Pita Hujan

“Kamu itu bidadari tanpa sayap, Sayang, maka dari itu aku datang diciptakan Tuhan untuk menjadi sepasang sayap buatmu…”

Sejujurnya gue agak-agak jungkir balik bikin resensi ini, coz lusa kemarin gue baru pulang tugas tiga hari dari hutan dengan road trip seharian, disusul ngasih materi ajar besoknya, dilanjut praktek ke hutan bumi Paser besok dan baru clear seminggu kemudian. So jeda waktu gue pikir cuman hari Minggu ini kalau memang gue serius pengen ikutan. Aaakkh, gue nggak tega kalo nggak ikutan! Makhluk penulis yang satu ini, Eni Martini, is one of my best friend, so apalagi sih yang bisa gue kasih selain resensi abal-abal ini? Terutama karena berbagai janji resensi untuk keseluruhan novel terdahulunya tereliminasi dengan sendirinya terkalahkan berbagai tumpukan kerjaan, two daughters, tagihan, etc, terutama oleh sifat perfeksionis akut gue kalo menyangkut soal tulisan. Seremeh apapun tulisan itu. It must be fresh, it must be a story that has meaning, blablabla. Meski ujung-ujungnya ya begini-begini aja gaya tulisannya, abal-abal, hehehe.

Oke, shut up Mel, let’s go to the point : Rainbow.

Baca lebih lanjut

Iklan

Little Chit-chat

Kalo semua emak-emak di dunia ini ditanya kapan periode terbaik anak-anak mereka yang membuat mereka begitu bahagia, maybe periode balita adalah jawaban favorit. Ketidakberdayaan mereka yang menggemaskan, senyum mereka, atau cara tertawa mereka yang lepas dan itu-itu saja terhadap hal-hal sederhana.

Baca lebih lanjut

Personal Report “Life of Pi”

Preview, review, or even resensi sebuah film adalah sesuatu yang bisa dijadikan pegangan calon penonton untuk menilai apakah worth it atau nggak si film untuk ditonton. Terkadang gue juga suka sih bacanya, tapi yah cuman sekedar aja, coz sejujurnya gue nggak terlalu suka tulisan yang nanggung, hehehe. Mereka cuman bikin kita penasaran padahal nggak semua film itu bagus. Mereka juga nggak personal, sementara gue lebih suka apa adanya. Jadi kalau gue disuruh mengulas sebuah film, well, sorry guys, maybe you get bored atau mungkin bahkan kalian nggak jadi nonton filmnya, hehehe. Coz gue biasanya penuh detail, and off course, personal.

richard parker

Kali ini giliran Life of Pi. Gue udah nonton ini film sejak minggu lalu. Harusnya sih setelah nonton langsung nulis, supaya personalnya kuat dan fresh, tapi gue mesti ke lapangan besoknya selama empat hari, dan pulangnya gue tepar, sakit. Jadilah hari ini gue baru bisa nulis dengan rasa basi di mulut, ingus sraat-sroot, dan batuk yang cetaarrr membahana :). Intinya, kalau aja gue nggak inget janji bikin resensinya special for Ririn Menara Miring, gue nggak akan masuk kantor hari ini. Rin, postingan ini khusus untuk mengembangkan rasa bersalah loe 🙂

First soal pelafalan. Ternyata Pi itu dibaca “Pai”, bukan “Phi”. Sementara sepanjang yang gue inget dari jaman SMP sampai kuliah, lafalnya ya Phi. Gua agak2 terperanjat aja pas si mbak2 tiketnya mengkoreksi ejaan gue. “Laif of Pai, mbak,” katanya dengan lugas. Padahal di novelnya sendiri, oya gue lupa bilang kalau film ini mengadaptasi salah satu novel favorit gue dengan judul sama,  seinget gue si Pi ini jelas2 mengadopsi simbol Phi untuk mengaburkan nama aslinya Piscine yang mirip kata pissing atau pipis. Jadi ia memilih simbol Phi yang lebih intelek daripada pissing untuk merubah imej di kepala puluhan anak2 SD bengal itu tentunya karena punya lafal yang sama ya kan? Yaitu Phi. Jadi heranlah gue kenapa namanya jadi dilafalkan Pai. Bagaimana di filmnya, apa bener2 dilafalkan Pai? Well, tidak bisa tidak, ini cuman salah satu penasaran yang gue tunggu2 saat memasuki pintu teater yang gelap kemerahan.

Life-of-Pi-2Kedua, gue pengen cerita tentang si Pi dulu. Piscine Molitor Patel. Sebenarnya ia adalah karakter dalam dunia nyata, seorang India yang tinggal di Canada. Ia vegetarian, dan ia beragama kadang hindu, kadang kristen, kadang muslim. Ia percaya bahwa Tuhan bisa didekati dalam berbagai cara atau agama. Ia berasal dari Pondicherry, India, dengan keluarga pemilik kebun binatang. Karena iklim politik yang buruk, ayahnya memutuskan untuk pindah ke Canada dengan modal menjual binatang2nya di sana. Dalam perjalanan kapal laut menuju Canada, sesaat setelah meninggalkan Filipina, di satu titik terdalam di lautan Pasifik *gue lupa namanya*, kapal terkena badai dan tenggelam. Hanya Pi-lah yang selamat.

Satu hari seseorang datang ke rumahnya. Yann Martel, seorang penulis Canadian yang menyendiri di India untuk menulis novel berlatar belakang perang Portugis. Ia gagal, tentu saja, dan frustasi mengantarkannya ke sebuah kedai kopi dimana ia bertemu Mamaji, seorang India eksentrik dengan dada teramat bidang dan kaki sekurus tiang *ia perenang profesional* yang kebetulan adalah paman Pi. Inilah yang dipikirkan Mamaji kemudian : seorang Canadian pergi ke India untuk menulis cerita hebat, sementara di Canada sendiri ada seorang India yang memiliki cerita hebat. Itulah takdir. Mamajilah yang menyuruh Yann datang kepada Pi karena pengalaman Pi yang luar biasa  bisa menjadi cerita yang membuat siapapun percaya kepada Tuhan.

Ya, siapa sih yang akan menyangka, Pi, waktu itu 16 tahun, bisa menjadi satu-satunya orang yang selamat dari musibah mengerikan itu. Meski sebenarnya bukan itu magnetnya kisah ini, melainkan bahwa ia tak sendiri di life boat yang menyelamatkannya. Di dalamnya juga ada seekor zebra pincang, hyena, induk orang utan, dan well, seekor harimau Bengali.

Yup, harimau Bengali. Tentu saja itu akan menjadi cerita yang luar biasa. Tak heran jika setelahnya Yann Martell langsung minta ijin kepada Pi untuk menuliskannya dan lahirlah novel Life of Pi pada tahun 2001. Gue sendiri baru ngebacanya sekitar tahun 2008 saat menemukannya terasing di pojokan Gramedia. Setidaknya bukan cuman gue yang begitu takjub akan novel ini. Beberapa sutradara hebat macam M. Night Shyamalan, Jean-Pierre Juenet, sudah lama berencana memfilmkan novel ini, tapi tertunda terus dan Life of Pi akhirnya menjadi novel indah yang tak bisa difilmkan.

Jadi gue lumayan kaget pas tahu bahwa Life of Pi benar2 difilmkan dan sekarang lagi tayang di bioskop. Siapa sutradaranya? Ternyata Ang Lee. Oowh… si Crouching Tiger Hidden Dragon. So inilah penasaran gue yang pertama. Bagaimana Ang Lee memfilmkan Life of Pi yang mmm…. bagaimana ngomongnya ya, well, di novelnya begitu banyak kejadian penuh fantasi yang kalau memang bisa diwujudkan ke film, itu akan menjadi film yang W-O-W. Belum lagi soal si harimau Bengali itu. Definitely DOUBLE W-O-W pastinya.

Double Wow ini pertama gue kasih untuk soundtracknya. Film dibuka dengan intro lullaby, semacam lagu nina bobo seorang ibu India kepada anaknya. Sangat melenakan. Saking sukanya gue sama lullaby yang ini, gue googling, ternyata composernya malah asli Canadian, Mychael Danna. Dia bikin sekitar 10-12 soundtrack khusus untuk Life of Pi. Pengennya sih beli CD asli, coz in whatever reasons, gue selamanya nggak ngefans sama yang namanya CD bajakan. Nggak worth it bangetlah. Tapi CD asli susah dicari di pedalaman gini, so internet adalah satu2nya jawaban, hehehe. Memang sih gue belum nemu MP3 gratisannya, tapi setidaknya bisa dengerin secara online. Lumayan jadi equal companion saat nulis postingan ini 🙂

Dengan intro lullaby ini, Life of Pi diawali dengan masa kecil Pi di Pondicherry. Tentang bagaimana Pi tumbuh menjadi anak cerdas dengan kemauan kuat. Seperti tadi gue udah ceritain soal namanya. Ia mampu merubah imej namanya yang selalu jadi bahan olok2 teman2 SD-nya *pissing* menjadi nama yang intelek : Phi.  Caranyalah yang luar biasa. Pada awal masuk sekolah kembali, di seluruh kelas ia memperkenalkan dirinya sebagai Pi dengan panjang lebar menjelaskan tentang simbol matematika Phi, si angka istimewa 3,14. Tak dinyana ia berhasil. That’s amazing for kids, you know? Korban bullying di sekolah biasanya kan akan bersikap kalau nggak stres ya masa bodoh pada anak2 bengal itu. Sementara Pi malah berencana untuk merubahnya. Amazing kid indeed.

Pi kecil juga punya keingintahuan yang besar, tentang hidup, agama, bahkan keingintahuan apakah si hewan pendatang baru a.k.a harimau Bengali di kebun binatang ayahnya bisa dijadikan teman. Harimau itu bahkan punya nama, Richard Parker, yang sebenarnya salah ketik. Harusnya ia bernama Thirsty, karena ia tengah minum di sungai saat ditemukan dan ditangkap pemburu, dimana si pemburu bernama Richard Parker. Saat menjualnya ke kebun binatang ayah Pi, si tukang ketik kebalik memberi nama, jadilah si pemburu bernama Thirsty dan si harimau bernama Richard Parker :).

Seperti tadi udah gue ceritain, suatu hari ayah Pi memutuskan pindah ke Canada. Mereka bersama serombongan hewan2-nya pergi menggunakan kapal laut Jepang bernama Tsimtsum, yang kemudian dihantam badai dan tenggelam di satu titik terdalam di peta Samudra Pasifik. Saat itu Pi yang tengah berada di geladak kapal karena ingin menikmati indahnya petir *he’s definitely crazy* menjadi satu2nya orang yang akhirnya selamat. Saat life boatnya terpelanting jatuh ke laut, terjun pula seekor zebra ke dalamnya. Kaki si zebra terkena pinggiran perahu dan patah. Seekor hyena lalu muncul dari balik terpal. Dan tak dinyana sosok yang ditolong Pi kemudian adalah Richard Parker. Sebelum Pi berhasil mengusirnya, Richard berhasil naik ke perahu dan langsung bersembunyi ke dalam terpal. Melihat itu, Pi langsung terjun ke laut. Tentunya ia lebih memilih mati tenggelam daripada mati dikoyak harimau.

Di laut Pi langsung dihempas gelombang setinggi puluhan kilometer. Pi jungkir balik, life boat  jungkir balik, semua jungkir balik, dan entah bagaimana, detik-detik itu malah luar biasa indah. Detik-detik dimana Pi mengapung di bawah laut yang seharusnya gelap tapi terang benderang oleh cahaya kapal Tsimtsum yang mulai tenggelam. Bagaimana Pi menatap sosok raksasa Tsimtsum yang bercahaya di tengah kelamnya titik Samudra Pasifik terdalam, perlahan terjun menuju dasar. Bagaimana Ang Lee memvisualisasikan ini adalah ….. well, itu adalah peristiwa yang sangat tragis, tapi Ang Lee menggambarkannya dengan luar biasa indah. What a beautiful tragic.

Entah bagaimana Pi berhasil menemukan life boatnya kembali. Ia naik dan mengira dengan jungkir baliknya perahu, Richard Parker sudah terlempar keluar. Tinggal si zebra dan hyena. Saat esoknya laut sudah tenang ia bahkan bertemu Orange Juice, si induk orangutan, yang tengah mengapung di atas sekumpulan pisang. Hyena adalah hewan predator. Tentunya ia gila kalau tidak memangsa si zebra dan orangutan. Pi sendiri menyelamatkan diri di ujung perahu. Hyena tak bisa mencapainya karena ia juga mabuk laut.

Di tengah kegilaan si hyena mencabik kedua hewan malang dan terus2an berteriak sengau menulikan, mendadak melompatlah dari dalam terpal the magnificent Richard Parker. Ia langsung menerkam hyena, merobeknya seakan-akan ia menghukum provokator yang berisik dan mengganggu. Pi terlonjak jauh ke belakang perahu. Tak bisa tidak, ia terpaksa menggantungkan hidupnya di tiang perahu. Harimau Bengali sejatinya adalah hewan yang pintar berenang. Tapi nyatanya ia memilih untuk tidak menerjang Pi menandakan ia juga mabuk laut.

Setidaknya Richard masih punya bangkai sisa zebra, orangutan dan hyena segar untuk dimakan. Sementara Pi dengan kecerdasannya berhasil menciptakan rakit kecil dari semua dayung yang ada, membuat tampungan air hujan dan sulingan air laut, serta mengangkut seluruh bekal life first aid yang ada di perahu. Diantaranya Pi bahkan menemukan survival manual book. Dia membaca dan membaca, tapi tak satu pun di dalamnya berisi petunjuk bagaimana survive di tengah laut bersama seekor hewan buas. Ha-ha-ha.

Bekal Pi akan habis secermat apapun ia menghemat. Begitu pun Richard, harimau yang sepanjang hidupnya dihabiskan di kebun binatang, dengan pasokan makanan yang senantiasa terpenuhi. Pi memutuskan agar Richard harus dibuat tetap dalam kondisi ketergantungan seperti itu, hanya supaya ia tidak berenang ke laut dan menerkamnya. Pertama ia harus membuat Richard mabuk laut lebih dari sebelumnya. Hanya supaya Richard berpikir ulang jika ingin terjun ke laut. Ia pun mengarahkan perahu agar berlawanan dengan arus ombak supaya Richard tambah mabuk, sambil terus meniupkan peluitnya untuk menunjukkan siapa penguasanya. Untuk sementara trik berhasil. Selanjutnya ia harus mencari makan buat Richard. Pi pun belajar menangkap ikan, kadang berhasil, kadang tidak.

Dan Pi, diantara perjuangannya untuk hidup dan selamat, bukannya tak pernah putus asa. Tapi setiap kali rasa patah itu datang, betapa Tuhan senantiasa menunjukkan bahwa Beliau peduli, Beliau ada dan mengawasinya secara tidak langsung. Suatu kali Tuhan memberinya pemandangan terindah yang pernah ada, dimana samudra hitam di malam hari tiba-tiba berubah menjadi lautan cahaya biru nan terang tapi tak menyilaukan. Cahaya itu berasal dari ratusan ubur2 yang berenang di sekelilingnya, ditutup kemunculan si paus biru yang di sekujur tubuhnya dipenuhi plankton2 bercahaya. Si paus biru melompat tinggi jauh di atas Pi. Merusak rakit kecil miliknya dan membuang semua bekal sisa. Sekali lagi, beautiful tragic.

Satu titik kritis berhasil dilewati Pi, mengantarkannya ke satu titik kritis lain. Bagaimana ia bisa hidup tanpa rakit kecilnya? Pi sangat sadar, diantara semua bahaya di samudra maha luas ini, bahaya terbesar hanyalah Richard Parker. Ia harus melakukan sesuatu. Kenekatan Pi-lah yang mengantarnya ke ide bahwa ia harus menjinakkan Richard. Richard harus dibuat sadar bahwa Pi-lah sang alpha. Toh selama ini Richard sangat bergantung padanya soal makan, bukan mustahil kalau Richard sudah paham bahwa Pi adalah tuannya. Tapi Richard adalah seekor harimau. Asal Bengali. Jenis harimau paling agresif di muka bumi. Meski ia tumbuh di kebun binatang, ia tetaplah hewan yang hidup berdasarkan insting. So Pi punya kesempatan 50-50 untuk menang dan menduduki life boat.

Sebenarnya gue agak lupa di bagian ini. Mestinya nonton lagi, atau baca lagi. Tapi gue udah bertekad mesti selesai hari ini, so anyway, sepertinya Pi melakukannya dengan cara memberinya makan dengan daging ikan kecil2, sambil memukul2kan tongkatnya ke perahu dan terus berteriak-teriak, ke arah Richard. Seperti mengajari hewan sirkus. Awalnya Richard terprovokasi dan tak terima, tapi tak disangka-sangka Richard nurut di kesempatan kedua. Di manapun Pi melempar daging ikan, Richard akan menghampiri makanannya. Wow, how clever and lucky Pi is! Dia sukses menunjukkan siapa sang alpha sebenarnya dan ia berhasil menempati dimanapun posisi life boat yang ia suka, sementara Richard akan dengan segannya menyingkir. W-O-W. What a struggle.

Richard bahkan tak menyerangnya saat mereka berdua hanya terbaring tak berdaya kehausan, kelaparan. Satu titik kritis lainnya. Menuju titik kritis yang lain. Dan perjalanan dari satu titik ke titik selanjutnya, Tuhan selalu menjaga Pi. Kadang memberinya kejutan makanan berlimpah di hari-hari tertentu. Ratusan ikan terbang yang mendadak terbang melewati ia dan Richard. Atau pulau hijau yang mengapung di tengah laut, dimana ratusan mungkin ribuan cerpelai hidup di atasnya dan pohon2 dengan akar yang jika dimakan ternyata enak sekali. Di film memang tidak diceritakan berapa lama Pi terkatung-katung di Samudra Pasifik. Sementara gue lupa apakah di novelnya diceritakan atau tidak. Intinya, baik novel maupun filmnya, Life of Pi, meski sebagian besar durasinya menceritakan perjuangan Pi di tengah laut, keseluruhannya sama sekali tidak membosankan. Bahkan amazingly beautiful, meski tragic disana-sini.

Ya, Pi dan Richard akhirnya memang selamat. Mereka terdampar di pesisir Mexico. Bisa dibilang mereka berhasil melintasi Samudra Pasifik, in a life boat. Ending perjalanan mereka, akhirnya, meski tetap bernada beautiful tragic. Richard langsung melompat begitu sampai di daratan, ia berlari menuju hutan dan berhenti sebentar untuk menatap hutan di depannya. Sementara Pi, ia tengah terkapar tak berdaya di pasir, dan tengah menatap Richard di kejauhan, berharap agar Richard di detik-detik mencekam itu mau menengok, setidaknya memberi tatapan selamat tinggal, untuk Pi. Tapi tidak. Richard tidak menengok. Setelah tertegun lama menatap hutan, Richard berjalan dan menghilang diantara rimbun dedaunan. Ya, Richard sejatinya adalah seekor harimau. Bengali, paling agresif dari jenisnya. Sudah tentu ia tak akan menengok. Sudah tentu ia tak bisa dijadikan sahabat dan mengucapkan selamat tinggal, layaknya seorang sahabat. Meski seberapa lama engkau mengapung di tengah laut bersamanya. Persis seperti apa kata ayah Pi, seekor harimau hanyalah hewan yang hidup dengan insting. Tatapan mata kita di matanya hanya akan memantul kembali.

Anyway, Richard Parker adalah seekor harimau yang gagah sekaligus cantik. Meski karakter Pi sangat menonjol, gue malah lebih memilih Richard Parker sebagai tokoh terfavorit di film ini, even from the whole characters of the year :). Bahkan Pi pun mengamininya. Buktinya ia memilih menjadi Richard saat investigator Tsimtsum asal Jepang datang  mewawancarainya dan tak percaya semua ceritanya. Anak 16 tahun bisa selamat sendirian bersama seekor harimau Bengali? Tak mungkin. Mereka bahkan nggak percaya kalau pisang bisa mengapung di tengah laut saat Pi bercerita bagaimana ia bertemu Orange Juice, si orangutan.Ya gitu deh, orang Jepang kan logika banget. Meski setan2-nya pada nggak punya logika, hehehe. Jadi mereka malah menyuruh Pi untuk membuat cerita yang masuk akal. Cerita yang lebih diterima akal sehat. Cerita yang bakal dipercaya bos si investigator. Akhirnya Pi mengarang dan menempatkan dirinya sebagai Richard Parker. Ibunya sebagai si orangutan. Pelaut malang sebagai si zebra, dan tukang masak jahat sebagai si hyena, yang ngomong2 Gerard Depardieu yang berperan sebagai tukang masak *seterkenal itu dan hanya berperan sekilas? what an ironic, tapi memang ia tak cocok untuk peran2 lain, ia hanya cocok untuk si tukang masak jahat yang tak mau menyediakan makanan vegetarian untuk keluarga Pi*.

Oya, pemeran Pi adalah Suraj Sharma, seorang pendatang baru di dunia film. Bright star. Sementara pemeran Pi di saat dewasanya adalah Irvan Khan. Kalau pun ada yang kurang dari film ini dibandingkan novelnya, mungkin soal Anandi dan si orang Prancis. Anandi adalah perempuan yang disukai Pi, sementara gue nggak inget ada Anandi di novel, kayaknya nggak ada deh. Sementara si orang Prancis adalah pelaut yang ditemui Pi saat masih terapung-apung di laut. Di novel ada, sementara di film sama sekali nggak ada. Nggak masalah sih sebenarnya. Kedua tokoh itu ada atau tidak, tak berpengaruh ke film secara keseluruhan. It’s still amazingly beautiful tragic. Jadi bagaimana kesimpulan personal report yang O-M-G panjang banget ini? Hehehe it’s a must recommended movie, off course! Buruan nonton sebelum masa tayangnya keabisan yaaa…! 🙂

P.S: Oya soal pelafalan tadi. Di filmnya ternyata pake lafal “Pai”. Hmm… I’m still wondering how it could be …..

Pearl Jam : A Real Dyer Maker

“MengapLogoBloga kau tak juga datang? Rasanya aku mau menunggumu selama seribu tahun, meski kau tak pernah berjanji. Namun agaknya waktu di dunia ini bukan untukku. Aku tahu cintaku hanya lamunan. Hidup berlalu dan aku pun berlalu, kenyataan dan khayalan menyatu dalam waktu.Atas Nama Malam, Seno Gumira Ajidarma

Ada jenis manusia tertentu yang bisa disebut usang. Terutama dalam hal musik. Dunia boleh terus berputar, tapi entah bagaimana mereka tak pernah bisa lepas, terus kembali dan kembali lagi untuk setia pada yang satu, pilihan diantara seribu. Pearl Jam.
Kira-kira, apa sih yang membuat cinta itu tetap bertahan? Masing-masing lost dogs pasti punya jawaban sendiri. Sebenarnya saya ingin sekali memilih jawaban bahwa saya terlanjur kena kutuk terjebak selamanya dalam pesona sosok seorang Eddie Vedder, tapi ternyata ada juga jawaban yang lebih logis daripada itu. Ya, faktor lirik. Tons of them.

Menurut saya, Drew Barrymore-lah tampaknya yang paling pas menjelaskan ini di film Music & Lyrics. Dia bilang musik itu ibarat pertemuan pertama. Daya tarik fisik. Seks. Tapi begitu kau mengenalnya, itulah lirik. Kisah mereka. Siapa kau di dalamnya. Kombinasi keduanyalah yang menjadikannya istimewa. Nah, Pearl Jam menawarkan kisah-kisah seperti itu. It’s like I’m growing up with them.

Kalau soal cinta, awalnya saya begitu memuja Black, juga Footsteps, lagu patah hati yang paling mewakili perasaan saya saat itu. Sedih dan marah, bukannya cengeng seperti yang ditawarkan kebanyakan lagu lain. Seiring ruang dan waktu, saya malah sangat menikmati Smile, Around The Bend, Faithfull, even Light Years. Tak lagi sedih atau marah, apalagi cengeng. Just go with it.
Kalau soal me against the world, dengan penuh ekstasi awalnya saya menggilai Alive, Even Flow, Oceans, Animal, Indifference, Leash, Alone,State Love and Trust, Rearviewmirror, Not For You, Tremor Christ, Corduroy, Immortality, or even Bugs. Kesemuanya lagu protes penuh teriakan dan kemurungan. Lalu seiring perjalanan hidup, saya sepenuh hati menyimak baik-baik Sometimes, Who You Are, In My Tree, Present Tense, Mankind, Wishlist, Given To Fly, All Those Yesterdays, I am Mine, sampai Unthought Known dan Just Breathe. Tak lagi teriak-teriak, tapi lebih ke sikap seksama, a little bit serious, meski malah lebih sering mentertawakan hidup.

Tentunya dunia tak melulu tentang cinta, tak melulu peduli diri sendiri, dan Pearl Jam mengamininya. Ada Jeremy, berkisah seorang anak lelaki yang menembaki teman sekelasnya di sekolah. Lalu ada Daughter, yang bercerita tentang seorang anak perempuan disleksia dengan ibu yang tak mau mengerti. Glorified G, tentang mudahnya memperoleh senjata di kalangan remaja US. Atau tentang orang-orang biasa di sekitar kita: Elderly Woman Behind the Counter in a Small Town, Off He Goes, Leatherman, Johnny Guitar. Atau tentang orang-orang rakus ambisius yang selalu ada di sekeliling kita: Rats, Do the Evolution, Dirty Frank, Soon Forget, atau Bushleaguer.

Ya, dari lirik merekalah saya belajar tentang hidup. Untuk itulah saya yakin saya akan cinta Pearl Jam selamanya. Meski setelah saya pikir-pikir, nowadays, rasanya cinta itu lebih murni pada jaman sebelum kini. Dulu tak pernah terbersit di otak saya bagaimana seandainya Pearl Jam datang ke Indonesia. Saya hanya menjalani kesukacitaan sederhana, dengan cara, entah itu membuat bundel segala sesuatu tentang Pearl Jam, menghapal lagu-lagunya, mempelajari lirik-liriknya, hunting album-album single-nya, mencari berita sekecil apapun tentang mereka di internet, tertawa dan bangga dengan kisah-kisah heroik mereka: melawan Ticket Master, stop membuat video klip hanya supaya mereka nggak tambah populer, bikin konser dengan harga tiket fans-friendly, etc.

Saya bahkan rela mengatur cermat perjalanan penuh tantangan menuju Australia, saat Pearl Jam mengadakan tur di lima kota besarnya: Brisbane, Sydney, Melbourne, Adelaide dan Perth, pada bulan Pebruari tahun 2003. Detailnya tak pernah lupa. Saya pilih Brisbane karena paling dekat Indonesia. Saya putuskan akan menggunakan rute kapal laut, kelas tiga, lima hari, Jakarta-Surabaya-Makassar-Ternate-Sorong. Lalu kapal feri Sorong-Mimika, dua-tiga hari. Dari Mimika, kabarnya ada kapal feri menuju Pelabuhan Cairns. Cairns adalah kota di pantai barat Australia, tinggal menyusuri enam kota pantai selanjutnya, lalu tadaaaa…! Disitulah Brisbane berada. Memang sih, pada akhirnya saya tak jadi melakukan perjalanan menakjubkan itu. Seminggu setelah planning, saya mendapat kabar kalau saya diterima bekerja di Kalimantan dan segera harus melapor. Kadang Tuhan bercanda di saat yang tepat, ya kan?

Intinya, kesukacitaan sederhana mencintai Pearl Jam sepenuhnya saat itu, tanpa berharap apakah Pearl Jam mau membalasnya dengan datang ke Indonesia, adalah pure love. Sementara kini, saya nggak yakin. Cinta yang saya punya kini terasa menuntut. Bring Pearl Jam to Indonesia. Betapa eforianya. Betapa banyak sudah upaya dilakukan, terutama oleh teman-teman Pearl Jam Indonesia. Tapi mereka tak pernah datang. Atau jelas-jelas berniat akan datang.

Ugh, betapa saya benci dengan pikiran sinis yang kadang menyusup. Ok, we are small herd, just about three thousand people. Tapi tak bisakah mereka datang tanpa mempedulikan profit? Tak bisakah mereka datang tanpa mempedulikan idealisme? Tak bisakah mereka memikirkan nasib fans di negara dunia ketiga? Tak adakah terbersit di kepala mereka sekedar jalan-jalan, ke negara yang tak pernah dikunjungi, just for fun only? Main musik di satu hari, lalu berpetualang di hari esoknya? Ada surga disini, dear!

Kira-kira, akan sampai dimanakah batas tapak kita menanti? Pertanyaan ini mungkin menekan, memabukkan, bahkan menghancurkan keping-keping hati mungil yang percaya akan keajaiban. Mungkin benar cinta ini hanyalah lamunan, kami bahkan rela menunggu seribu tahun, meski mereka tak pernah berjanji.

Nunukan, 30 April 2012
P.S : Glad to tell you all that my posting here had won in the competition in 2nd place! Woohooo..! 🙂

 

Winter Dreams by Maggie Tiojakin

Sebenarnya sImageudah beberapa kali saya mendengar nama Maggie Tiojakin sebelumnya di ranah tweeter, khususnya tweeps yang berkecimpung di dunia buku. Tapi baru beberapa minggu yang lalu akhirnya benar-benar mencari tahu apa yang sudah ditulisnya. Nah, kebetulan di akun @twitteriak yang saya follow, yang di dalam laman twitnya terdapat beberapa wawancara dengan sejumlah tokoh yang berkecimpung di perbukuan nasional. Salah satunya adalah Maggie.

Dari fotonya Maggie tampak muda sekali, maybe under 25years. Tapi nyatanya ia adalah seorang jurnalis, tulisannya sering dimuat di The Jakarta Post Weekender. Dia sudah banyak menulis cerpen, terakhir ia menulis naskah untuk film Simfoni Luar Biasa. Ia juga punya situs gratis, Fiksi Lotus, yang memuat cerpen2 klasik dunia yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Nice.

Dalam wawancara bersama @twitteriak, Maggie khusus bercerita tentang Winter Dreams, novel keduanya. Sebenarnya temanya nggak begitu istimewa, hanya seorang yang senantiasa gelisah sampai2 nggak tahu bahkan apa mimpi-mimpinya. Hanya seorang yang tengah mencari jati diri. Pemuda galau, istilah sekarang. Tapi penjelasan Maggie yang runut dan tertata itulah yang membuat saya tertarik hunting novel satu ini. Simple. Saya suka penulis yang berpikir secara sistematis, logis. Campurkan sedikit saja sinisme, komedi tragis ironis di dalamnya maka ia akan menjadi penulis favorit saya.

Oke, di Gramedia ternyata saya menemukan buku antologi tentang poligami, dimana dua orang teman turut menyumbang ceritanya. Harganya hampir sama dengan Winter Dreams. Budget saya hanya cukup untuk satu buku dewasa dan dua buku anak2. Hmm, pikir punya pikir. Bagaimanapun sistem buku nulis keroyokan itu punya sisi jelek paling dominan, dari 20 penulis paling hanya 1-3 penulis yang ceritanya bagus. So, I picked Maggie.

Saya nggak ngerti istilah resminya, jadi ternyata Maggie bertutur dengan bahasa ‘aku’. I like it. Mengamati dunia melalui cara pandang si karakter utama, Nicky F. Rompa, pemuda tanggung, 22 tahun, ayah ibu bercerai, putus kuliah karena ia pindah ke Boston US supaya terhindar dari perangai ayahnya yang tukang pukul. Seorang tokoh anti-hero yang bergumul mencari apa yang ia paling inginkan dalam hidup. Hmm. Pergumulannya mungkin membosankan tapi karakter anti-heronya itulah yang membuat menarik.

Padahal baru kemarin saya nonton Kick Andy dengan Award Super Hero 2012-nya. Yang sempet saya perhatikan adalah Siska Ridwan, seorang palaeontologis sekaligus remaja penderita lupus yang memilih berjuang melawan penyakitnya, sambil terus meneliti naskah2 kuno Indonesia. Ia berhasil membangun situs ensiklopedi digital naskah kuno, dimana semua orang bisa belajar membaca naskah2 berat tersebut. Ia bahkan memberi kursus. Betapa penuh semangat berbagi, vitalitas, heroik. Jauh berbanding terbalik dengan seorang Nicky di Winter Dreams.

Meski antihero, Nicky adalah pemuda yang realistis. Ia rajin bekerja dan tetap gaul. Ia bahkan masih mau mengembangkan wawasannya. Nggak seperti remaja2 gagal lain yang hanya bisa gaul dan galau. Mulai dari penjaga toko kelontong, supir limosin, atau ambil kursus creative writing.

Kegelisahan Nicky tentang mau jadi apa di dunia ini tentu nggak cukup menjadikan novel ini menarik. Mesti ada bumbu asmara. Seorang sobat Nicky di awal2 cerita mengatakan, “Temukan seorang wanita yang bisa membuatmu lupa akan segalanya. Tatap matanya saat kau bercinta dengannya. Nanti saat kau menemukan apa yang kumaksud, kau pasti bisa merasakannya.”
Jadi untuk seterusnya ia bertemu satu demi satu perempuan, berusaha mencari sosok yang dimaksud. Sampai suatu hari ia bertemu satu. Natalie Black. Hanya saja yang satu ini adalah istri temannya. Meski jalinan cerita di awal pertemuan begitu ngambang, membuat saya mengira2, apa yang sebenarnya Nicky rasakan untuk Nat. Juga apa yang sebenarnya dirasakan Nat. Mereka doyan sekali tarik ulur. Tidak tegas2 bilang, aku cinta padamu. Pasangan payah.

Tapi fragmen terakhirlah yang terindah. Ia diundang keluarga Nat di malam Thanksgiving. Nggak taunya Nicky malah tak ingin masuk dan memilih jalan2 bersama Nat. Saat kembali Nat duluan menaiki anak tangga menuju pintu depan. Merasa tak diikuti, ia menoleh ke belakang. Tampak Nicky hanya diam memandangnya, berusaha mengingat wajah, ekspresi dan postur tubuh Nat, yang saat itu bagai sebuah portret mental, seolah itu pertemuan mereka yang terakhir. Dan Nicky ingin mengingat semuanya. Great scene kan kalau dijadikan film?

Momen selanjutnya tetap memukau. Nat menyuruh Nicky masuk, Nicky nggak mau. Ia hanya ingin pulang. Nicky diam kembali menatap Nat sambil menghembuskan nafas panjang. Natalie balas menatap Nicky, bisu.

Suatu hari semua ini akan terasa nyata, bukan ilusi semata. Aku tidak tahu apa yang kutunggu. Aku hanya tahu saat kami kehabisan kata-kata dan tidak bisa mengutarakan hal yang sejujur-jujurnya, kami beralih mengutarakan kebohongan yang luar biasa.

Lalu mereka saling berjanji menelepon. Padahal tidak. Nicky pun pamit. “Happy Thanksgiving,” kata Nicky.“Happy Thanksgiving,” jawab Nat. Pikir Nicky : Aku takkan pernah melihatnya lagi.
Great momento, uh? Persis seperti apa yang sobatnya bilang beberapa tahun kemudian. “Ingat apa yang kubilang dulu soal wanita yang bisa membuatmu lupa akan segalanya? Aku lupa bilang kalau terkadang kau tak bisa memiliki wanita itu.”

Terakhir, saya suka cara Maggie menutup cerita. Mengingatkan saya cara Stephenie Meyer menutup Eclipse, saat Jacob Black mengatasi kesedihannya karena Bella tetap memilih Edward, dengan cara pergi dari La Push dan mengembara dalam bentuk werewolf ke hutan belantara bagian utara, sampai saatnya ia siap kembali. Tentunya nggak persis2 amat dengan karakter heroik Jacob Black, karena Nicky adalah karakter anti-hero, maka ia hanya memilih berjalan kaki menyusuri kota Boston yang sepi di malam Thanksgiving. Ia berhenti di sebuah lapangan es kecil, iseng memperhatikan sekelompok remaja bermain hoki. Ia hanya berdiri di situ mengamati mereka bermain dan bermain hingga ada satu pemain kecapaian. Tahu2 ia dipanggil, diajak bermain.

“Can you skate?
“I think so.”
“Kenakan helm ini. You good?”
Nicky mengangguk.
“Now follow your gut and try to keep up with the game.”
Ia pun meluncur ke tengah lapangan. The end.

Kalimat penutup yang dashyat. Now follow your gut and try to keep up with the game. Bener kan? Bukannya itu solusi sebenarnya dari semua kegalauan? Bahkan untuk urusan cinta sekalipun? Apalagi soal jati diri, ya kan? Adegan yang dipilih pun asyik banget. Inline skating, pelan2 meluncur, lalu tenggelam dalam keseruan bermain.

 

Beautiful Derawan

derawan

Hehehe, as usual saya selalu bikin laporan perjalanan yang udah basi. Kali ini tentang Pulau Derawan. Tadinya agak2 males sih nulisnya coz actually saya cuman beberapa jam saja di pulau itu, hahaha, kayaknya norak kan kalo akhirnya saya bahkan harus bikin postingan soal itu *halaaah biasanya juga bangga kalo norak*. Tapi saya sudah terlanjur janji sama beberapa teman, yang payahnya saya inget cuman satu: Ririn Menara Miring *nama yang sangat karakteristik kan, orangnya juga :p*. Ririn itu adik angkatan di Mapala jaman kampus kemaren *jiaaah kemaren!* dan dia penggemar penyu. Tesisnya waktu penerimaan jadi anggota penuh Mapala aja nengokin penyu di daerah Ujung Genteng, Sukabumi. Nah, pulau Derawan ini juga jadi salah satu tempat penyu  bertelur atau sekedar ngaso2 sebentar *kecapekan berenang kali yak*, jadilah si Ririn mupeeeeeng…. banget pengen ke pulau ini, hehehe, dan mungkin berpikir sebelum kesana ada bagusnya juga baca review orang norak macam saya, hahaha!

First, meski saya nyasar dan akhirnya nyangkut di Samarinda, Kalimantan Timur, udah sejak …. *mengingat2* OMG! Udah sembilan tahun saya disini!!!…dan saya belum pernah ke pulau Derawan! Kasihan, betapa life menggerus jiwa travelling gila2an saya *halaaah* :D. Sekalinya kesana juga cuman 3-4 jam dan saya dipaksa untuk membuat laporan yang detail, hahaha, Rin, siap2 aja dengan kalimat nggak bermutu seperti “Katanya sih….”.

Yah, meski life perlahan2 menggerus jiwa travelling saya, tapi betapa life juga akhirnya yang mengantarkan saya ke pulau Derawan. Well, kids lagi liburan di tempat mbah uti dan kakungnya di Bekasi, sementara hubby bersama sobatnya, Bimo seorang pemuja model, dapat tugas ke wilayah Berau. Lha saya ngapain di rumah sendirian? Pikir punya pikir, mendingan ikut hubby aja kan, sekalian honeymoon, hehehe. Selesai tugas nggak taunya orang perusahaan tempat mereka bertugas mau ngadain rapat internal di pulau Derawan. Jadilah kami sebagai orang2 udik memohon2 pengen ikut, hahaha! Malu2in, tapi biasanya orang2 norak kayak kita kan nggak tahu malu, dan biasanya orang yang nggak tahu malu itu beruntung! Jadi begitulah sodara2… 😀

Now let’s see some usefull directions how to get there. Oke, untuk kalian yang ada di Jakarta dan sekitarnya, pertama yang harus kamu lakukan adalah survey pesawat murah Jakarta-Balikpapan di internet. Jadwalkan perjalanan sesuai harga tiket. Biasanya murah pas special event selesai, coba hunting dari sekarang untuk periode terbang abis lebaran, temen saya dapet cuman 200 ribuan! Nah, kalo kamu nggak sabaran pengen langsung ke Derawan, survey juga tiket Balikpapan-Tanjung Redeb, pesawat nasional yang kesana cuman Batavia & Sriwijaya. Ada juga pesawat lokal Kalstar, tapi biasanya harganya lebih mahal dari pesawat nasional, lagian cari tiketnya juga nggak bisa via online, meski di bandara Balikpapan bisa langsung cari.

Itu kalau kamu pengen cepet, nah kalau yang kamu pengen itu feel dari perjalanannya, hehehe, ya saya saranin via darat ajah. Jadi dari Balikpapan kamu naik bis ke Samarinda dulu, sekalian nengok2 kakakmu yang norak inilah, terus naik bis lagi ke Berausekitar 16 jam *udah sama istirahat2nya tuh*. Harganya juga nggak bakalan nyampe 100 ribu. Dijamin seru dan lumayan buat hunting foto.

Nah, nyampe di Berau di terminal kota Tanjung Redeb, kamu cari aja mobil2 travel yang bisa anter ke arah Tanjung Batu, setau saya nggak ada bis ke arah sana. Tanya2 aja, poin nanya2 ini juga salah satu nikmatnya perjalanan lho, hehehe. Soalnya kemaren saya dan dua bodyguard diantar langsung pakai mobil pribadi sih, jadi nggak tau situasi di terminal. Penduduk Beraunya aja banyak yang nggak tau. Pemerintah daerah katanya sih peduli soal parawisata, apalagi ada slogan Visit East Kalimantan 2011 dikeluarin oleh Gubernur, tapi nyatanya masalah angkutan darat aja nggak beres. Mungkin wisata yang mereka maksud cuman untuk orang2 kaya banyak duit macam saya dan bule2 itu kali yah, hahaha!

Sebenarnya di Tanjung Redeb ada juga sih pelabuhan kecil tempat mangkal speedboat2 yang bisa antar langsung ke pulau Derawan. Tapi ya itu tadi: MAHAL! Sewanya sekali angkut bisa satu jetian. Ini sih berlaku cuman untuk bule2 dan anggota dewan kali ya, hehehe. Bahkan borjuis macam saya pun merasa sayang buang2 duit sebanyak itu untuk model travelling manja begitu *halaaah!*.

Atau kalau mau nginap dulu di Tanjung Redeb juga nggak ada ruginya. Kelas hotelnya mulai dari bintang tiga sampai kelas melati. Paling murah ada tuh namanya Hotel Herlina, namanya aja hotel, tapi suer itu sih losmen namanya, hehehe. Saya lupa itu losmen di jalan apa, tapi karena itu penginapan sudah tua banget umurnya, supir2 angkot bahkan mungkin semua orang Berau tahu lokasinya. Pokoknya hanya masuk gang dari jalan utama Sudirman. Bangunannya didominasi kayu dan dikelilingi tanaman rindang juga bunga2. Asri. Harganya semalam nggak nyampe 100 ribu. Kamar mandi memang di luar, tapi lumayan banyak dan bersih kok. Kamar nggak ada AC tapi ada kipas angin. Untuk urusan makan bisa di ruang makan losmen, atau mau wisata kuliner di luar juga asyik. Untuk sarapan ada nasi kuning yang enak di daerah tepian *maksudnya tepian sungai*, dekat dermaga penyeberangan. Cotto Makassar yang lezat ada di depan Hotel Sederhana, tinggal jalan sedikit saja kok dari Hotel Herlina. Hidangan laut tersebar di sepanjang jalan utama Sudirman. Tapi kalau mau coba sup asparagus dan aneka masakan kepiting, enaknya ya di restoran, salah satunya Restoran Ponti. Jangan lupa sedia duit banyak kalau kesini, hehehe.

tepianberauOya kota Tanjung Redeb itu dibelah dua sungai besar, ada sungai Segah dan sungai Kelay. Jadi ada daerah tepian sungai yang dijadikan lokasi wisata kuliner oleh pemerintah, yah semacam pantai Losari di Makassar sana. Kalau dari Hotel Herlina bisa pakai angkot, bisa juga jalan kaki. Tanya aja arah ke tepian kemana. Wisata kuliner di tepian ini rame pas sore hari sampai malam. Banyak rupa makanan dan minuman, tinggal pilih.

Selain wisata kuliner, Berau juga punya wisata sejarah. Ada Museum Batiwakkal di jalan Gunung Tabur. Di sini banyak tersedia informasi kerajaan2 Berau jaman dulu, salah satunya Kerajaan Gunung Tabur. Buka hanya di hari libur, sekitar jam sepuluh sampai jam dua siang. Guidenya langsung dari keturunan kerajaan yang tinggal di rumah besar di sebelah museum. Menuju kesini harus menyeberang dulu dari tepian. Berlokasi paling pojok, ada dermaga kecil tempat perahu2 klotok bersedia mengantar kalian menyeberang dengan tarif mirip ojek motor. Kalau cuman ke Gunung Tabur tarifnya hanya 4 ribu. Ada juga Museum Sembakung yang menuju kesana juga pakai perahu klotok dengan tarif nggak nyampe 20 ribu. Katanya sih ada bangkai buaya besar yang dipamerkan di halamannya. Karena buaya itu sering memangsa manusia akhirnya ditangkap dan diairkeraskan.

Oke, kembali ke soal Derawan. Selain speedboat yang harganya muahal, ternyata ada juga perahu klotok yang bersedia nganterin ke pulau Derawan! Widih… kayaknya seru sih, ngebayangin perjalanan menyusuri sungai, yang membelah hutan Berau. Katanya sih kalau beruntung kamu bisa lihat kera Bekantan *itu lho yang jadi simbolnya Dufan* nangkring di pohon2 sepanjang sungai. Perjalanannya sekitar tujuh jam. Lama yak. Kalau saya sih mendingan via darat saja, ke Tanjung Batu dulu, karena well, faktanya saya nggak bisa berenang dan perahu klotok itu kecil, gampang goyang2, yang ada selama tujuh jam bisa2 saya tegang pegangan terus sama perahu, meski saya bisa pura2 kelihatan santai, hahaha! Itu baru sungai, belum mengarungi laut menuju pulau Derawan yang kalian tahu kan arus ombak kadang nggak bisa ditebak? Jadi mendingan via Tanjung Batu saja. Perjalanan darat Tanjung Redeb-Tanjung Batu bisa dicapai 3-4 jam. Jalannya bagus kok, pemandangannya juga oke. Menyeberang ke Derawan bisa pakai speedboat dengan tarif 400 ribu PP. Yah, prinsip saya dalam travelling, ada saatnya sok miskin, tapi ada juga saatnya sok borju. Itulah namanya liburan, tujuannya supaya bisa menikmati kan? Bukan menderita hehehe.

Nah, sesampai di windsurfingTanjung Batu langsung ke pelabuhan kecil yang surprisenya, nggak ada toiletnya! Bahkan di warung makan sekitar situ juga nggak ada. Bingung deh, cewek2 penjaga warung itu kalo pipis dimana ya? Asal jongkok aja gitu kali ya? Hehehe. Pokoknya waktu itu saya sih nggak menyerah, hunting toilet sama hubby. Akhirnya nemu sih di Pusat Pelatihan Olahraga Nusa Bahari, tempatnya udah reyot tapi lumayan memadailah, karena di dalamnya ternyata ada mess buat atlet2 Sailing, dan kalian paham kan dimana ada mess disitu pasti ada toilet! Hehehe, mayan bersih dan ada dua lagi!

Eh, hampir lupa. Di Pusat Pelatihan Olahraga Nusa Bahari itu ternyata kita bisa juga ikutan windsurfing atau bahkan sailing. Udah pasti nyewa perahu layarnya, dan ini khusus untuk yang udah bisa aja lho ya. Tapi mungkin ada aja kali atlet2 cowok di situ yang bisa digombalin dan bisa minta diajarin sailing? Hihihi. Tapi biar keren bawaannya *Sailing, bo!* mereka kayaknya pemalu2 gitu, jadi mesti kamunya yang agresip, Rin! Nggak usah diajarin kan caranya, hahaha!

Sebelum nyeberang ke Derawan, bagusnya makan2 dulu kali ya? Menu ikan laut bakar yang dijamin enak ada di Cafe Pantai. Namanya aja kok cafe, wujudnya sih warung biasa, hehehe. Ada baliho biru gede dipasang di atas warung, jadi kamu pasti gampang nemuinnya. Pilihan ikannya lumayan, ada baronang, ikan putih, kakap, kerapu, bawal, trekulu. Katanya sih yang paling enak dan harganya mahal di pasaran itu ya ikan kerapu dan trekulu. Tapi saya sebagai pecundang di wisata kuliner, intinya asal makan aja deh, waktu itu cuman pilih ikan putih yang dagingnya lembut, jadi aman di lidah hehehe. Cuman ati2 sama sambelnya, puedes banget!

Yang punya cafe namanya ibu Neneng Kartini, dan poin plus lainnya: ibu Neneng ini punya kontak terhadap puluhan motorist yang bisa antar kalian ke Derawan! Jadi tinggal bilang aja sama ibu Neneng, selesai makan, pasti deh motoristnya udah siap nganter. Oya nomor hape ibu Neneng boleh dicatet: 081347803526, yah siapa tahu pengen konfirmasi jauh2 hari untuk rombongan atau mau cari penginapan di Tanjung Batu dulu nyobain windsurfing/sailing.

ikanbakarWaktu itu kami baru sempet makan siang sekitar jam setengah satu, blep blep blep makan cepet2 terus langsung nyeberang deh, supaya nggak kesorean. Oya karena kami cuman mampir sebentar dan rencana sore pulang, kami pun mencarter speedboatnya PP, seharga 400rb. Hebatnya, sekalipun ada rencana nginep di Derawan, harganya tetap sama 400rb, jadi nanti dia jemput kalo kamu pengen pulang. Jadi kamu nggak harus membayar biaya bolak-baliknya dia. Berarti mereka nggak pake sistem kapitalis. Mereka cuman orang2 lokal yang perlu makan, punya modal, dan kebetulan baik hatinya. Sayangnya problem mereka terbesar hanyalah bensin! Makin langka dan pemerintah daerah juga belum mengupayakan penyelesaiannya. Antrian panjang di pom bensin masih jadi pemandangan biasa. Padahal Kaltim kan propinsi penghasil? Padahal kan katanya Visit East Kalimantan 2011??? Mana buktinya? Mana? Manaaa??*emak2 stres*

Perjalananbimo3 Tanjung Batu-Derawan dengan speedboat cuman makan waktu 30 menit. Itu juga udah lengkap dengan manuver belok2nya motorist, kan dia nggak mau ngelawan arus ombak, go with the flow katanya, hahaha! Sesampai di Derawan, kami semua dibuat takjub. Betapa putih pasirnya. Betapa hijau dan bening airnya. Ditambah barisan pohon cemara yang sengaja ditanam oleh penduduk lokal, diselingi pohon kelapa dan semak2 rimbun disana-sini, sejumlah cottage dan restoran, membuat kami mendadak sejuk *dasar borjuis*. Langsung saja saat itu saya praktekin ilmu abal2 fotografi saya, potret sana-sini, dan Bimo ternyata memendam bakat narsis luar biasa, dia ngebet jadi model di semua pemandangan yang saya potret, hahaha!

penyu1Setelah cukup foto2 di dermaga kecilnya yang menjorok ke laut, kami dikejutkan oleh kemunculan si cantik penyu hijau (Chelonia Mydas), yang asyik berenang menimbul2kan kepalanya tepat di bawah dermaga sonoan dikit. Wiiihhh… cantiknya! Sayang kamera saya bukan tele, bukan profesional juga, jadilah fotonya agak2 memprihatinkan. Nyesel sih tapi apa daya!

Kami pun beranjak menuju pulau, meniti jembatan panjang yang artistik, pasti bagus banget kalo difoto. Lagi2 Bimo bersedia jadi modelnya, meski dia sedikit nyesel karena dia lupa ngumpetin sendal jepitnya, hahaha! Katanya itu pemandangan yang nggak banget deh! Padahal bagus2 aja, saya kan penganut aliran realisme, hehehe.bimoduduk

Sesampai di pulau, istirahat sebentar di bawah rindangan pohon, sementara pak Purwantoro, orang perusahaan yang mengantar kami langsung menggabungkan diri ke kelompoknya untuk mulai rapat internal. Sedangkan kami, trio kwek2, nggak ada rencana apa2, nggak banget untuk berenang atau nyelam karena itu jam setengah dua, lagi panas2nya, jadi ya udah jalan kaki keliling pulau adalah pilihan paling rasional.

gueSo, apa yang kami temui di sepanjang jalan? Selain sejumlah restoran, cottage, penginapan, dan sejumlah penduduk lokal yang menyewakan alat snorkeling amatiran, kacamata selam, kaki kodok/finn, sampan, ban bahkan perahu, ada juga tempat voli pantai yang dibangun khusus. Bagus dan memenuhi standar internasional *sok tahu*. Ternyata itu memang lokasi untuk pertandingan voli pantai PON tahun 2008 yang lalu. Tahun itu Kaltim memang lagi kebagian jatah penyelenggaran PON. Selain pemandangan itu semua, sisanya adalah lautan pasir putih dan pantai yang landai. Well, setidaknya beberapa ratus meter ke arah kiri dari cottage sih, coz Bimo memutuskan balik dan cari es kelapa seger. Capek dan panas, katanya, toh pemandangannya bakal itu2 aja kan? Hahaha! Payah deh bawa anak manja.

ivan1Akhirnya dalam rangka hunting es kelapa seger, kami menuju belakang cottage, ke arah pemukiman penduduk, yang terpisahkan tembok batako. Ajang foto2 masih belum keabisan bahan. Bimo tetep ngotot jadi modelnya, tentu saja! Hihihi. Jalanan kampung Derawan sama seperti jalanan kampung pesisir dimana2, putih bersih dan menyilaukan. Lumayan asyik menyusuri jalanan kampung, kita diliatin layaknya turis *halaaah*.

Di beberapa titik ada sejumlah toko yang menjual souvenir. Kalau diperhatiin sih, kayaknya itu souvenir kebanyakan dari Bali deh, meski nggak ada tulisan Balinya. Ada kaos2 juga daster *daster!* berbahan ringan tipis, celana2 pendek santai, topi pantai de el el. Kenapa saya curiga itu bukan asli Derawan, karena harganya lumayan mahal! Masak kaos anak2 yang saya taksir harganya sudah kayak di Taman Safari, 70 ribu?? Celana pendeknya juga 50 ribuan. Daster yang nggak bakalan saya lirik tapi saya penasaran sama harganya juga ternyata 60 ribu, hahaha! Malas ah. Mendingan soevenir asli Derawannya, yang kemungkinan cuman pernik2 mungil dan terbuat dari binatang/tumbuhan laut.

souvenirPaling khas ya gelang atau cincin yang terbuat dari cangkang penyu. Tapi yang jadi masalah adalah kalau cangkangnya diambil sudah pasti si cantik mesti dibunuh ya kan? Nah, ini yang saya tanyakan ke si penjual souvenir. Dia bilang sekarang nggak begitu. Katanya gelang2 dan cincin itu sekarang terbuat dari kulit penyu yang sudah ganti kulit. Masak sih? Ini saya crosscheck ke seorang teman yang bertugas di BKSDA – Konservasi punya. Ternyata ugh, mereka pembohong! Ternyata nggak mungkin penyu itu ganti kulit. Lagian juga nggak mungkin kulit penyu bisa dijadikan gelang atau cincin. Udah pasti itu si cantik dibunuh! Dan kenapa pembunuhan2 itu ternyata masih berlangsung? Tanya kenapa! *emak2 stres setengah mati*

eskelapa2Oke, sudah capek liat2 souvenir , baru deh saya menyusul hubby yang sudah asyik minum es kelapa di seberangnya. Wuiiihhh…. memang segeerrrr…… es kelapanya dicampur sirup pemanis warna merah. Sebenarnya saya lebih suka dicampur gula merah, tapi gula merah jarang ada di pulau, jadi yah telen2 aja lah, segernya nggak nanggung2 kok! Bapak pemilik warung itu orang Bugis, beliau langsung men-judge kami yang mengaku turis dari Samarinda: Hah! Buang2 duit saja kalian! Masih muda itu banyaklah bekerja, jangan senang2 dulu! Hihihi, nyeruput es kelapa sambil tau2 dimarahin seorang bapak tua, mampuslah kita! Tapi Bapak itu nggak bermaksud menyinggung kok, memang gayanya bicaranya begitu. Maksudnya sih baik. Jadi respon kami apalagi selain nyengir2 nggak jelas, hahaha! Terus si bapak cerita ini itu, bahwa beliau sudah sekitar lima belas tahun lebih merantau di Derawan, berjuang dari nol, sampai punya rumah, warung kecil dan motor. Beliau juga nyerempet2 soal perdagangan kayu, yang artinya kemungkinan si bapak pernah nyebur juga di dunia itu, layaknya sebagian besar pendatang yang ngiler dengan kekayaan hutan tanah Borneo *sigh*.

jalanNggak kerasa waktu berjalan cepat. Tau2 sudah jam empat dan kami dipanggil Pak Purwontoro. It’s time to go home. Jadilah kami menemui pak Purwantoro yang masih saja rapat, sementara kami dengan cueknya mencicipi snack rapat, hahaha! Sayang sih sebenernya kalo kami harus cepat2 pulang, karena sebentar lagi jam lima matahari pasti sudah user friendly banget *jam empat mataharinya masih galak*, kami bisa berenang, menyelam atau bersua dengan si cantik penyu2 hijau yang suka mampir di sekitar cottage. Setiap malam penyu2 itu bahkan suka bertelur di sekitar itu pula! Ugh, tapi apalah daya kami para penumpang gelap.

Jam setengah lima rapat selesai kami pun pulang. Hiks. Tapi pak Purwantoro ternyata orang yang sangat baik hati. Dia menyuruh motorist untuk mencari penyu hijau dulu ke sekeliling pulau, dan membiarkan kami foto2 dari dekat. Speedboat pun menuju ke arah sisi lain pulau, dimana ada penginapan yang menjorok beberapa meter ke tengah laut. Ya, selain cottage2 mahal itu yang charge-nya minimal 350 ribu semalam, penginapan2 murah ini terbuat dari kayu2 ulin dan harganya sekitar 200 ribu semalam. Ah, masih mahal juga kalau dari kantong kita2 pastinya *katanya borjuis*. Mendingan menginap di rumah2 penduduk. Katanya sih cari aja penginapan HAMS atau Yogie Mas, tarifnya45 ribu sampai 100 ribu semalam. Yah, lumayanlah. Toh kita kan cuman numpang tidur.

penyu2Oowwh, akhirnya kami menemukan si cantik. Ia tengah menikmati daun pisang yang memang sengaja dilempar ke laut setiap sore di bawah tangga penginapan untuk memberi makan si penyu. Penyu yang sama selalu hapal dan mampir, bahkan ia juga punya nama! Hehehe saya lupa sih namanya, tapi lumayanlah heboh2 dikit ngeliatnya. Nggak cuman dari jauh ia terlihat cantik, ternyata dari dekat ia lebih cantik! Pokoknya Rin, kalau soal pengalaman berdekatan sama penyu, jelas kamu lebih jagoanlah, saya sih nggak ada apa2nya, cuman lucky bastard aja saya bisa ke Derawan, hehehe.

Nah, sebelum saya tutup catatan perjalanan yang nggak mutu ini, bagusnya ditambahin data2 akurat kali yaa, biar sedikit bermutu, hehehe. Kalau wikipedia bilang, ternyata Pulau Derawan sejak tahun 2005 sudah dicalonkan jadi Situs Warisan Dunia UNESCO! Weits, keren juga yak. Tapi nggak tahu gimana nasibnya sekarang apa masih calon apa sudah dipinang, sudah enam tahun lamanya lho. Hehehe, mendingan kita cari tahu kenapa dia dicalonin.

Well, Pulau Derawan terkenal dengan wisata selamnya, ia punya taman laut yang indah dengan kedalaman lima meter dan beragam biota, mulai dari cumi2, lobster, ikan pipa, gurita, kuda laut, belut pita dan ikan skorpion. Hellooo… wikipedia, kemana penyu hijaunya??? Aneh! Yang paling banyak malah nggak disebut sama sekali, huh! Terus di kedalaman 10 meter, terdapat batu karang yang dikenal sebagai Blue Trigger Wall, karena pada karang sepanjang 18 meter itu banyak ikan trigger.

Talking about diving, ternyata Pulau Derawan punya 28 titik menyelam yang sudah diidentifikasi. Setidaknya butuh 10 hari untuk menjelajahi semua titik itu. Pindah dari satu titik ke titik lainnya ya mesti pakai kapallah. Kebayang kan betapa asyiknya jadi orang kaya, dengan catatan dia bukan pegawai yang dipaksa tunduk dengan paksaan menabung dan masa cuti! Eh, emang ada pegawai yang kaya? *sinis*

Selain bisa menyewa alat snorkeling amatiran di sepanjang pantai atau di cottage/penginapan, kamu juga bisa menyewa yang profesional di Derawan Dive Resort. Katanya sih tarifnya bisa nego. Katanya juga, meski kebanyakan kita itu penyelam amatiran, kita bisa tetep ketemu penyu cantik dan jinak berkeliaran di sekeliling kita, meski kita cuman ngapung2 ngambang di permukaan pantai! Oowwhh, mupeng, mupeng deh!

Oya selain Derawan, banyak juga pulau eksotik lain yang bisa dikunjungi. Ada pulau Sangalaki, Maratua dan Kakaban. Kalau Pulau Sangalaki punya populasi ikan pari biru (Manta Rays) yang lebarnya bisa mencapai 3,5 meter. Eh, ikan pari yang ngebunuh Steve Irwin tuh jenis yang biru apa hitam yak? *serem*. Sementara di Kakaban ada Danau Prasejarah yang ada di tengah laut, satu2nya di Asia.

Jadi kesimpulannya kalau kamu bener2 ingin berlibur kesini, mendingan nabung banyak2 deh, rugi kalau cuman 3-4 jam mampir seperti saya, well meski saya masih merasa lucky bastard dan bisa bikin catatan perjalanan sepanjang ini! Hehehe. Good luck, enjoy travelling!

Little Mermaid

Ada yang masih inget cerita anak-anak Little Mermaid? Hehehe jujur, gue nggak pernah tau cerita ini coz nggak tertarik cerita model beginian, sampe beberapa hari yang lalu Naula memilih buku ini di Gramedia, sementara Ozza tetep dengan style-nya yang berbeda, memilih buku cerita Dinosaurus yang ada sticker menyala dalam gelapnya, hahaha! Gue ceritain sedikit ya tentang Little Mermaid ini, nanti baru gue bahas alasannya kenapa gue mesti sharing ini sama kalian *as usual, I believe every story needs reason :p*

Ceritanya alkisah di bawah laut hiduplah raja laut dan keenam putrinya yang berupa putri duyung. Fokus cerita ini ya si putri duyung yang bungsu. Tradisinya jika mereka sudah menginjak umur lima belas tahun, mereka diijinkan melihat dunia di atas laut. Nah, setelah si bungsu berulangtahun yang ke-15, saat ia melihat dunia di atas laut, ia bertemu kapal yang tengah ramai merayakan ulang tahun seorang pangeran. Ia pun mendekati kapal dan terpesona menatap pangeran yang sedang berdiri di atas geladak. Sebentar kemudian badai datang dan memporak-porandakan semuanya. Kapal tenggelam, si putri duyung segera mencari pangeran di gelapnya lautan dan menyelamatkannya. Semalaman ia mengapung dengan bantuan ombak sambil memeluk pangeran, hingga paginya badai berhenti dan dibawanya pangeran ke tepi pantai.

Putri duyung segera bersembunyi saat ada seorang wanita berjalan mendekat dari kejauhan. Pangeran terbangun dan mengira si wanita itulah penyelamatnya. Sang putri menjadi sangat sedih. Ia tidak bisa menghampiri pangeran dengan tubuh putri duyungnya, dan hanya bisa berteriak dalam hati. Sejak saat itu ia terus memikirkan pangeran. Setiap hari ia mendatangi tepi pantai tempat ia menyelamatkan pangeran, tapi ia tak pernah bertemu pangeran lagi. Sang putri pun sakit. Karena khawatir, kakak-kakaknya membawanya ke istana tempat pangeran tinggal.

Hingga suatu hari sang putri duyung ingin menjadi manusia dan hidup di atas laut. Ia pun menemui penyihir yang rumahnya ada di bagian laut paling dalam dan gelap. Penyihir memberinya obat agar bisa menjadi manusia, tapi ia harus menyerahkan suaranya yang indah. Dan jika ia tak berhasil menikahi pangeran, ia akan berubah menjadi buih. Sang putri menyanggupinya asalkan ia bisa bertemu pangeran.

Putri duyung pun menuju istana pangeran dan meminum obat itu di tangga istana. Ia lalu pingsan karena rasa terbakar di sekujur tubuhnya. Saat ia terbangun, ternyata pangeranlah yang menemukannya. Pangeran bertanya siapakah nama dan darimana ia berasal. Tapi putri duyung tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena telah memberikan suaranya ke penyihir. Ia hanya bisa memandang pangeran dengan tatapan sedih.

Akhirnya pangeran merawat putri duyung seperti adiknya sendiri. Putri duyung sangat bahagia. Lalu suatu hari, pangeran pergi berkunjung ke negeri tetangga ditemani sang putri. Pangeran terkejut ketika melihat putri negeri tetangga. Ternyata ia adalah wanita yang menyelamatkannya di pantai. Tanpa ragu pangeran segera melamarnya dan menggelar pesta pernikahan yang sangat indah di kapal besar.

Putri duyung sangat sedih. Ia tidak bisa memberitahu pangeran karena ia tak punya suara. Malamnya ia berdiri di atas geladak dan menangis karena fajar nanti ia akan menjadi buih. Pada saat itu kakak-kakaknya muncul dari dalam laut. Rambut mereka yang indah ternyata telah dipotong pendek. Mereka mendapatkan pisau dari penyihir dan membayarnya dengan rambut mereka. Mereka menyuruh sang putri menusuk dada pangeran sebelum matahari terbit supaya ia tetap hidup.

Putri duyung mencengkeram pisau itu dan menyelinap ke dalam kamar pangeran. Saat ia mengangkat tinggi pisaunya, tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran. Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa menusuk pangeran yang ia cintai. Putri pun melempar pisau itu ke laut, memejamkan matanya dan melemparkan dirinya ke laut yang dalam. Tubuhnya lalu berubah menjadi buih-buih yang gemerlapan.

Saat para peri datang untuk membawanya ke surga, putri duyung terbang seakan-akan memiliki sayap. Ternyata ia berubah menjadi peri angin karena ia melakukan banyak kebajikan. Di atas kapal, pangeran dan pengantinnya mencari-cari putri duyung dengan cemas. Putri duyung membelai pangeran dan mencium dahi sang pengantin wanita tanpa ada yang menyadarinya. Lalu terbang ke awan putih bersama peri angin yang lain. “Berbahagialah, Pangeranku…….”

Huhuhu, sedih banget ya ternyata. Gue udah tau sih kalo si Hans Christian Andersen ini pasti kalo bikin cerita ya sedih, tapi nggak nyangka aja setragis ini. Gue udah nyesel aja beli bukunya dan agak-agak was-was nyeritain kisah ironis yang indah ini untuk anak-anak sekecil Ozza Naula. Sebelumnya gue jarang mengkonsumsi mereka cerita-cerita sad ending. Kira-kira gimana respon mereka ya?

Hehehe, dasar emak-emak paranoid. Norak. Padahal sebenarnya kisah itu mungkin bagus untuk anak-anak supaya mereka ngerti realita hidup. Akhirnya untuk mengimbangi kesedihannya, gue lebih bersemangat nyeritain bahwa patung putri duyung bener-bener ada di pelabuhan Kopenhagen Denmark sana, yang dibikin untuk menghormati si penulisnya, si mbah buyut Hans. Juga cerita bagaimana hebatnya mbah Hans jadi penulis terkenal meski orangtuanya cuma jadi pembuat sepatu yang miskin.

Ujung-ujungnya, Naula merespon dengan selalu membawa bukunya kemana-mana, juga saat jalan-jalan, memproklamirkan bahwa itu buku favoritnya seumur hidup *jiah, baru juga umur tiga tahun, haha!* Sementara Ozza, nah inilah alasan gue sharing dengan kalian. Respon Ozza itulah yang bikin gue terhenyak sesaat. Yah, semacam henyakan emak-emak lainnya yang diperoleh saat anak-anaknya kadang membuat ulah tak terduga, tak disangka, tapi membuat bangga.

Ozza tipikal anak yang nggak gitu suka cerita romantis atau sedih. Dia sangat suka cerita lucu dan petualangan. Tokoh-tokoh favoritnya adalah Shrek, George of The Jungle, Shaggy Scooby Doo, Peterpan, Nathalie *anak perempuan bandel yang mimpi jadi backpacker dan punya hobi sadis melempar adiknya kesana-kemari, gue nyeseeellll banget beli buku impor Amerika ini*, Bernard Bear, Paddle Pop, Upin Ipin, Ben10, Diego temennya Dora *bukan Dora-nya lho*, bahkan si lemah Hickup di film How to Train Your Dragon. Sangat jauh berbeda dengan pilihan Naula yang sangat normal dengan Barney, Barbie atau Rapunzel-nya. Hahaha!

Tapi Ozza juga tumbuh menjadi anak yang sangat sensitif. Dia lebih mudah sedih, nangis dan pemurung untuk hal-hal remeh dibanding Naula. Ozza bisa memikirkan satu kisah sedih selama berhari-hari dan membahasnya terus, intinya kenapa sih mesti ada cerita sesedih itu? Kenapa nggak ada yang melakukan sesuatu supaya cerita itu nggak sedih lagi. Ini pernah terjadi saat ia baru tahu cerita Peterpan sebenarnya. Sebelumnya ia hanya mengenal kisah Peterpan dan Jane, anaknya Wendy, versi Peterpan yang kedua, yang lebih happy ending. Ozza nggak habis pikir kenapa Peterpan nggak mau tinggal sama Wendy seperti anak-anak Lostboys lainnya, tapi lebih memilih kesepian bersama Tinkerbell di Neverland sana. Respon inilah yang gue khawatir bakal terjadi setelah gue nyeritain Little Mermaid untuk mereka.

Jadi bagaimana Ozza merespon ini kemudian? Tak disangka dia hanya mengangguk-angguk sambil terus meminum susunya. Juga tak ada pertanyaan-pertanyaan memusingkan dan menyedihkan keesokan harinya. I was really wondering why. Tapi gue sabar menunggu sampe segala sesuatunya jelas. Dan itu ternyata terjawab pagi ini, dua hari kemudian.

Setiap pagi tiap memandikan mereka satu persatu, gue biasa bertanya apa mimpi mereka semalam. Khususnya Ozza karena ia begitu sensitif, supaya gue bisa tahu apa yang terjadi di alam bawah sadarnya. Nah, pagi ini ternyata Ozza nggak menunggu saatnya mandi untuk bercerita apa mimpinya semalam. Sesaat setelah bangun, ia langsung nyari gue dan berteriak gembira :

“Bu! Aku tadi malam mimpi si putri duyung, lho! Aku ada di istana dan aku bilang sama pangeran, kalo sebenarnya yang nyelamatin pangeran itu si putri duyung. Wah pangeran akhirnya menikah sama putri duyung! Putri duyung sangat bahagia! Pokoknya bu, meski di buku dia sangat sedih, dia bisa bahagia di mimpi aku! Putri duyung boleh tinggal di mimpi aku aja, nggak usah di buku!”

Gue terhenyak. Mau nangis, malu. Gue cuma bisa bilang terkagum-kagum, “Kakak Ozza hebat sekali, mau mikirin nasibnya putri duyung. Makasih ya Kakak Ozza, pasti putri duyung kalo tau, dia pilih tinggal di mimpinya Ozza aja daripada di buku”. Gue peluk dia bangga sekali, ternyata dia sudah belajar tidak hanya di tahap mau memikirkan nasib orang lain, tapi juga sudah bisa menemukan solusinya meski sangatlah sederhana. Sama bangganya gue saat ia bercerita beberapa minggu sebelumnya bahwa ia sudah bisa berteman baik dengan Sinta, teman TK-nya yang sangat pemalu dan tidak mau bermain dengan semua orang. Sinta adalah anak baru, dan Ozza memperhatikan bahwa ia sebenarnya sangat kesepian, jadi setiap kali dia ingat, Ozza berusaha mengajaknya bermain meski Sinta tetap diam. Sampe suatu hari, gurunya mengharuskan setiap anak memilih salah satu temannya sebagai pasangan bermain selama satu hari. Tak disangka ternyata Sinta memilih Ozza. Ozza bangga sekali.

Gue tau Ozza di usianya yang lima tahun belum lancar membaca, cuman bisa baca judul-judul, menulis huruf pun masih gede-gede keluar dari garis, bahasa inggrisnya masih sebatas animals, mengajinya baru buku umi dua, atau menghapal surat-surat pendek Al-Qur’an tak secepat teman-temannya yang lain karena dileskan ibunya mengaji-lah, calistung-lah, sempoa-lah, jarimatika-lah. For God’s sake, dia baru lima tahun! Kenyataannya gue malah lebih bangga sampe terisak-isak, kalo ternyata empati Ozza lebih cepat berkembang daripada kemampuannya yang lain. Persis seperti yang kami harapkan dari namanya, Irvana Ozza Al-Zakiya, anak cerdas yang suka menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Semoga hingga dewasa nanti hatimu tetap seputih salju, Nak, tak terpengaruh racun-racun jahat yang membuatmu jadi apatis atau sombong. We love you, Ozza!