakan senjata-senjata tersebut? Allah Swt. telah memerintahkan kita—kaum Muslim—untuk berjihad fi sabilillah. Itu berarti kita wajib melakukan peperangan melawan musuh-musuh kita yang kafir/musyrik dengan menggunakan persenjataan. Sebab, jihad bermakna berperang secara fisik/militer; senjata melawan senjata. Allah Swt. tidak membatasi/menentukan jenis persenjataan tersebut. Jadi, semua jenis senjata yang dapat digunakan untuk berjihad fi sabilillah melawan negara-negara kafir/musyrik dibolehkan. Alasannya, karena nash-nash syariat tidak menentukan atau membatasi jenis persenjataan maupun sarana tertentu yang digunakan untuk memerangi musuh Allah Swt.”

Well well well. Komentar yang sungguh berbahaya, ya kan? Seorang perempuan, memiliki pandangan seperti ini di tengah derasnya trauma serangan teroris dimana-mana. Apakah ia tidak lagi menggunakan logika dan hatinya, hingga sanggup menelan bulat2 semua yang diberikan padanya? Oke, saya bukan ahli agama. Jadi saya tidak mampu untuk mendebatnya dengan nash-nash Al-Qur’an, untuk menyatakan isi kepala saya. Tapi yang saya tahu pasti, Al-Qur’an juga mengajarkan tentang perdamaian, mengajarkan bahwa dalam berperang, wanita dan anak-anak tidak boleh dijadikan korban. Al-Qur’an mengajarkan bagaimana bertindak sportif, menurut saya. Jadi kalau mereka bersenjatakan modern, mengapa negara muslim tidak bisa mengusahakan yang sama? Tidak dengan berlaku curang membuat senjata biologis yang murah tapi sangat mematikan, tak hanya bagi prajurit yang berperang tapi juga wanita dan anak-anak tak bersalah. Kapasitas saya memang tidak layak, baik untuk membahas perang AS-Irak maupun Israel-Palestina.

Tapi menurut logika cetek saya, dalam kasus perang AS-Irak, sudah jadi rahasia umum bahwa AS bertujuan menguasai minyak Irak, dengan demikian berusaha melumpuhkan Irak bagaimanapun caranya, termasuk isu senjata biologis tadi. Jadi ini adalah penjajahan di abad modern. Seharusnya ini bisa dicegah dengan tindakan tegas PBB. Mana yang salah, ditindak, dan yang benar dibela. Begitu juga kasus Israel-Palestina.

Karena PBB sama sekali tidak membantu, sekarang sudah saatnya negara-negara muslim bergerak tidak hanya membicarakan bisnis minyaknya dalam lingkup APEC, atau saling berperang sendiri, tapi benar-benar duduk bersama dan serius memikirkan semua masalah ini, jika mereka memang benar peduli dengan perintah Allah Swt akan keharusan jihad fisabilillah. Karena hanya dengan bersatulah kalian bisa menang. Bagaimana jika kalian bekerja sama dalam bidang pengembangan senjata hingga semodern mereka? Atau bahkan bidang lainnya? Dan untuk kelompok teroris, hanya dengan menjadi pengecut dan menanam bom dimana-mana kalian menyebutnya jihad? Tak bisakah kalian bergerak ke arah yang lebih positif dan berani? Well, jika kalian memang lebih suka diam, tak peduli dan pengecut, tak heran jika AS/Israel yang katanya musuh kalian itu menang dimanapun mereka berada. Kalian bahkan tidak bisa menang atas usaha sendiri, melainkan hanya bisa berharap Imam Mahdi akan turun dan membuat dunia menjadi adil. Ckckck.

Me Versus Eddie Vedder

Satu sore paket yang gue tunggu-tunggu akhirnya datang. Sebuah DVD dokumentasi Pearl Jam Night yang ke-V, acara tahunan komunitas pecinta Pearl Jam di Indonesia, dengan homebase Jakarta. Oh, ternyata isinya ada dua CD, satu isinya rekaman visual jamming-nya, satunya lagi format MP3. Malamnya tuh DVD langsung gue puter, gue pilih yang bisa ditonton dulu dunk, daripada yang didengerin hehehe.

Well, ternyata itu rekaman lumayan dikit isinya, emang sih semua band ada di situ, tapi nggak semua lagu yang mereka bawain ada di dalamnya. Lumayanlah, apalagi satu-satunya lagu yang gue serius penasaran banget gimana visualisasinya, Corduroy, terpilih sebagai pembuka. Wiih, bener kata Eko dalam notes-nya, one of the PJID admin, cabikan gitarnya om Dankie, si pohon tua seniman asal Bali, benar-benar menyuguhkan sihir ke dalam lagu itu.

Sayang, secara perform DVD keseluruhan, kualitas rekaman suaranya nggak gitu asyik. Suara vokalisnya kalah gede sama suara alat musiknya. Jadi sepanjang nonton, yang ada hanya berisik dan berisik, gue kurang bisa menikmati suara vokal si penyanyinya. Padahal itu yang paling penting, kan, dalam sebuah acara pertunjukan musik. Saking berisiknya, suami sampe kebangun sambil bawa bantal, merem melek, ucek2 mata, kirain ada ribut-ribut apaan gitu. Hahahaha. Padahal gue cuman nyetel sampe level 3 bars di volume player-nya.

Kesimpulannya setelah menikmati tontonan itu, well, not bad, tetep aja yak, nonton secara live lebih direkomendasikan daripada beli DVD-nya, hehehe.

Things were running simply boring, sampe akhirnya gue tidur. Di dalam mimpi gue ngerasa melayang-layang nggak keruan kesana-sini, hingga finally gue mampir di sebuah ruangan kecil, yang tengah mengadakan rapat kecil. Tema rapatnya itu yang mencengangkan: bahwa seorang Eddie Vedder benar-benar akan datang ke Indonesia beberapa hari kemudian, dimana ia mau konser tapi hanya ingin ditemani oleh musisi lokal. Wiiiih, gilaaaaak! Gue makin demen ajah sama si om yang satu ituh, betapa berani ia mengambil keputusan-keputusan penting yang sangat beresiko *ini masih dalam mimpi lho, yah*

Sejurus kemudian, gambar-gambar dalam kepala gue saling mengacak, hingga tibalah D-day. Seingat gue, saat itu gue disibukkan dengan tugas ini-itu, entah apaan, gambarnya saling mengacak lagi, pokoknya tuh tumpukan tugas mesti dilaksanain, diselesein dan gue udah takut aja gue nggak bakalan bisa dateng pas konsernya.

Bener aja. Gue ketinggalan konsernya! Keseeeeelllll……! Gondooooookkk…….! Gue hanya bisa nonton rekamannya, dimana si om ganteng pake kemeja ijo lumutnya, my also foreva favorite colour, duduk di atas bangku tinggi di panggung studio kecil, memetik gitarnya sambil tersenyum, menyanyikan Around The Bend. Sementara sejumlah musisi lokal yang menemaninya di sekelilingnya, nyengir dan terus-menerus nyengir, mungkin kalo nyengir bisa mengakibatkan kematian, mereka udah tewas beberapa menit setelah acara dimulai. Sapiiiiiiii….!

Padahal inilah jenis konser yang gue impi-impikan seumur hidup *kayak ini lagi nggak mimpi ajah, hahaha*. Bukannya di lapangan besar dengan mereka nge-band jauh di atas panggung sana, sementara gue nyempil di kerumunan banyak orang. Eeeeww, got so crowded, I can’t make room. Itulah kenapa gue nggak suka materi2 bootlegs yang kebanyakan isinya konser Pearl Jam disanalah, disinilah. Gue lebih suka konser yang lebih private, yang lebih bisa menikmati full suara vokal si om dan musiknya secara utuh di dalam ruangan, mmm… apa ya istilahnya, mmm lebih ke PJfreak friendly kali yaa *coba2 ngikutin istilah user friendly, tapi nggak tau pas atau nggak, nangkep atau nggak, hehehe*. Makanya konser unplugged Pearl Jam di MTV tahun 1992 itulah favorit gue, meski si om Eddie-nya sempat lumayan aneh dengan nyanyi sambil berdiri dan muter-muter di atas kursi :p

Samar-samar terdengarlah suara dede Naula, “Cucuuuu… cucuuuuu, buuu…..”. Refleks gue bangun, terhuyung-huyung keluar kamar, liat jam, hmmm… jam tiga pagi, cari botol susu, bikin susu lambat-lambat, kasiin ke mulut dede Naula, dan tidur lagi.

Gambar-gambar kembali muncul. Melayang-layang menjejak ke sana-sini. Slowly but sure, mendadak gambar berhenti dan kembali ke scene sebelumnya. Scene dimana gue teriak kekeselan karena ketinggalan konser si om ganteng. Saking keselnya gue bertekad bahwa gue harus ketemu si om entah gimana caranya. Mumpung dia masih semalam di Jakarta. Gue pun berjalan dan berjalan. Nggak tau mau kemana. Pokoknya buru-buru bangetlah. Hahaha.

Sampe akhirnya muncul gambar sebuah lokasi. Kayaknya kok gue familiar banget, yak, sama lokasi ini. Sawah menyebar di sepanjang jalan, rimbunan hutan kecil di kejauhan, pagar-pagar bambu di jalan setapak tanah merah. Semak-semak meliuk disana-sini tertiup angin. Lha, ini kan sawah di belakang kampus gue dulu? Hahahaha. Ngapain gue kesini, sih? *yak, kampus gue yang antik, dikelilingi sawah, empang dan kebun karet dan hutan kecil jauh di ujungnya* :))

Meski kebingungan, sebenarnya gue mau dibawa kemana sih sama ini mimpi, huh, gue tetap sabar ngikutin apa maunya. Gue susurin jalan setapak dengan meraba-raba pagar bambunya. Hingga tiba di belokan tajam yang penuh semak-semak tinggi. Lalu, voilla!

Mendadak muncul si om pas di depan gue. Haaah? Beneran nih? Gue terbengong-bengong menatap si om yang penuh kharisma ini. Kemeja ijo lumutnya udah ganti pake kaos ijo lumut *hehehe, teuteeeuuup*, celana khaki warna item dan dia sendirian! Si om tersenyum dan nanya apaan gitu. In English, of course. Hahaha. Untungnya gue lumayan bisa ngilangin nervous. Gue jawab juga in English. Hihihi. Dan kita terus tanya jawab dalam bahasa inggris. Nggak tau nanya apaan, nggak tau jawab apaan. Kayaknya waktu dalam mimpi sih hebat banget, ber-isi bangetlah obrolannya, tapi pas sekarang mau ditulis, diinget-inget, kok malah lupa! Hihihi.

Sampe akhirnya kita saling diem-dieman. Bukannya keabisan bahan obrolan rasanya, tapi karena saking nggak percayanya bisa ketemuan. Hahahahaha. Gue liatin si om sambil nyengir-nyengir. Si om juga gitu, liatin gue sambil senyum-senyum. Waduuuh, kok kiyut banget sih si om yang satu ini. Terus tau-tau, gue deketin muka si om, gue seriusin liat matanya. Kok gue proaktip gitu sih, nggak abis mikir deh. Hahaha. Apalagi, iiiih, ternyata si om juga ngelakuin yang sama. Setelah muka gue dan si om berada dalam jarak yang cukup, tiba-tiba gue tangkupin kedua tangan di kedua pipinya, dan gue nanya, “May I?”

Bwahahahahahaha. Asli ancur banget. Dari sekian banyak obrolan menyenangkan yang gue inget cuman adegan yang satu ini, kalimat yang satu ini. Bwakakakakak. Asli deh, gue mesti acungin jempol kaki buat gue sendiri, coz nggak mungkin bangetlah gue kayak gitu di dunia nyata. Hello? Nyium duluan? Hahahaha saking gengsinya gue bahkan lebih suka salto tujuh kali dah!

Lucunya, biarpun di dalam mimpi, gue masih tetep berlogika, gue harus ijin dulu sama si om kalo mau nyium, kan dia cinta banget sama istrinya, bwakakakak. Untungnya si om ngerti kalo ciuman ini bukan ciuman apa-apa, tapi just a freaky fans yang serius penasaran banget pengen nyium idolanya. Dan terjadilah, si om mau aja gue cium! Huwahahahahaha lucky me!

Sebenarnya sih, ya ampun, gue malu banget nulis pengalaman seronok ini, tapi sekali lagi yaaa ampuuun…., kenapa tangan dan otak gue jadi gatel banget pengen nulis privasi ini yak? Yang gue sebelin adalah, meski gue bukan penulis bestseller *ngarep sampe nganga*, nyatanya gue kalo mood nulisnya udah muncul, entah senorak apapun itu materinya, kalo nggak buru-buru ditulis, ya ngeganjel aja gitu di pojokan. Ganjelan yang nggak asyik, coz gue malah nggak bisa kerja, yang ada pelampiasannya cuman maen pesbukan, jalan-jalan ke blog artis-artis, nyari-nyari siapa tau ada artis yang pinter *mayan banyak ternyata, blog-nya Dee yang paling gue suka*, sama sekali nggak produktif, dan ini ngeselin karena faktanya kerjaan lagi numpuk, dan yang nyumpel otak gue cuman adegan “May I?” itu. Sapiiiii…. :))

Seorang temen komentar, “Oh my God, you are not only a vedder freak, but I think you obsessed with him :p”. Hmm, iya ya, baru nonton performance-nya band-band yang covering PJ aja, gue udah kebawa-bawa sampe mimpi, apalagi nonton secara live? Huuuuu, noraaaaks hahahaha…..

Jacob Black

Image
Oke, langsung aja, siapa sih yang gak tau Jacob Black? Hahaha, ternyata banyak juga yg belom tau, temen2 gw terutama, macam Eni Martini – seorang penulis novel yang punya fans tersendiri, atau si workaholic Emot, apalagi Erwin yang dunianya cuman game perang dan kendo, hihihihi paraaahhh kalian! Apa gw-nya aja yak yang ke-gaul-an? Perasaan gw orang yang jadul banget :p

Jadi ceritanya di dunia werewolf itu ada yang namanya imprint, yaitu sebuah metode bagaimana werewolf menemukan belahan jiwanya *tentu saja belahan jiwanya itu manusia juga, bukan serigala hehehe*. Imprint ini lebih kuat daripada cinta, katanya. Sekali seorang werewolf mengalami imprint, dia tak bisa berpaling ke yang lain. Bisa dibilang sudah takdirnya *gampang banget ya, seandainya manusia juga mengalami imprint, gak susah2 nyari jodoh deh, hahahaha tinggal nunggu ketemu ajah heheheh*. Nah di Breaking Dawn ini, ceritanya Bella-Edward menikah, Bella hamil dan ternyata, anaknya Bella inilah imprintee-nya si Jacob. Huh, gak seru. Emang sih Jacob bisa menunggu coz werewolf gak akan pernah menua kecuali dia sengaja meninggalkan kemampuannya berubah bentuk, tapi tetep ajah, gak kreatif amat, ada karakter baru gitu kek, tipe cewek yang jauh mengesankan dibanding Bella, misalnya hehehe.

Bukannya gw anti-Bella sih, tapi ya ampun, kadang gw gak ngerti, apa dia gak cape yak, yang dibahas sama Edward tuh cuman “oh, aku tak akan bisa jauh dari kamu” “oh, dia tampan sekali, aku sampe gemeteran” “aku akan selalu menjagamu sampai kapanpun” bla-bla-bla. Cape bacanya. Bisa dibilang Bella juga amat sangat tergantung sama Edward. Bego banget. Padahal dia itu pinter. Bukannya gw sok feminis, tapi gila yak, itu cewek sok rapuh banget sih, padahal sebenarnya bisa2 aja ngapa2in sendiri. Gak bisa kontrol dirinya sendiri. Belum lagi mupeng-nya itu! Setiap liat Edward, mulai deh mulaaaai, yang dibahas betapa tampannya Edward, betapa indah warna matanya jiaaahh hahahaha. Ini diulang terus di setiap novelnya, bayangkan! Hahahaha nggak ada capeknya yak yang ngarang.

Bukannya gw anti-Edward juga sih. Tapi bagi gw Edward itu ngebosenin, tampangnya pucet banget, cemen, terlalu romantis dan overprotektif. Well, lagian I’ve already have my own Edward hehehe, soalnya nama aslinya Eddie Vedder itu Edward juga hahahaha *ngocol*.

Sementara Jacob? Hehehe gw pernah bahas ini sama elo, Ta. Macho? Cuman macho? Ya ampun, ini gara2 filmnya yang hanya memberi kesan kalo Jacob itu macho. Padahal kelebihan Jacob itu banyak banget!!! Pertama, dia sangat tidak membosankan, mungkin karena dia itu cerdas, baik secara emosi juga logika. Simak aja komunikasinya sama Bella, yang dibahas banyak, gak cuman “Bella! Please pilih gw, jangan pilih si muka pucat, pleaseee…”. Saat dia diskus tentang perasaannya pun yang dipakai adalah bahasa logis, gak mendayu-dayu kayak Edward. Kedua, Jacob sangat hidup *bener kan, logikanya dia lebih hidup dibanding si muka pucat :p*. Hidup Bella lebih berwarna saat bersama Jacob. Mulai dari belajar naik motor, hiking, terjun ke laut dari tebing tinggi, sampe yang sepele seperti nonton bioskop. Meyer bener2 ngegambarin betapa hidupnya keduanya saat bersama2. Ketiga, Jacob itu lucu, hangat, suka nyengir, dan cengirannya amat menular. Orang2 di sekelilingnya pasti ketularan nyengir juga. Jacob juga sinis. Orang yang lucu tapi juga sinis adalah sempurna. Hubungannya dengan Bella keseluruhannya adalah saling mengejek, hahaha bener2 hubungan yang sangat normal.

Yeah, emang sih soal elo pilih yang mana, Jacob atau Edward, adalah tergantung dari kepribadian elo sebagai cewek. Kalo lo cewek romantis pastilah pilih Edward. Cewek umumnya mungkin romantis kali ya, coz kayaknya semua cewek yang gw tau pilihannya ya pasti Edward, hahaha gw baru tahu kemaren dari mbah google kalo banyak juga yang pilih Jacob. Kirain gw doank, hihihihi *norak deh*

Oya, terakhir, ada satu fakta yang menjijikan, gw baru tau kalo si Taylor Lautner, pemeran Jacob Black di filmnya, ternyata adalah pemeran Shark Boy di film anak2 Lava Girl tahun berapa ya lupa. Yang bikin shock, baru kemaren gw nonton bareng film itu sama Ozza en Naula di rumah, jiaaaaah berasa banget dah gw dah tua *si Lautner ini kelahiran tahun 1992! huwahahahahaha* Brondong jagung…..brondong jagung…. satu lima ribu….satu lima ribu…. Huwakakakakakk….

Ok, friends, sekali lagi, sori yah, notes ini mungkin terlalu norak, gak ada ujung dan pangkal, apalagi kesimpulan siapa yang menang hihihi. Gw cuman share sesuatu ajah sama kalian, I miss you all, guuuuyyyys!!!! 😀